
Tanpa menunda waktu Dinda segera menuju ke arah rumah sakit yang di maksud, saat itu hati Dinda sudah terasa tak menentu. Di sepanjang perjalanan Dinda selalu berdoa agar keadaan ibunya baik-baik saja
Ternyata saat akan kembali dari rumah sakit ibu Sari tak bisa menghindari sebuah motor yang melaju dengan sangat cepat, sesampainya di rumah sakit Dinda pun sedikit berlari menuju ke bagian informasi untuk mencari tau keberadaan sang ibu
Dinda pun langsung menuju ke tempat sang ibu sedang mendapatkan penanganan, Dinda tak tau lagi apa yang harus dia lakukan pada saat itu. Dia hanya bisa berharap dan terus berharap sang ibu tak akan meninggalkan dirinya untuk selamanya, saat sang dokter yang menangani ibu sari keluar dari ruangan tersebut Dinda pun langsung menghampiri dokter tersebut
"Bagaimana keadaan ibu saya dok?"
"Apa anda keluarga dari pihak pasien?"
"Saya anaknya dok"
Sang dokter membawa Dinda ke ruang kerjanya terlebih dahulu untuk menjelaskan keadaan sang ibu, sang dokter menjelaskan bahwa mereka sudah memberikan pertolongan pertama untuk sang ibu. Dinda pun bisa bernafas sedikit lega karena sang ibu masih bertahan hingga saat itu
Tetapi sang dokter juga menjelaskan bahwa penyakit yang di derita sang ibu sudah semakin parah, operasi untuk sang ibu sudah tak dapat lagi di tunda atau bisa membahayakan nyawa sang ibu
Bagaikan tersambar petir di siang bolong saat Dinda mendengar berita tersebut, dengan perasaan yang semakin tak menentu Dinda pun memilih untuk menemui sang ibu yang sudah di pindahkan ke ruang rawat
Dinda mulai mendudukkan tubuhnya di kursi yang berada di samping ranjang sang ibu, Dinda pun menatap wajah sang ibu yang masih saja memejamkan kedua bola matanya. Dia pun mulai menggenggam tangan sang ibu dengan lembut
"Apa yang harus Dinda lakukan sekarang bu? Dinda cuma punya ibu, tapi sampai detik ini Dinda masih belum berhasil mengumpulkan uang untuk biaya operasi ibu." ucap Dinda lirih sambil meneteskan air matanya
Dinda pun hanya menangis tanpa suara, dia benar-benar tak tau lagi harus berbuat apa untuk menyelamatkan nyawa sang ibu. Saat itu Dinda merasa seluruh dunianya akan runtuh dan hancur berantakan
Di tempat yang berbeda ada Alex yang baru saja mendudukkan tubuhnya di bangku kebesarannya, dan tiba-tiba saja ponselnya berdering karena orang yang dia kirim untuk mengikuti ibu Sari selama ini menghubungi dirinya
"Ya"
"Saya cuma mau mengabarkan bahwa ibu Sari baru saja mengalami kecelakaan pak"
"Di rawat di mana?'
"Rumah sakit Tiara bunda pak"
__ADS_1
"Apa Dinda ada di sana?"
"Benar pak, ibu Dinda sedang menemani ibu Sari di ruang rawat"
Tiba-tiba saja hati Alex terasa sakit saat mendengar hal tersebut
"Pasti sekarang kamu lagi merasa sedih ya Din, setelah apa yang tadi aku lakukan ke kamu sekarang kamu harus melihat keadaan ibu kamu seperti itu." batin Alex penuh penyesalan
"Lalu ada kabar apa lagi?"
"Saya sudah mencari tau pak, sepertinya operasi untuk ibu Sari sudah tidak bisa di tunda lagi. Bila hal tersebut masih di lakukan maka bisa membahayakan nyawa ibu Sari"
"Terus ikuti perkembangan di sana dan jangan pernah biarkan Dinda lepas dari pemantauan kalian"
"Baik pak"
Alex pun langsung memutuskan sambungan teleponnya, tiba-tiba saja perasaan sakit yang Alex rasakan langsung di kalahkan oleh perasaan amarah yang dia miliki. Berita tentang keadaan ibu Sari membuat Alex langsung mengingat kembali semua pengkhianatan Dinda di masa lalu
"Aku mau lihat pilihan kamu saat ini Din, sekali ini kamu akan memilih yang mana Din? kamu akan meminta bantuan dari aku atau lebih memilih menjual tubuh kamu seperti dulu lagi." batin Alex sambil mengeraskan rahangnya
Detik demi detik terus berlalu bahkan hari pun sudah berganti dengan hari yang lainnya, Dinda benar-benar merasa sudah buntu akal dan Alex pun semakin bersemangat menunggu keputusan akhir yang akan Dinda ambil untuk menyelesaikan masalah tersebut
Dinda memandang wajah sang ibu yang terlihat pucat dan masih belum sadarkan diri, lagi-lagi air mata Dinda terjatuh dengan sendirinya. Dinda tak kuasa menahan perasaan sakit di dalam hatinya
"Aku bisa cuma berdiam diri dan membiarkan ibu pergi dari sisi aku selamanya, aku akan melakukan apapun supaya aku bisa menyelamatkan nyawa ibu. Tapi apa aku benar-benar harus melakukan itu lagi?"
Dinda kembali menatap sang ibu dan dia pun mulai mengumpulkan kekuatan di dalam hatinya
"Maafin Dinda ya Bu, Dinda harus melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Dinda harus berusaha untuk menyelamatkan ibu karena Dinda ga bisa melanjutkan hidup Dinda kalau ga ada ibu," ucap Dinda lirih lalu mencium kening sang ibu dengan lembut
Dinda pun mulai keluar dari ruang rawat sang ibu lalu mulai menghubungi seseorang
"Halo"
__ADS_1
"Apa kabar Ris?"
"Maaf dengan siapa ya?"
"Ini aku Dinda"
"Astaga ini beneran kamu Din?" tanya Riska bersemangat
"Ya ini aku Ris"
"Aku seneng banget akhirnya bisa dengar suara kamu lagi Din"
"Maaf ya karena baru sekarang aku hubungi kamu"
"Ga apa kok, ngomong-ngomong gimana kabar kamu Din?"
"Aku baik Ris"
"Syukur deh Din kalau kamu baik-baik aja, ada apa nih kamu telepon aku? apa sekarang kamu lagi kangen sama aku?"
"Aku hubungi kamu saat ini karena aku butuh bantuan dari kamu Ris," ucap Dinda nada suara yang terdengar serius
"Kamu butuh bantuan apa dari aku Din?"
"Apa kamu bisa bantu aku seperti dulu lagi Ris?" tanya Dinda dengan lirih
Di seberang sana senyuman di wajah Riska pun langsung menghilang mendengar ucapan terakhir dari Dinda, Riska memang belum mengetahui apa yang menimpa Dinda pada saat itu. Tapi dia benar-benar tak ingin sahabatnya tersebut mengulangi perbuatan itu
"Kamu sekarang ada di mana Din?" tanya Riska dengan nada suara serius
"Aku lagi ada di rumah sakit Tiara Bunda Ris, dan ibu aku segera di operasi." ucap Dinda di akhiri dengan tangisan
"Kamu jangan lakukan apapun dan tunggu aku datang ke sana ya, sekarang juga aku ke sana." ucap Riska dengan tegas
__ADS_1
Tanpa menunda waktu lagi Riska pun segera bergegas untuk menuju ke rumah sakit di mana Dinda berada, dia hanya ingin menghalangi sahabatnya tersebut melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya