
FLASH BACK
Malam itu langit sudah berkali-kali mengeluarkan suara petir dengan sangat menggelegar, langit pun sudah memberikan tanda bahwa dia sudah siap untuk menjatuhkan air hujan dan membasahi bumi ini
Dan pada malam itu Dinda bersama kedua orang tuanya di panggil ke rumah utama oleh sang pemimpin keluarga Wijaya, entah mengapa saat itu hati Dinda mulai terasa tak tenang seolah dia mendapatkan sebuah firasat bahwa sesuatu yang sangat besar sedang menanti dirinya
Tuan dan nyonya besar keluarga Wijaya sudah duduk di salah satu sofa yang berada di ruang tamu, sedangkan Dinda dan kedua orang tuanya berdiri tepat di hadapan mereka
Saat itu Dinda merasakan aura yang sangat menekan di dalam ruangan tersebut, bahkan untuk sekedar bernafas sekali pun terasa sangat berat bagi Dinda pada saat itu. Karena sedari awal Dinda berada di sana sang pemimpin keluarga Wijaya langsung menatap ke arah dirinya dengan tatapan membunuhnya
"Apa begini cara kalian membalas kebaikan keluarga kami selama ini?" tanya pemimpin keluarga Wijaya dengan penuh penekanan
Dinda dan kedua orang tuanya hanya bisa terdiam, entah mengapa saat itu Dinda bisa memahami arah ucapan sang pemimpin keluarga Wijaya. Sedangkan kedua orang tua Dinda hanya bisa menunjukkan wajah bingung
"Apa sikap kami selama ini masih kurang baik terhadap keluarga kalian? sampai kalian harus mengirimkan anak perempuan kalian untuk merayu anak kami!!"
Suara teriakan sang pemimpin keluarga Wijaya memenuhi seluruh ruangan tersebut, Dinda yang sudah menduga hal tersebut hanya bisa menundukkan kepalanya pada saat itu. Sedangkan kedua orang tua Dinda benar-benar merasa terkejut dengan apa yang baru saja mereka dengar
"Maksud tuan besar apa ya tuan?" tanya ayah Dinda dengan berhati-hati
"Jangan bilang kalau kalian berdua tidak mengetahui bahwa anak kalian sedang menggoda Alex!!"
Saat itu Dinda masih setia menundukkan kepalanya dan mulai menjatuhkan air matanya, sedangkan kedua orang tua Dinda langsung menatap ke arah dirinya dengan tatapan mata tak percaya
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? aku pasti sudah membuat bapak dan ibu kecewa dengan perbuatan aku." ucap Dinda lirih di dalam hatinya
__ADS_1
"Apa kamu pikir Alex benar-benar mencintai kamu? saya yakin saat ini Alex melihat kamu tak lebih dari sebuah mainan, dan saya yakin Alex akan membuang kamu tanpa rasa ragu sama sekali saat dia sudah bosan bermain dengan kamu." dengan nada suara meremehkan
Baik Dinda maupun kedua orang tuanya hanya bisa terdiam dengan semua perlakuan yang mereka terima pada saat itu, Dinda hanya berharap kedua orang tuanya bisa memaafkan kesalahan yang telah dia lakukan
"Saya minta kalian semua meninggalkan rumah ini sekarang juga, dan saya peringatkan untuk kamu Dinda. Jangan pernah bermimpi untuk mendapatkan Alex!!" ucap sang pemimpin keluarga Wijaya penuh penekanan
Dinda dan kedua orang tuanya kembali ke rumah belakang dan segera merapikan barang-barang milik mereka, Dinda pun langsung bersimpuh dan memohon maaf kepada kedua orang tuanya
"Maafin Dinda ya pak, bu. Dinda sudah membuat bapak dan ibu menjadi malu," ucap Dinda sambil meneteskan air matanya
Sang ayah langsung membantu Dinda untuk berdiri dan memeluk tubuh Dinda dengan sangat erat
"Kamu ga perlu minta maaf nak, bapak dan ibu baik-baik saja kok. Tapi mulai sekarang kamu harus belajar untuk mengingat tentang derajat kita nak," ucap sang ayah dengan lembut
"Jadikan ini sebagai pembelajaran dalam hidup kamu nak dan bapak rasa kamu sekarang sudah mengerti dengan pesan bapak, ini yang selalu bapak takutkan nak. Bapak cuma ga mau melihat kamu di hina oleh orang lain"
"Dinda benar-benar minta maaf ya pak"
"Bapak dan ibu sudah memaafkan kamu Din jadi jangan nangis lagi ya, sekarang kita beres-beres dulu"
Mereka bertiga pun mulai saling membantu untuk merapikan barang-barang milik mereka, dan hujan pun mulai turun membasahi bumi dengan sangat deras. Seolah langit ikut menangis dengan jalan hidup mereka
Saat Dinda dan keluarganya berpamitan kepada keluarga Wijaya, lagi-lagi sang pemimpin keluarga Wijaya memberikan peringatan keras terhadap Dinda untuk menjauh dari Alex. Sedangkan sang nyonya besar hanya bisa berdiam diri sedari awal
Hujan yang turun dengan sangat deras tak menghalangi langkah kaki Dinda dan kedua orang tuanya untuk meninggalkan rumah mewah tersebut, sebuah rumah yang menyimpan banyak kenangan di dalam hidup Dinda. Dinda pun menatap rumah tersebut sekali lagi dengan lekat
__ADS_1
"Kita pergi sekarang ya nak," ucap sang ayah sambil merangkul pundak Dinda
Sang ayah mencoba memahami perasaan Dinda pada saat itu, dia mengerti pasti Dinda berat untuk meninggalkan rumah tersebut. Tetapi mereka juga harus menjaga harga diri mereka yang masih tersisa
Tetapi ternyata cobaan tak berhenti sampai di situ, karena tiba-tiba saja ada sebuah mobil yang melaju dengan sangat cepat dan menghantam tubuh sang ayah dengan sangat kuat
Seharusnya Dinda adalah korban pada kejadian tersebut, tetapi sang ayah bergerak dengan cepat untuk mendorong tubuh Dinda dan menjadikan tubuhnya sebagai pengganti Dinda
Dinda dan sang ibu tak mau banyak berpikir banyak pada saat itu dan segera melarikan sang ayah ke rumah sakit, pihak rumah sakit menyatakan bahwa sang ayah mengalami pendarahan hebat di bagian kepala dan harus segera menjalani operasi untuk menyelematkan nyawa sang ayah
Yang lebih mengejutkan bagi Dinda dan sang ibu adalah perkiraan biaya yang harus mereka sediakan untuk menyelamatkan nyawa sang ayah, nominal yang harus mereka sediakan benar-benar nominal yang sangat besar
Dinda pun langsung berinisiatif kembali ke kediaman keluarga Wijaya untuk meminta bantuan, bagaimana pun juga keluarganya sudah mengabdi cukup lama di tempat itu
Tetapi Dinda hanya mendapatkan sebuah penolakan dari sang pemimpin keluarga Wijaya, pada malam itu Dinda bahkan sampai bersimpuh di kaki sang kepala keluarga Wijaya. Dinda memohon belas kasihan dari mereka agar bersedia membantu sang ayah
Tetapi sang pemimpin keluarga Wijaya tetap pada pendiriannya dan sama sekali tak memberikan bantuan apapun terhadap Dinda, dengan semua masalah yang ada Dinda berusaha tetap tenang dan terus memutar otaknya
Pada saat itu Dinda pun teringat dengan Alex yang saat itu sedang berada di luar kota, dia pun segera menghubungi Alex dan yang Dinda dapatkan saat itu adalah sebuah kepahitan yang tak pernah bisa dia lupakan
Dinda berusaha untuk menguatkan hatinya, dia hanya tak mau semakin larut dengan perasaan sedih yang Alex berikan. Dinda pun memikirkan kembali caranya untuk menyelamatkan nyawa sang ayah. Di saat itulah dia menghubungi Riska
Malam itu akan selalu menjadi malam yang kelam di dalam sejarah hidup Dinda
FLASH OFF
__ADS_1