
Alex yang tak ingin memperjuangkan masalah mulai memutar percakapan ke arah yang lain, dengan sangat mudahnya suasana di antara mereka berdua kembali mencair. Tetapi tiba-tiba saja suara ponsel Alex pun mulai berdering dan Alex menjawab panggilan telepon tersebut
"Halo"
Dalam sekejap ekspresi wajah Alex berubah terlihat sedikit aneh seperti ada perasaan marah dan kecewa dari raut wajah Alex saat itu, dan Dinda pun hanya bisa terdiam sambil terus memperhatikan Alex
Saat Alex memutuskan sambungan teleponnya dia pun langsung menatap ke arah Dinda dengan tatapan mata yang sulit di artikan
"Kenapa kak? apa ada masalah?"
Alex hanya menunjukkan wajah kekecewaan dan tersenyum getir
"Masuk yuk udah malam"
"Ga mungkin ga ada masalah, tadi semuanya baik-baik aja. Setelah terima telepon muka kak Alex langsung beda" batin Dinda
Mereka pun kembali ke dalam kamar dan Alex langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, tetapi sekali ini terjadi sesuatu yang aneh karena posisi tubuh Alex membelakangi tubuh Dinda
Dinda berusaha untuk memastikan dengan dirinya yang memeluk tubuh Alex dari belakang, tetapi Alex memindahkan tangan Dinda dari tubuhnya
"Udah malam sebaiknya kita tidur"
Dinda pun semakin yakin dengan kecurigaan dirinya bahwa saat itu Alex sedang memiliki masalah dengan dirinya
"Kamu sebenarnya kenapa sih kak? kalau memang ada masalah lebih baik di bicarakan, apa karena orang tadi telepon kamu?"
Alex pun mulai memutar tubuhnya dan menatap ke arah Dinda dengan tatapan mata yang sendu
"Aku ga apa kok, maaf ya kalau aku bikin kamu jadi kepikiran. Tidur yuk"
Alex memberikan satu tangannya seperti biasa agar Dinda jadikan bantal
"Kamu yakin kak?" tanya Dinda dengan serius
"Iya, tadi aku dapat kabar di kantor lagi ada sedikit masalah. Itu aja kok"
Alex berusaha sekuat tenaga untuk menutupi segala kegundahan di dalam hatinya
"Apa kamu ga di ajari waktu kecil kak? kalau berbohong itu dosa"
"Aku ga bohong kok Din"
"Bukannya kita udah sepakat untuk saling jujur kak," ucap Dinda dengan lembut
Alex pun mendudukkan tubuhnya di dengan sempurna dan menatap Dinda dengan serius
"Sekarang kamu bilang sama aku sebenarnya kamu kenapa kak?"
__ADS_1
Alex masih tampak ragu untuk mengatakan itu semua
"Apa karena orang yang tadi telepon kamu?"
Alex pun menjawab dengan anggukan kepalanya
"Apa orang yang tadi telepon orang yang lagi pindahkan barang-barang kita dari apartemen?"
Lagi-lagi Alex menjawab dengan anggukan kepalanya
"Apa ini ada sangkut pautnya sama aku?"
Terlihat dengan jelas bahwa Alex enggan untuk menjawab pertanyaan yang satu itu, dan Dinda pun menatap Alex dengan lekat
"Aku ga ada sembunyikan apapun di apartemen kemarin, satu-satunya yang aku lakukan dan kak Alex ga tau cuma itu. Apa mungkin karena itu? sebaiknya aku perjelas dari pada masalah ini berlarut-larut"
"Apa mereka kasih laporan ke kamu kalau mereka menemukan pil penunda kehamilan yang sudah konsumsi?"
Alex pun tak bisa lagi menutupi rasa kecewa yang sedang dia rasakan pada saat itu, dia hanya bisa terdiam sambil menundukkan kepalanya
"Apa dugaan aku benar kak?"
Alex pun membuang nafasnya dengan kasar
"Kamu benar Din, mereka baru bilang ke aku kalau mereka menemukan pil penunda kehamilan. Dan mereka bilang sepertinya itu sudah di konsumsi," ucap Alex lirih sambil menundukkan kepalanya
Alex merasakan hatinya benar-benar terasa sakit, pengakuan Dinda bisa menyatakan dengan jelas bahwa Dinda tak ingin memiliki keturunan bersama dia. Alex pun langsung menatap Dinda dengan tatapan mata penuh kekecewaan
"Apa kamu benar-benar ga ingin punya anak dari aku Din?"
Dinda pun mulai memegang kedua pipi Alex agar kedua bola mata mereka dapat saling bertemu
"Aku harus jujur kak, kalau dengan keadaan kita yang kemarin aku memang ga memiliki keinginan untuk punya anak dari kamu." ucap Dinda dengan serius
Alex pun hanya bisa terdiam dan memasang ekspresi yang sama
"Pasti aku sudah memberikan banyak luka di hati kamu ya Din, padahal dengan adanya anak di antara kita kamu bisa mengikat aku dengan erat"
"Aku cuma ga mau saat nanti kamu sudah bosan dengan tubuh aku, kamu akan pergi tinggalin aku dan bawa anak aku"
"Kenapa kamu bisa punya pikiran seperti itu Din?"
Dinda melepaskan senyuman yang hangat
"Wajar dong kak, apa kemarin hubungan kita baik-baik aja?"
"Tapi kan Din..."
__ADS_1
"Aku bilang itu kemarin kak, bukan saat ini." ucap Dinda dengan lembut sambil tersenyum hangat
"Terus sekarang apa kamu masih punya pemikiran yang sama?" tanya Alex dengan serius
"Seluruh wanita di dunia ini hanya akan merasa hidupnya telah sempurna saat wanita tersebut memiliki keturunan kak, dan hidup wanita itu akan menjadi semakin sempurna bila keturunan yang dia miliki dari orang yang dia cintai." ucap Dinda dengan lembut
Alex pun langsung memeluk tubuh Dinda dengan sangat erat
"Aku minta maaf ya Din, seharusnya aku bisa lebih cepat lagi berubah untuk membahagiakan kamu." ucap Alex dengan bersungguh-sungguh
"Ga pernah ada kata terlambat untuk melakukan sesuatu kak, setidaknya sekarang kita lagi berusaha untuk menuju kata bahagia di dalam hubungan kita." ucap Dinda dengan lembut
Alex pun semakin mengeratkan pelukannya
"Kamu bener Din, sekarang tujuan hidup aku hanya membuat kamu bahagia" batin Alex
Tiba-tiba saja Alex menatap ke arah Dinda dengan senyuman penuh arti
"Apa maksudnya kak?" tanya Dinda dengan wajah malas
"Kalau sekarang kamu sudah bersedia kan menjadi ibu dari anak-anak aku?"
"Terus?"
"Pulang dari sini kita langsung periksa ya," ucap Alex bersemangat
"Periksa apa kak?" tanya Dinda dengan polosnya
"Kita periksa apa obat yang kamu minum itu bisa mengganggu rencana aku?"
Dinda pun langsung menatap tajam ke arah Alex
"Kamu punya rencana apa lagi kak?"
Alex pun langsung menarik tubuh Dinda masuk ke dalam pelukan hangatnya
"Aku punya rencana menanam benih padi di perut kamu sayang"
Dinda pun hanya bisa memasang wajah malas
"Karena dengan kehadiran mereka aku yakin kamu ga akan meninggalkan aku begitu saja Din, seberat apapun cobaan yang akan menghampiri kita di masa depan" batin Alex dan semakin mengeratkan pelukannya
Permasalahan di antara mereka dapat selesai begitu saja, kini mereka berdua seolah selalu menemukan jalan yang mudah untuk menyelesaikan masalah yang menghampiri mereka
Saat ini Alex dan Dinda sedang berusaha untuk mempererat hubungan di antara mereka berdua, mereka sedang berusaha menebus semua waktu yang telah terbuang selama ini dengan baik
Tetapi mereka tidak mengetahui bahwa sesaat lagi akan ada sebuah masalah sudah menanti di hadapan mereka, sebuah masalah yang akan menguji ketulusan cinta mereka untuk bisa berdamai dengan masa lalu
__ADS_1