
Di dalam hati Dinda pada saat itu tak ada lagi keinginan sedikit pun untuk memanggil Alex seperti dulu kala, dia menanamkan di dalam hatinya bahwa kini dia hanyalah seorang budak yang harus mengikuti semua keinginan Alex. Dan dia harus melakukan itu semua demi keselamatan sang ibu
Melihat tak ada perlawanan yang berarti dari Dinda, Alex pun mulai bangkit dari duduknya dan mencari keberadaan dompetnya. Alex mengeluarkan sebuah kartu dari dalam dompet tersebut dan memberikan kartu tersebut kepada Dinda
"Gunakan kartu itu untuk membayar semua biaya pengobatan ibu kamu, kamu juga bisa gunakan kartu itu untuk membeli apapun yang kamu inginkan"
Dinda hanya bisa terdiam pada saat itu, karena entah mengapa kini dia merasa bahwa hidupnya benar-benar terasa hampa
"Dan sampaikan peringatan saya kepada teman kamu, katakan kepada dia untuk tidak menawarkan kamu hal yang aneh-aneh lagi. Atau saya akan bertindak tegas walaupun dia istri dari Julian"
Mendengar Alex membawa nama Riska dalam permasalahan mereka, Dinda pun langsung menatap ke arah Alex dengan serius
"Kenapa? kamu ga terima dengan ucapan saya?"
"Karena menurut saya Riska ga ada sangkut pautnya di dalam permasalahan kita tuan," ucap Dinda dengan tegas
Alex pun tersenyum dingin
"Saya lupa bilang sama kamu kalau saya mengirim orang untuk selalu mengikuti kamu, saya bahkan tadi mendengar sendiri kamu meminta bantuan dia untuk melakukan itu lagi." ucap Alex dingin sambil tersenyum meremehkan
Dinda pun memejamkan kedua bola matanya untuk mengurangi perasaan di dalam hatinya yang sedang bergejolak, dia pun membuang nafasnya dengan kasar dan menatap ke arah Alex dengan serius
"Berarti seharusnya anda juga tau kalau saya tidak perlu melakukan itu, karena Riska sudah menyelesaikan semua biaya pengobatan untuk ibu saya menggunakan uang pribadinya. Dan saya berada di tempat tadi untuk menemani dia sebagai bentuk bayaran atas bantuan dia kepada saya," ucap Dinda sambil tersenyum dingin
Alex hanya bisa terdiam dengan wajah dingin untuk menutupi perasaan terkejut yang sedang dia rasakan, dia benar-benar baru mengetahui tentang hal tersebut
"Apa maksud kamu menjelaskan itu kepada saya? apa kamu mau bermain-main kepada saya?" tanya Alex dingin sambil menatap tajam
"Setidaknya saya harus menjelaskan bila sebenarnya anda tak perlu menanggung biaya pengobatan ibu saya, karena masalah itu sudah di selesaikan tuan"
"Apa kamu benar-benar ga bersedia untuk ada di samping aku Din? apa dulu kamu menghilang karena alasan yang sama? ga Din!! sekali ini aku akan paksa kamu ada di samping aku, karena kamu harus merasakan perasaan sakit yang aku rasakan"
__ADS_1
Alex pun menatap ke arah Dinda dengan tajam sambil mengeraskan rahangnya, dan lagi-lagi mereka hanya saling menyakiti perasaan mereka satu sama lain
"Apa kamu lupa siapa saya yang sekarang?" tanya Alex sambil tersenyum dingin
Dinda pun hanya bisa terdiam melihat sikap Alex yang seperti itu
"Saat ini says adalah pemimpin keluarga Wijaya, jadi saya bisa dengan mudah menghancurkan kamu hingga berkeping-keping. Apa kamu pikir urusan ibu kamu sudah selesai?" tanya Alex sambil tersenyum dingin
Dinda tetap hanya terdiam dan sekali ini ekspresi wajah Dinda mulai tegang karena Alex sudah mulai membahas tentang ibunya
"Kamu bisa saja sudah menyelesaikan biaya pengobatan ibu kamu, tapi saya juga bisa dengan mudah membuat itu semua menjadi gagal." ucap Alex penuh penekanan
Dinda pun hanya bisa menahan air matanya yang hendak keluar dan menundukkan kepalanya
"Kenapa kamu bisa berubah seperti ini? apa semua kesalahan cuma ada di aku." lirih Dinda di dalam hatinya
"Apa kamu mengerti apa yang saya ucapkan?"
"Saya mengerti tuan"
Dinda pun dengan patuh mengikuti keinginan Alex, tetapi entah mengapa Alex melihat tatapan mata Dinda saat itu hanya ada kekosongan dan hampa
"Apa sekarang saya sudah bisa pergi tuan? setidaknya saya harus menemani ibu saya saat ini"
"Kapan kamu akan mulai menjadi wanita saya?"
"Saat saya yakin keadaan ibu saya sudah baik-baik saja, maka saat itu saya akan datang untuk menyerahkan tubuh saya kepada anda tuan." ucap Dinda lirih
Alex pun memerintahkan supir untuk mengantarkan Dinda kembali ke rumah sakit, dan Alex langsung menghubungi orang yang selama ini selalu mengikuti Dinda dan ibunya. Alex hanya ingin memastikan ucapan Dinda yang sebelumnya
"Selamat malam pak"
__ADS_1
"Apa kamu sempat merekam percakapan Dinda dan temannya?"
"Mohon maaf pak, karena saya melakukan video call dengan anda saya tidak bisa merekam percakapan mereka pak"
"Siapa yang membayar biaya pengobatan ibu Sari?"
"Teman dari ibu Dinda pak"
"Apa kamu sempat dengar sesuatu? karena saya kurang jelas saat di bagian akhir"
"Sepengetahuan saya ibu Dinda meminta bantuan untuk sesuatu kepada temannya pak, tetapi teman ibu Dinda bilang dia akan membantu ibu Dinda tetapi tidak dengan cara itu. Saya juga tadi sempat mengikuti mereka saat mereka ke bagian administrasi pak"
"Lalu?"
"Saya lihat teman ibu Dinda yang menyelesaikan administrasi untuk ibu Sari pak, dan saya dengar teman ibu Dinda meminta bayaran dengan ibu Dinda menemani dirinya ke suatu tempat pak"
"Jadi semua ucapan Dinda tadi ga bohong ya? apa salah aku sama kamu Din? kenapa kamu lebih bersedia meminta bantuan orang lain dari pada aku"
Alex pun membuang nafasnya dengan kasar
"Saya mau ibu Sari mendapatkan semua yang terbaik selama dia ada di sana"
"Baik pak"
Alex pun langsung memutuskan sambungan teleponnya, Alex benar-benar merasa menyesal telah melempar ponselnya sebelum Dinda dan Riska menyelesaikan percakapan mereka. Dia juga merasa sedikit menyesal telah berbuat sesuatu yang berlebihan terhadap Dinda, tiba-tiba saja dia mulai mengingat sesuatu
"Astaga kenapa gw bisa lupa sama dia?"
Tanpa perduli bahwa itu sudah larut malam Alex kembali menghubungi seseorang, dia pun mengatakan apa yang dia inginkan dari orang tersebut. Dan sudah pasti orang tersebut menyetujui keinginan Alex
Di sepanjang perjalanan kembali ke rumah sakit Dinda hanya bisa terdiam, saat itu dia merasa baik hati dan jiwanya benar-benar kosong dan hampa. Dia merasa seluruh dunianya telah berhasil Alex hancurkan hingga tak tersisa
__ADS_1
Saat tiba di rumah sakit Dinda pun langsung menemani sang ibu, dengan sangat lembut Dinda mulai menggenggam tangan sang ibu. Dia hanya berharap bisa mendapatkan sedikit kekuatan dari sang ibu
"Ibu harus sembuh ya bu, cuma ibu penguat hati Dinda. Kalau ibu pergi meninggalkan Dinda maka Dinda pun akan meninggalkan dunia ini untuk selamanya bu," batin Dinda sambil meneteskan air matanya