
Hari itu kelas Alex selesai lebih dulu dan dengan setia dia menunggu Dinda di kantin, saat Dinda keluar kelas dia membaca pesan yang di kirimkan oleh Alex
"Kelas aku udah selesai, aku tunggu kamu di kantin"
"Den..."
"Ayo kita pulang"
Dinda di dalam mobil terlihat sedang memikirkan sesuatu dan Alex menyadari hal tersebut setelah melirik ke arah Dinda beberapa kali
"Kamu lagi mikirin apa?"
"Saya cuma kepikiran tentang mbak Valen aja den"
"Kenapa kamu harus pikirin masalah dia? kenapa kamu ga pikirin aku yang lagi berjuang untuk kamu"
Dinda hanya bisa memasang wajah malas pada saat itu
"Apa kamu bisa bantu mbak Valen den?"
"Kenapa saya harus bantu dia?" tanya Alex dengan dingin
"Karena aku benar-benar merasa kasihan dengan keadaan mbak Valen," ucap Dinda lirih
Alex pun langsung meletakkan tangannya di ujung kepala Dinda dengan lembut
"Ya udah nanti aku coba bilang ke papa, tapi aku ga bisa jamin apapun keputusan akhir papa ya"
Dinda pun langsung menatap ke arah Alex dengan tatapan mata tak percaya
"Kamu serius den?"
Alex pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum tipis
"Karena mbak Valen cantik ya den?" tanya Dinda dengan nada suara yang terdengar sedikit sinis
"Maksud kamu?"
__ADS_1
"Ya karena mbak Valen itu cantik makanya den Alex mau bantu dia ya?"
Alex pun langsung menepikan mobilnya dan menatap Dinda dengan wajah serius
"Siapa yang bilang dia cantik?"
"Saya yang barusan den, lagian seluruh kampus juga kan memang bilang dia perempuan paling cantik di kampus kita"
"Pertama aku mau bantu dia karena aku ga mau lihat muka sedih kamu, dan yang bagi aku kamu perempuan paling cantik." ucap Alex penuh keyakinan
Entah dari mana datangnya keberanian Dinda pada saat itu karena dia berani menunjukkan wajah mengejek di hadapan Alex pada saat itu
"Kenapa muka kamu begitu?"
"Aku masih ingat dulu den Alex ga mau bantu aku waktu aku di marahi sama papa den Alex, padahal waktu itu den Alex yang pecahin vas keramik di rumah." ucap Dinda dengan nada suara sinis
"Din kamu tau kan sikap aku dulu," ucap Alex dengan wajah panik
Dinda hanya melirik sekilas ke arah Alex dengan wajah sinis
"Ya aku minta maaf karena aku ga langsung mengaku salah waktu itu, tapi ga lama dari itu mama kasih kamu hadiah kan?"
Alex pun membuang nafasnya dengan kasar sambil menggelengkan kepalanya
"Karena setelah itu aku mengakui kesalahan aku sama mama Din," ucap Alex dengan nada suara lemah
"Kamu pasti lagi bohong ya den," ucap Dinda sambil tertawa kecil
Dinda tak mau mempercayai ucapan Alex sama sekali pada saat itu dan Alex pun menatap serius ke arah Dinda
"Itu benar Din, itu juga alasan Alexa sering minta kalian untuk menjauh kalau ada aku." ucap Alex dengan bersungguh-sungguh
"Alexa cuma berusaha untuk melindungi kamu dari aku, padahal aku cuma mencari waktu untuk meminta maaf sama kamu. Tapi ya kamu tau sendiri bukan hal yang mudah buat aku meminta maaf sama seseorang," ucap Alex penuh ketulusan
Dinda hanya bisa terdiam pada saat itu, logikanya meminta dia untuk tak mempercayai itu semua tetapi hati kecilnya memaksa dia untuk percaya semua penjelasan Alex. Karena tatapan mata Alex dan seluruh ucapannya saat itu benar-benar terlihat tulus
Waktu pun terus berlalu dan tanpa terasa hubungan antara Alex dan Dinda pun menjadi semakin dekat dengan sendirinya, Alex terus saja menunjukkan sikap lembut dan perhatian terhadap Dinda. Alex hanya ingin menunjukkan betapa tulus perasaan yang dia punya untuk Dinda
__ADS_1
Dan hari itu Alex meminta Dinda untuk menemani dirinya pergi ke sebuah toko buku, Alex ingin mencari sebuah buku yang dia butuhkan sebelum mereka kembali ke kediaman keluarga Wijaya
"Kalau ada yang mau kamu beli sekalian ya" ucap Alex dengan lembut
"Ya den"
Alex pun mulai mencari buku yang dia mau, sedangkan Dinda hanya berkeliling dan melihat-lihat karena saat itu dia merasa sedang tak membutuhkan apapun. Setelah Alex mendapatkan buku yang dia butuhkan dia pun segera menghampiri Dinda dan saat itu Dinda tak memegang benda apapun di tangannya
"Kamu ga mau beli sesuatu?"
Dinda pun menjawab dengan menggelengkan kepalanya
"Ya udah kalau gitu kita bayar dulu ya"
"Ya den"
Mereka pun langsung melangkahkan kakinya ke arah kasir, tetapi sesaat sebelum mereka mencapai meja kasir tiba-tiba saja Alex menghentikan langkah kakinya dan berhenti di tumpukan boneka
Alex langsung mengambil sebuah boneka beruang yang terlihat imut dengan kedua bola mata yang besar dan berbulu coklat muda, tanpa rasa malu sama sekali Alex terus membawa boneka tersebut ke arah kasir. Sedangkan Dinda hanya bisa menatap ke arah Alex sambil mengerutkan keningnya
"Kenapa den Alex pegang boneka itu? jangan bilang kalau tadi den Alex, akh ga mungkin den Alex bukan tipe orang yang seperti itu"
Alex tau dengan pasti apa yang ada di dalam pikiran Dinda pada saat itu tetapi dia hanya tersenyum tipis tanpa memberikan penjelasan apapun, Alex pun langsung menyelesaikan pembayaran lalu memberikan boneka tersebut kepada Dinda
"Buat saya den?"
Alex pun menganggukkan kepalanya sambil mengangguk, Dinda hanya terdiam karena merasa terkejut
"Tadi aku sempat lihat kamu liatin boneka ini, jadi aku pikir kamu pasti suka sama boneka ini." ucap Alex dengan lembut
"Jadi den Alex benar-benar liat waktu aku perhatiin boneka ini tadi, bahkan hal sekecil itu pun den Alex perhatikan. Akh bisa gila sendiri aku kalau begini!!"
"Sebelum pulang kita makan dulu ya," ucap Alex dengan lembut sambil tersenyum
Dinda hanya bisa menjawab dengan anggukan kepalanya, Dinda tak berani menatap ke arah wajah Alex sama sekali karena jantungnya berdetak dengan sangat cepat setiap dia menatap ke arah wajah tampan tersebut
Alex membawa Dinda ke sebuah rumah makan yang berada di tempat itu, mereka pun mulai memesan menu yang akan mereka santap dan lagi-lagi Dinda merasakan debaran jantungnya berdetak lebih cepat saat bertatapan mata dengan Alex
__ADS_1
Dan tanpa sadar Dinda pun mulai menunjukkan hal tersebut secara terang-terangan, dan Alex pun akhirnya mulai menyadari hal tersebut
Alex mencoba beberapa kali untuk mengajak Dinda berbincang, dan Dinda hanya menatap sekilas lalu membuang kembali pandangan matanya ke sembarang arah. Dan sudah pasti seorang Alexander Wijaya tidak suka dengan perubahan sikap Dinda yang seperti itu