
Saat mereka sudah berada di dalam mobil Alex pun mulai menatap Dinda dengan seksama, dia benar-benar tak menyukai perubahan sikap Dinda yang seperti itu
"Kamu kenapa?" tanya Alex dengan serius
"Memang saya kenapa den?"
Lagi-lagi Dinda tak mau menatap lama ke arah Alex
"Coba lihat ke arah aku"
Dinda pun menatap ke arah Alex dan saat pandangan mata mereka bertemu secara spontan Dinda langsung membuang pandangan matanya, Alex yang sudah mulai tak sabar pun langsung memegang kedua pipi Dinda agar pandangan mata mereka bisa saling bertemu
"Kenapa dari tadi sikap kamu aneh begini? apa di muka aku ada yang aneh? kenapa kamu ga mau lihat aku?" tanya Alex dengan serius
Hati Dinda benar-benar berdetak dengan sangat cepat saat wajah tampan Alex tepat berada di hadapannya, Dinda pun langsung menepis kedua tangan Alex dan membuang kembali pandangan matanya
"Saya biasa aja kok den"
"Apa aku ada buat salah sama kamu?"
"Ga kok den," jawab Dinda dengan cepat
Alex yang salah sangka pun memilih untuk diam dan sibuk mencari alasan yang membuat sikap Dinda berubah , setelah cukup lama Dinda pun mulai menatap ke arah Alex yang masih setia berdiam diri dan tak mulai melajukan mobilnya
"Kok ga jalan den?"
Alex pun mulai menatap ke arah Dinda dengan wajah serius
"Aku ga akan jalankan mobil ini, sebelum kamu kasih tau ke aku alasan sikap kamu yang aneh itu"
Dinda pun hanya bisa terdiam karena merasa bingung harus menjawab apa tentang hal tersebut
"Apa kamu benar-benar membenci aku Din?"
"Ga kok den," jawab Dinda dengan cepat
"Terus kenapa kamu yang sekarang bahkan ga mau untuk menatap aku Din?" tanya Alex dengan lirih
__ADS_1
"Astaga!! aku harus jawab apa dong? masa aku harus jawab jujur kalau aku ga bisa kendalikan jantung aku sendiri waktu lihat wajah den Alex!!" gerutu Dinda di dalam hatinya
"Coba kamu kasih tau ke aku Din, apa lagi yang harus aku ubah supaya kamu ga semakin menjauh seperti ini?" ucap Alex dengan lirih
Dinda pun langsung menatap ke arah Alex dan untuk pertama kalinya Dinda melihat ekspresi wajah Alex yang terlihat sedih, selama ini Dinda memang sudah melihat senyuman di wajah Alex tapi ini pertama kalinya dia melihat ekspresi wajah Alex yang seperti itu
"Bukan gitu den, saya bukan berniat menjauh dari den Alex kok." ucap Dinda dengan wajah bingung
"Terus kamu kenapa?" ucap Alex dengan lirih sambil menatap sendu ke arah Dinda
Melihat ekspresi wajah Alex saat itu membuat Dinda tak dapat lagi mengendalikan kata-kata yang akan keluar dari mulutnya
"Karena saya mulai ga bisa kendalikan hati saya kalau saya lihat wajah den Alex terlalu lama!!" ucap Dinda sambil sedikit berteriak
Alex hanya bisa membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna karena merasa terkejut, untuk sesaat bahkan Alex seperti merasa seluruh otaknya menjadi kosong mendengar pengakuan Dinda. Sedangkan Dinda yang menyadari perbuatannya langsung memasang wajah panik
"Eh itu den.. Bukan itu maksud saya... Itu..."
Alex yang mendapatkan kembali kesadarannya pun langsung menatap ke arah Dinda dengan lembut sambil tersenyum hangat
"Jadi kamu mulai ada perasaan sama aku?" tanya Alex dengan lembut
"Astaga Dinda apa yang sudah kamu lakukan? kenapa mulut kamu itu ga bisa kamu jaga? sekarang aku ngerasa terjebak sendiri!!" gerutu Dinda di dalam hatinya
Alex pun memegang kedua pipi Dinda dan memutar wajah Dinda agar pandangan mata mereka dapat saling bertemu
"Apa ini artinya perjuangan aku ga sia-sia?" tanya Alex dengan lembut sambil tersenyum
Dinda pun menepis tangan Alex sambil menatap tajam
"Ya kamu menang den, jadi saya harap den Alex mulai hentikan semua sikap lembut den Alex ke saya. Tolong jadi den Alex yang seperti dulu!!" ucap Dinda penuh penekanan
Tiba-tiba saja Alex mencium ujung kepala Dinda dengan lembut
"Ga mungkin aku bisa lakuin itu Din, kamu ga tau seberapa bahagianya hati aku saat ini." ucap Alex dengan lembut
"Kamu ngapain sih den?" ucap Din sambil memegang kepalanya di tempat Alex mencium dirinya
__ADS_1
"Apa salahnya aku cium pacar aku sendiri? yang penting kan aku ga melebihi batas," ucap Alex dengan santai
"Siapa yang bilang saya mau jadi pacar kamu den?" tanya Dinda sambil membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna
"Tadi kamu bilang kamu udah ada perasaan sama aku, jadi ga mungkin dong kamu tolak aku lagi"
Dinda pun membuang nafasnya dengan kasar lalu menatap serius ke arah Alex
"Saya cuma bilang hati saya mulai ada perasaan yang berbeda sama den Alex, tapi saya ga bilang bersedia jadi pacar den Alex." ucap Dinda dengan tegas
"Maksud kamu Din?"
"Kenapa masih di tanya lagi sih den?"
"Apa kamu mau bahas masalah status lagi?" tanya Alex dengan wajah serius
"Itu den Alex sendiri sudah tau jawabannya"
Alex pun membuang nafasnya dengan kasar dan mulai menatap ke arah Dinda dengan serius
"Sampai di titik apa supaya aku bisa menyamakan status aku sama kamu?" tanya Alex dengan serius
Dinda pun hanya bisa terdiam dengan wajah bingung mendengar pertanyaan Alex pada saat itu
"Apa aku harus melepaskan status aku sebagai anggota keluarga Wijaya?"
Baik kata-kata maupun sikap Alex terlihat penuh keyakinan membuat jantung Dinda serasa akan berhenti berdetak saat itu juga, Dinda bahkan tak mempunyai keberanian untuk membayangkan itu semua. Dinda tak bisa membayangkan keributan yang akan terjadi bila Alex benar-benar melakukan hal tersebut
"Jangan suka ngomong sembarangan den," ucap Dinda dengan tegas
"Aku ga sembarang ngomong kok Din, tapi kalau kamu memang minta sampai di titik itu. Aku ga akan pikir dua kali untuk melepaskan nama keluarga aku." ucap Alex dengan bersungguh-sungguh
"Saya ga mau kalau den Alex sampai melakukan hal itu"
"Jadi aku harus bagaimana dong Din? aku ga mau dengar kamu minta aku untuk menjauh lagi," ucap Alex dengan tegas
Dinda serasa hampir gila dengan serangan yang Alex lakukan pada saat itu, dia pun harus segera memutar otaknya pada saat itu. Dinda tak mempunyai keberanian untuk mencoba keberanian Alex pada saat itu, Dinda pun membuang nafasnya dengan kasar dan menatap Alex dengan serius
__ADS_1
"Bagaimana kalau den Alex yang tunggu saya sampai saya bisa berdiri di samping den Alex dengan layak?" tanya Dinda dengan wajah serius