Perjuangan Cinta Beda Kasta

Perjuangan Cinta Beda Kasta
Pesan Dari Ayah Dinda


__ADS_3

Alex tak mau yang tak mau membuat Dinda merasa tak nyaman pun masih berusaha untuk menutupi perasaan yang dia punya


"Terus apa alasan kamu ga nyaman ada di mobil aku? kalau kamu ga nyaman karena mobilnya, biar aku minta mobil baru sama papa," ucap Alex dengan entengnya


Dinda pun hanya bisa membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna sambil menggelengkan kepalanya mendengar apa yang baru saja Alex ucapkan


"Terus apa dong alasannya?"


"Ya rasanya ga nyaman aja den kalau saya harus berangkat bareng den Alex, saya tau den Alex ga suka kalau saya bahas ini. Tapi den Alex jangan lupa status den Alex dan saya, apalagi den melakukan ini semua cuma karena perasaan den Alex aja kan?"


Dinda memberikan penekanan pada kalimat terakhir yang dia ucapkan, dia hanya ingin sebuah kepastian dan akan berusaha untuk menghindari segala kemungkinan yang akan terjadi. Tetapi Alex tak suka mendengar ucapan Dinda pun memilih untuk mengungkapkan apa yang tengah dia rasakan


"Aku memang merasa bersalah sama kamu Din, tapi apa kamu pikir aku bersedia lakukan ini semua hanya karena perasaan bersalah?," ucap Alex dengan bersungguh-sungguh


Dan Dinda pun kini semakin yakin dengan pemikirannya yang dia anggap mustahil, karena saat itu baik ucapan atau pun tatapan mata Alex bisa menunjukkan dengan jelas apa yang Alex rasakan


"Ga Din kamu ga boleh terlena dengan semua ini!! kamu harus selalu ingat pesan bapak Din, kamu harus ingat posisi kamu ada di mana? seseorang seperti kamu bahkan ga pantas untuk berkhayal bersanding dengan den Alex"


"Lagi pula mau jadi apa kamu kalau masa depan aku kalau sampai punya hubungan sama laki-laki model den Alex? dingin dan bermulut tajam, yang ada nanti saat aku melahirkan anak kalian kulkas dua pintu"


FLASH BACK


Malam itu Dinda sedang belajar di dalam kamarnya untuk mempersiapkan hari ujian yang semakin mendekat, sang bapak yang baru saja kembali ke rumah belakang langsung menuju ke arah kamar Dinda


Tok.. Tok.. Tok..


"Din ini bapak, boleh bapak masuk nak?"


"Masuk aja pak," ucap Dinda yang masih setia di meja belajar


Sang bapak pun masuk ke dalam kamar Dinda, melihat Dinda yang sedang belajar membuat sang bapak langsung tersenyum bahagia. Sang bapak melangkahkan kakinya ke arah Dinda dan mengelus rambut Dinda lembut


"Rajin banget sih belajarnya anak semata wayang bapak ini"

__ADS_1


"Ya dong pak, kan sebentar lagi udah mau ujian. Aku harus bisa dapat nilai yang bagus," ucap Dinda sambil tersenyum


"Bener itu nak kamu harus bisa mendapatkan nilai yang bagus dan membuat bapak bangga ya"


"Ya pak"


"Oh ya tadi bu Helen bilang ke bapak kalau nanti mereka akan mendaftarkan kamu kuliah di tempat yang sama dengan den Alex, jadi kamu harus berusaha dapat nilai yang bagus ya nak supaya kamu ga bikin malu keluarga Wijaya yang sudah baik sama kita." ucap sang bapak dengan lembut


"Ya pak"


"Ga kerasa ya anak gadis bapak sudah besar dan sebentar lagi sudah mau kuliah, padahal rasanya baru kemarin bapak gendong-gendong kamu loh"


"Aku sudah besar tau pak," ucap Dinda sambil sedikit mengerucutkan bibirnya


"Ya bapak tau kamu sudah besar, makanya sekarang bapak sering merasa sedih dan khawatir sama kamu nak." ucap sang bapak lirih


Dinda pun langsung menatap ke arah sang ayah dengan wajah serius


"Bapak sedih karena mungkin ga lama lagi kamu pasti akan meninggalkan bapak dan ibu"


"Bapak kok ngomong gitu, Dinda ga mungkin tinggalin bapak sama ibu," ucap Dinda sambil memeluk sang ayah


"Ya kamu kan juga harus membina rumah tangga kamu sendiri nak"


"Bapak jangan sedih dong, gimana kalau selamanya Dinda ga usah pernah menikah? jadi Dinda bisa selalu temani bapak sama ibu," ucap Dinda sambil tersenyum


Sang ayah pun tertawa mendengar ucapan Dinda pada saat itu


"Mana ada yang seperti itu Din, kebahagiaan orang tua ada saat mereka berhasil melihat anaknya menjadi sempurna, dan hal terakhir yang membuat anak terlihat sempurna di mata orang tuanya adalah membina rumah tangga." ucap sang bapak dengan lembut


Dinda pun semakin mengeratkan pelukannya dan sang ayah mengelus rambut Dinda dengan lembut


"Ada satu pesan bapak untuk kamu nak, kalau nanti kamu mencari pasangan hidup cari orang yang derajatnya sama dengan kita ya nak"

__ADS_1


Dinda pun mendongak kan kepalanya dan menatap ke arah sang ayah


"Kita kan ga pernah tau yang namanya jodoh pak, siapa tau aja nanti ternyata jodoh Dinda seorang pangeran," ucap Dinda sambil tersenyum


"Kamu ini ada-ada aja Din, bapak cuma mau melihat rumah tangga kamu bahagia. Bapak ga mau kalau nanti kamu merasa tertekan nak"


Dinda hanya terdiam dan menatap serius ke arah sang ayah seperti dia sedang menanti penjelasan dari ucapan sang ayah


"Membangun rumah tangga bukan cuma tentang dua orang menjadi satu nak, masih ada keluarga dan yang lainnya. Kalau status kalian terlalu jauh berbeda maka cobaan yang datang juga akan semakin berat nak, jadi pesan bapak carilah pasangan hidup yang berasal dari kalangan yang sama dengan kita. Karena bapak mau melihat kamu bahagia dan di hargai oleh mereka"


"Dinda ngerti pak"


FLASH OFF


"Ya itu lebih ga boleh lagi den," ucap Dinda dengan tegas


"Kenapa kamu bilang ga boleh?" tanya Alex sambil mengerutkan keningnya


"Alasan pertama karena status den Alex dan saya bagaikan langit dan bumi, den Alex juga harus ingat kalau saya cuma anak supir yang bekerja di keluarga besar den Alex"


Alex pun langsung memandang tajam ke arah Dinda


"Aku sudah pernah bilang kamu ga boleh sebut itu lagi," ucap Alex dengan tegas


"Oke, dan yang terpenting saya ga punya perasaan apapun sama den Alex. Jadi kalau saya harus berangkat ke kampus bareng den Alex terus-terusan begini saya yang merasa terbebani den," ucap Dinda dengan penuh keyakinan


"Dia bilang dia ga suka sama aku? padahal hampir semua cewe di kampus ini berusaha keras cuma sebatas mau kenal sama aku," gerutu Alex di dalam hatinya


"Jadi saya harap den Alex bisa memaafkan kelancarannya saya, dan saya harap den Alex bisa bersikap seperti biasa"


"Kamu tau? kamu itu perempuan pertama yang aku tembak dan langsung menolak aku dengan alasan kamu ga suka sama aku, memang apa yang kurang dari aku? dari segi penampilan dan uang aku rasa aku ga buruk"


Mendengar ucapan Alex yang seperti itu membuat Dinda berusaha kuat untuk menahan tawanya, dan Alex pun langsung mengerutkan keningnya melihat ekspresi Dinda pada saat itu

__ADS_1


__ADS_2