Perjuangan Cinta Beda Kasta

Perjuangan Cinta Beda Kasta
Terasa Jauh


__ADS_3

Julian yang baru saja keluar dari tempat itu memilih untuk menghampiri Alex


"Ga ketemu?"


Alex hanya menjawab dengan menggelengkan kepalanya, Julian memang tidak mengetahui apa yang di dalam pikiran Alex pada saat itu tetapi dia yakin bahwa Alex saat itu sedang merasa takut dan tertekan


"Sebaiknya lu kasih dia sedikit waktu untuk tenang dulu, nanti baru lu kasih dia penjelasan kepada lu ada di sini sama perempuan itu"


"Gimana caranya aku kasih tau kamu Din? apa aku harus jujur ke kamu tentang kesalahan papa aku di masa lalu?"


Saat pulang kantor Alex pun langsung kembali ke kediaman mereka karena Alex tau bahwa Dinda sudah berada di rumah itu dari sore hari, Alex pun langsung menghampiri salah satu pelayan yang berada di rumah tersebut


"Ibu ada di mana?"


"Dari tadi sore ibu mengurung diri di dalam kamar pak"


"Apa ibu sudah makan malam?"


"Belum pak"


"Ya sudah siapkan makan malam biar saya yang panggil ibu"


"Iya pak"


Alex pun mulai melangkahkan kakinya ke arah kamar, dan saat Alex masuk ke dalam kamar dia Dinda terlihat sudah merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur seperti sudah tertidur


"Pasti dia merasa marah dan kecewa sama aku, apa yang harus aku lakukan sama kamu Din?"


Alex pun segera mengganti pakaian lalu mendudukkan tubuhnya tepat di samping Dinda, Alex pun mengelus rambut Dinda dengan lembut

__ADS_1


"Sayang bangun dong," ucap Alex dengan lembut


Dinda yang sebenernya belum tertidur memilih untuk tetap diam dan tetap berpura-pura tertidur


"Apa kamu marah sama aku? aku bisa jelasin kok masalah tadi"


Dinda pun segera membuka kedua bola matanya dan menatap Alex dengan lekat


"Apa yang mau kamu jelasin ke aku kak?" tanya Dinda penuh penekanan


"Kamu cuma salah paham sayang, aku ketemu perempuan itu cuma untuk membahas masalah pekerjaan aja kok." ucap Alex sambil menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal sama sekali


Alex berusaha untuk tetap terlihat tenang di hadapan Dinda pada saat itu, tetapi dia mungkin tidak tau bahwa insting seorang wanita sangat peka. Seorang wanita bisa dengan mudah mengetahui saat pasangannya sedang berbohong


"Kamu mungkin bisa berbohong sama orang lain kak, tapi dari dulu kamu ga pernah bisa bohong sama aku kak." batin Dinda sambil berusaha untuk tersenyum


"Kata si mbak kamu belum makan malam ya? kita makan malam dulu ya, aku ga mau nanti kamu sakit kalau melewatkan makan malam." ucap Alex dengan lembut


Alex yang masih merasa bersalah pun memilih untuk membiarkan apapun yang ingin Dinda lakukan, setelah mereka kembali ke dalam kamar pun Dinda masih menunjukkan sikap dingin. Bahkan Dinda tidur dengan membelakangi tubuh Alex


Alex hanya bisa pasrah dengan itu semua dan memeluk tubuh dinda dari belakang, Alex memeluk tubuh Dinda dengan perasaan takut akan kehilangan Dinda. Alex pun mencium ujung kepala Dinda dengan lembut


"Aku minta maaf karena aku berbohong sama kamu, tapi aku sendiri bingung bagaimana caranya aku menceritakan ini semua sama kamu? aku benar-benar takut kehilangan kamu Din." batin Alex sambil mengeratkan pelukannya


Malam itu akhirnya menjadi malam Dingin pertama bagi Alex dan Dinda setelah mereka berdamai dengan keadaan, baik Alex sama-sama berpegang teguh dengan jalan pikiran mereka masing-masing pada saat itu


Alex hanya ingin bisa mempertahankan hubungan antara dirinya dan Dinda bisa terjalin selama mungkin, sedangkan Dinda hanya ingin sebuah kejujuran dari Alex


Di saat Alex dan Dinda sedang melakukan perang dingin di tempat yang berbeda ada Irwan yang tak bisa merasa tenang, karena dia baru saja mendapatkan kabar dari Melinda bahwa gadis tersebut sudah mulai bergerak dan hanya memberi Alex waktu satu minggu untuk meninggalkan Dinda

__ADS_1


Irwan pun bekerja keras untuk menyusun rencana yang akan dia lakukan untuk membantu Dinda, setelah berusaha memutar otaknya dia pun memutuskan untuk datang ke kota di mana Alex dan Dinda berada. Dia hanya ingin bisa bergerak secepat mungkin saat di butuhkan


Alex dan Dinda terus menggencarkan perang dingin mereka, Alex yang tak ingin melihat Dinda bersikap dingin terhadap dirinya sudah beberapa kali mencoba untuk membuka percakapan untuk mencairkan suasana yang tercipta di antara mereka


Apapun yang Alex lakukan untuk membuat dia berdamai dengan Dinda seperti selalu menemukan jalan buntu, dia harus menelan pil kepahitan dengan sikap dingin yang selalu Dinda tunjukkan. Dinda bahkan tak menjawab ucapan Alex bila dia anggap tidak terlalu penting


Dan waktu pun terus berlalu bahkan hingga di hari ketiga mereka masih tetap berada di suasana yang sama, sampai detik itu Alex masih tak memiliki keberanian untuk mengatakan yang sebenarnya kepada Dinda


Dan di hari itu Dinda yang sedang bersiap-siap pun secara tak sengaja melihat ada sebuah pesan yang masuk ke dalam ponsel Alex, dan hatinya semakin merasa terganggu melihat nama sang pengirim pesan. Karena yang mengirimkan pesan tersebut adalah Melinda


"Bukankah ini masih terlalu kalau kalian ingin membahas tentang pekerjaan?"


Alex yang sedang membersihkan diri pada saat itu tak tau sama sekali bahwa di dalam hati Dinda saat itu sedang bergelut, di satu sisi hatinya ingin sekali mengetahui isi pesan yang di kirimkan oleh Melinda tetapi di sisi lain dia harus menghormati privasi sang suami


"Maaf kalau aku bersikap lancang dengan membuka handphone kamu kak, aku terpaksa melakukan ini karena kamu ga mau cerita jujur ke aku. Terpaksa aku harus mencari tau sendiri apa yang terjadi di antara kalian berdua"


"Sudah tiga hari berlalu sayang, apa kamu sudah menemukan cara untuk melepaskan perempuan itu? atau kamu butuh bantuan dari aku sayang untuk membuat perempuan itu pergi dari samping kamu?"


Hati Dinda bagaikan teriris pisau yang sangat tajam setelah dia mengetahui isi pesan tersebut, Dinda berusaha sekuat tenaga untuk menahan air matanya yang hampir terjatuh


"Apa sebenarnya yang terjadi di antara mereka? kenapa perempuan itu panggil sayang ke kak Alex? apa mereka sedang merencanakan sesuatu untuk menyingkirkan aku dari samping kak Alex?"


Saat Dinda tak mendengar lagi gemericik suara air dia pun segera menghapus pesan dari Melinda dan meletakkan kembali ponsel Alex ke tempat semula, Alex yang tak tau apapun keluar dari dalam kamar dengan sikap yang biasa


"Aku hari ini berangkat sendiri aja kak," ucap Dinda dengan dingin


"Aku antar aja seperti biasa Din"


Dinda pun segera bangkit dari duduknya dan menatap ke arah Alex dengan tatapan mata yang sulit di artikan

__ADS_1


"Ga perlu kak"


Dinda pun bersiap dan langsung pergi meninggalkan Alex begitu saja, sedangkan Alex memilih untuk mengalah agar masalah yang sedang terjadi tak semakin keruh. Walaupun sudah pasti itu adalah salah besar karena sikap Alex membuat hubungan di antara mereka semakin terasa jauh


__ADS_2