
Dinda pun langsung di arahkan ke sebuah ruangan tempat Melinda menyelesaikan pekerjaannya selama ini, dan kini Dinda sudah duduk tepat di hadapan Melinda
Dinda langsung menyadari ada sesuatu yang telah terjadi saat dia berhadapan dengan gadis tersebut, karena sedari awal mereka bertemu Melinda langsung menunjukkan wajah kurang bersahabat
"Kalau boleh tau kenapa ibu ingin bertemu dengan saya?" tanya Dinda dengan sopan
Melinda pun langsung menampilkan sebuah senyuman yang terlihat sombong dan Dinda semakin yakin bahwa ada sesuatu yang telah terjadi
"Berapa banyak uang yang kamu dapatkan dengan menjadi simpanan Alex?" tanya Melinda dengan nada suara sinis
Degh... Ada sebuah perasaan sesak langsung menyerang hati Dinda pada saat itu, untuk sesaat Dinda memang sudah lupa bahwa status awalnya adalah wanita simpanan Alex
"Jangan bilang kamu mau mengelak dari ucapan saya," ucap Melinda penuh penekanan
Dinda pun hanya bisa terdiam karena saat itu dia sendiri tak tau harus berbuat apa, dia sadar akan posisi dirinya dan wanita yang ada di hadapannya saat itu adalah wanita yang akan menjadi tunangan Alex. Dinda hanya tak mau berbuat asal dan membuat kesalahan
"Apa yang sebenarnya ibu inginkan dari saya?" tanya Dinda dengan sopan
Melinda pun tersenyum penuh kesombongan
"Kamu tinggal bilang ke saya, berapa banyak uang yang Alex berikan ke kamu supaya dia bisa menyentuh tubuh kamu? dan saya menawarkan uang yang lebih banyak dari yang Alex tawarkan ke kamu, tapi dengan catatan kamu harus pergi meninggalkan Alex." ucap Melinda penuh penekanan
Entah mengapa saat itu Dinda tak ingin lagi harga dirinya di permainkan orang lain sesuka hati mereka, Dinda pun tersenyum tipis dan berhasil membuat Melinda tak suka melihat hal tersebut
"Sepertinya anda salah paham bu, saya ada di samping Alex bukan karena uang." ucap Dinda sambil tersenyum tipis
"Karena dia menggunakan ibu saya untuk mengancam saya," batin Dinda
Dinda sengaja mengucapkan kata-kata terakhirnya hanya di dalam hati untuk memberikan sebuah balasan kepada gadis yang ada di hadapannya tersebut
"Apa kamu ga bisa menyadari perbedaan di antara kita berdua? apa kamu benar-benar berpikir kalau kamu lebih pantas untuk berada di samping Alex?" tanya Melinda dengan senyuman yang terlihat sombong
Dinda pun akhirnya menyadari alasan Melinda meminta dia datang ke tempat itu, gadis tersebut hanya ingin menunjukkan kepada Dinda posisi mereka masing-masing. Dan hal tersebut membuat Dinda semakin tak ingin harga dirinya di permainkan dengan dengan yang namanya status sosial, karena hal tersebut sudah membuat Dinda benar-benar muak
"Jika ibu ingin saya melepaskan Alex dengan menawarkan uang yang lebih besar dari yang saya dapatkan dari Alex, ibu sudah melakukan sebuah kesalahan besar. Karena saya yakin ibu ga akan sanggup memberikan apa yang saya dapatkan dari Alex," ucap Dinda sambil tersenyum
__ADS_1
Dinda pun mulai bangkit dari duduknya
"Saya rasa urusan saya di tempat ini sudah selesai saya permisi dulu bu"
"Apa kamu benar-benar perempuan yang ga punya harga diri?"
Dinda pun tersenyum tipis
"Saya lupa bilang ke ibu kalau bukan saya penentu dari akhir hubungan kami bu, apapun yang ibu lakukan terhadap saya semua akan percuma bu. Karena hanya Alex yang bisa mengakhiri hubungan kami," ucap Dinda dengan tegas
Dinda menundukkan sedikit kepalanya tanda memberi salam dan segera meninggalkan tempat itu, sedangkan Melinda hanya bisa menahan diri melihat penolakan dari Dinda
FLASH BACK
Malam itu Melinda yang sudah mengetahui hubungan antara Dinda dan Alex memutuskan untuk menemui sang papa, sang papa pun membawa Melinda ke ruang kerjanya
"Ada apa?"
"Imel mau minta papa untuk membatalkan acara pertunangan Imel dan Alex pah," ucap Melinda dengan serius
"Apa kamu sadar dengan apa yang baru saja kamu ucapkan?"
"Apa alasannya?"
"Selama ini Alex selalu bersikap dingin terhadap Imel pah, dan ternyata Alex sudah memiliki hubungan dengan perempuan lain. Perempuan itu bahkan kini tinggal di apartemen Alex"
"Perempuan itu," ucap sang papa dengan santai
Melinda pun langsung menatap serius ke arah sang papa
"Papa juga tau tentang perempuan itu?"
"Apa kamu tau alasan kerja sama antara perusahaan kita dan Alex bisa terjadi?"
Melinda hanya terdiam sambil menatap sang ayah dengan wajah serius
__ADS_1
"Karena Alex meminta kamu sama papa untuk menjadi tunangannya, tetapi Alex juga mengatakan bahwa dia tak berjanji untuk menikahi kamu. Dia ingin menggunakan kamu untuk membalas perempuan itu, tapi dia juga mengatakan bahwa tidak ada yang tau kisah akhirnya"
Wajah Melinda pun menjadi terkejut mendengar hal tersebut dari sang papa, bagaimana mungkin sang papa tega melakukan hal tersebut hanya demi sebuah kontrak kerja sama
"Kenapa dari awal papa ga bilang sama Imel pah?"
"Untuk apa? supaya kamu bisa mengacaukan kerja sama kami?" tanya sang papa penuh penekanan
"Jadi maksud papa aku harus terima begitu aja?"
"Papa pikir kamu sudah pintar, ternyata kamu tetap gadis bodoh yang tidak mengerti apapun"
"Maksud papa?"
"Papa sudah mencari tau tentang perempuan itu, apa kamu pikir perempuan itu pantas untuk bersaing dengan kamu?"
"Tapi pah..."
"Ini saatnya papa menguji kamu Melinda, apakah kamu memang pantas untuk menjadi penerus papa? bagaimana papa bisa tenang melepaskan semua untuk kamu? kalau melawan seorang gadis biasa saja kamu seperti ini"
Malam itu Melinda mendapatkan penekanan dari sang papa, apapun caranya dia harus bisa mendapatkan Alex dari Dinda. Dengan menjadi istri dari seorang Alexander Wijaya akan membuat posisi mereka menjadi kokoh dan tak tergoyahkan
FLASH OFF
Dinda pun kembali ke tempat dia bekerja dan berusaha membuang jauh semua beban pikirannya pada saat itu, dia tak bisa berbohong bahwa hatinya terasa sakit dengan perbuatan Melinda pada saat itu. Semua yang Melinda katakan seolah mengingatkan kembali dirinya akan posisi dia di mata Alex
Selesai bekerja Dinda memutuskan untuk segera kembali ke apartemen mereka, sedangkan di tempat yang berbeda malam itu Alex harus pulang sedikit terlambat karena harus menghadiri sebuah acara makan malam. Saat Alex tiba di apartemen mereka Dinda masih berada di ruang tamu dan menyaksikan sebuah acara di televisi
"Kamu baru pulang kak"
Alex hanya terdiam dengan wajah dingin seperti biasanya, dia pun segera menuju ke arah kamar dan mengganti pakaian yang dia gunakan. Alex pun keluar kamar dan melihat Dinda masih dalam posisi yang sama
"Apa kamu sudah makan malam kak?"
"Kamu belum makan malam?"
__ADS_1
Dinda hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, tetapi entah mengapa Alex bisa merasakan bahwa ada yang tak beres dengan Dinda pada saat itu. Karena senyuman yang Dinda berikan terlihat getir
"Kenapa anak ini? tadi pagi bukannya kami baik-baik aja, pasti tadi terjadi sesuatu"