
Alex pun mulai melangkahkan kakinya dengan pasti ke arah Dinda dan Alexa, dan mulai mengikuti mereka yang mulai keluar dari gedung tersebut
"Kamu mau ke mana Dinda?" tanya Alex dengan suara sedikit keras
Dinda dan Alexa pun langsung mengehentikan langkah kaki mereka, dan Alexa mendekatkan bibirnya ke telinga Dinda
"Kamu langsung ke parkiran aja supir kakak sudah tunggu kamu di sana, sebaiknya untuk sementara kamu ga usah pulang ke rumah dulu supaya kamu ga ketemu kak Alex. Nanti supir kakak antar kamu ke apartemen kak Alexa, kamu aman di sana." bisik Alexa
Dinda pun melanjutkan langkah kakinya, melihat hal tersebut Alex yang semakin merasa tak tenang pun mempercepat langkah kakinya
"Kamu mau pergi ke mana Dinda?" tanya Alex dengan volume suara yang semakin besar
Pandangan mata Alex hanya tertuju kepada Dinda yang berusaha melangkahkan kakinya dengan cepat, tiba-tiba saja Alexa memegang tangan Alex dengan wajah tidak bersahabat
"Cukup kak!! sudah terlalu banyak luka yang keluarga kita berikan kepada Dinda selama ini!!" ucap Alexa penuh penekanan
Mendengar ucapan Alexa sontak saja membuat dia langsung menatap tajam ke arah Alexa sambil mengerutkan keningnya
"Apa maksud kamu Alexa? apa kamu mengetahui sesuatu yang aku ga ketahui selama ini?"
Alex sedang menatap tajam ke arah Alexa, tanpa menyadari bahwa saat itu Dinda sudah menghilang dari pandangan mata mereka. Karena Dinda terus mempercepat langkah kakinya
Tetapi sebelum Dinda tiba di mobil Alexa dia pun harus menghentikan langkah kakinya, karena lagi-lagi dia harus berhadapan dengan laki-laki yang pernah menyentuh tubuhnya untuk pertama kali
"Kamu mau pergi ke mana? saya sengaja datang ke tempat ini hanya untuk bertemu dengan kamu"
Sekali ini Dinda tak menunjukkan perasaan takut seperti saat pertama kali mereka bertemu, mungkin saja karena semua beban hati yang sedang Dinda rasakan memberikan dia kekuatan yang cukup besar
"Apa mau anda yang sebenarnya tuan?"
__ADS_1
"Saya hanya mau berbicara empat mata sama kamu, dan saya janji saya ga akan melakukan apapun terhadap kamu." ucap pria tersebut dengan lembut
Di tempat yang berbeda ada Alex yang sedang menatap Alexa dengan tajam
"Sekarang lepasin tangan aku karena aku harus mengejar Dinda, tapi kamu harus ingat kalau kamu masih hutang sebuah penjelasan ke aku Alexa." ucap Alex penuh penekanan
Alex pun menarik tangannya dengan kasar untuk melepaskan tangan Alexa, tanpa menunda waktu Alex langsung berlari sekuat yang dia bisa sambil terus memanggil nama Dinda
Mendengar suara Alex yang semakin mendekat pun membuat wajah Dinda menjadi panik, dengan mudah pria tersebut bisa mengetahui apa yang ada di dalam pikiran Dinda pada saat itu
"Saya bisa membawa kamu pergi dari sini untuk menghindari dia," ucap pria tersebut penuh keyakinan
Tanpa berpikir panjang Dinda pun langsung menganggukkan kepalanya, dan pria tersebut langsung membuka pintu belakang mobilnya. Dengan cepat Dinda langsung masuk ke dalam mobil tersebut, dan saat pria tersebut akan masuk ke dalam mobil tangan Alex berhasil memegang salah satu tangan pria tersebut
"Dia perempuan saya, dan saya akan izinkan laki-laki lain berada di dekat dia." ucap Alex penuh penekanan dengan wajah penuh amarah
Pria tersebut kembali menurunkan salah satu kakinya yang sudah berada di dalam mobil tersebut, lalu menunjukkan wajahnya ke arah Dinda sambil tersenyum hangat
"Kamu tenang aja ya, biar saya yang bicara sama dia." ucap pria tersebut dengan lembut
"Tapi tuan"
Pria tersebut hanya tersenyum hangat seolah mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja, pria tersebut menutup pintu mobilnya dan mulai melangkahkan kakinya ke arah Alex dengan wajah serius
"Sebagai seorang Alexander Wijaya apa kamu ga malu melakukan ini semua?"
Alex berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan tubuhnya tetapi hasilnya hanya sia-sia, Alex pun mulai menatap tajam ke arah pria tersebut
"Apa hak kamu untuk menilai orang lain? apa kamu sendiri merasa bahwa kamu adalah orang yang bersih?" tanya Alex dengan sinis
__ADS_1
Pria tersebut pun tersenyum dengan santai, perbedaan usia di antara mereka bisa membuat mereka terlihat berbeda jauh saat mengendalikan emosi mereka
"Bagaimana pun juga saya cuma manusia biasa, tapi selama ini saya belum pernah menghancurkan masa depan seorang gadis. Hal itu juga yang membuat saya merasa harus bertanggung jawab kepada dia," ucap pria tersebut dengan santai sambil mengarahkan ekor matanya ke arah Dinda
Mendengar hal tersebut Alex semakin terbakar emosi dia pun mencoba kembali melepaskan diri
"Bertanggung jawab apa maksud kamu? dia itu istri saya!!" teriak Alex sekuat tenaga
Entah mengapa tiba-tiba saja pria tersebut menampilkan sebuah senyuman yang terlihat meremehkan saat mendengar ucapan Alex, ternyata pria tersebut sudah mengetahui semua yang terjadi antara Alex dan Dinda
Saat pertama kali bertemu dengan Dinda pria tersebut langsung memerintahkan sekretaris pribadinya untuk mencari tau semua tentang Dinda dan Alex, dan itu alasan yang membuat pria tersebut berada di sana
Bagi pria tersebut semua yang Alex lakukan adalah sesuatu yang aneh, dan dia memang sudah bersiap untuk membawa Dinda pergi dari tempat itu seandainya Dinda merasa terluka berada di tempat itu
"Apa laki-laki seperti kamu masih pantas untuk menggunakan status suami? apa otak kamu itu bermasalah? sampai kamu tidak sadar kesalahan fatal yang sudah kamu lakukan hari ini"
'Itu semua bukan urusan kamu"
Pria tersebut melangkahkan kakinya mendekat ke arah Alex, dia hanya tak ingin Dinda mendengar apa yang akan dia katakan selanjutnya kepada Alex
"Di mata saya kamu ga lebih dari seorang laki-laki pengecut, kamu mengancam kelemahan seorang gadis lemah supaya gadis itu bersedia di samping kamu. Bagi saya semua yang kamu lakukan kepada dia adalah tindakan yang konyol untuk di lakukan seorang laki-laki"
Alex pun menjadi terdiam dan pria tersebut mulai melangkahkan kakinya ke arah mobil, saat pria tersebut membuka pintu mobilnya Alex berteriak agar Dinda bisa mendengar apa yang dia katakan
"Kamu harus ingat kalau sekarang kamu sudah menjadi istri aku Din, dan sampai kapan pun itu ga akan pernah berubah!!"
Dinda hanya bisa terdiam sambil menundukkan kepalanya, sedangkan pria tersebut memilih untuk diam di sepanjang perjalanan. Dia hanya ingin memberikan Dinda waktu untuk menenangkan diri
Pria tersebut membawa Dinda ke sebuah rumah makan dengan nuansa yang tenang, dia hanya ingin membuat Dinda tak lagi merasa takut saat berhadapan dengan dirinya
__ADS_1