PERJUANGAN HIDUP SEORANG JANDA

PERJUANGAN HIDUP SEORANG JANDA
LELAKI NORMAL


__ADS_3

Kamu mas.. Kirain ada apa.. Udah ah, aku mau mandiin Pangeran dulu.. Assalamualaikum.." Ayana langsung memutuskan sambungan telephone nya karena malu akan ucapan sang suami.


Baru kali ini Ayana ketiduran tanpa busana. Benar benar membuatnya malu meski itu adalah suami halalnya.


Setelah memandikan Pangeran dan memakaikannya baju, Ayana mengajak Pangeran turun dari lantai dua menuju dapur. Dari ruang tengah, tercium bau masakan yang begitu menggugah selera makan oleh siapapun.


Karena penasaran, Ayana mengendap ngendap ke arah dapur dengan Pangeran di gendongannya. Ayana mengerutkan keningnya melihat sosok wanita muda yang tidak dia kenal tengah serius memasak di dapur rumahnya.


"Siapa dia.." batin Ayana yang terus memandang wanita muda itu dengan intens.


"Ma ma ma.." Celotehan Pangeran mengaggetkan wanita itu maupun Ayana.


"Mmmm.. Maaf.. Tadi saya laper, jadi saya masak nasi goreng buat sarapan.." Ucap Wanita itu dengan santai.


Ayana mengerutkan keningnya.


"Anda siapa ya..? Ko bisa masuk ke rumah saya..?" Tanya Ayana waspada.


"Bibi sama ibu kemana lagi sih.." Gumam Ayana dalam hati melirik ke sembarang arah mencari keberadaan keduanya.


"Saya Lusi.." Jawabnya singkat sambil menuangkan masakannya ke mangkuk.


Ayana beranjak dari dapur menuju ruang tengah dan bergegas menghubungi suaminya dengan perasaan kesal. Bukan apa apa. Ayana tidak tahu siapa wanita asing yang berani masuk ke rumahnya dan dengan tanpa permisi masuk ke dapur. Yang lebih membuat Ayana kesal adalah tidak adanya sopan santun wanita itu kepadanya.


"Hallo sayang.. Ada apa..?" Suara Rayan terdengar begitu lembut seolah tahu sang istri sedang merasakan kekesalan.

__ADS_1


"Mas, di rumah ada perempuan muda.. Dia lagi masak di dapur, siapa dia..?" Tanya Ayana tanpa basa basi.


"Lohh ko nanya aku sayang..? Coba kamu tanya ibu atau bibi.. Atau tanya langsung sama dia.." Jawab Rayan yang juga bingung siapa wanita yang berada di rumahnya.


"Aku udah nanya mas.. Dia cuma jawab namanya aja, gak jawab siapa dia dan kenapa ada di rumah kita.." Jawab Ayana sambil sesekali melirik ke arah dapur.


"Non Ayana.. Maaf bibi tadi ke tukang sayur di depan.. Non mau sarapan apa..?" Ayana terlonjak kaget saat bi Ina tiba tiba berada di belakangnya.


"Lohh bahan di kulkas habis bi..?" Tanya Ayana melihat bibi menenteng kantong kresek berisi labu dan beberapa sayuran lain.


"Ada non.. Tapi tadi bibi liat ada sayuran segar jadi bibi beli aja.." Jawab bibi tersenyum.


"Bibi pake uang bibi..? Berapa semua bi uang bibi yang terpakai..?" Tanya Ayana lembut.


"Oh yasudah.. Nanti kalau ada yang mau di beli, bibi ngomong aja.. Biar kita belanja lagi.." Tutur Ayana tersenyum ramah yang di angguki oleh asisten rumah tangganya itu.


"Eh bi sebentar.. Saya lupa.." Cegah Ayana saat bibi pamit ke dapur untuk memasak


"Iya non ada apa..?" Tanya bibi bingung


"Di dapur ada perempuan muda.. Kayaknya masih sma gitu.. Itu siapa bi..?" Tanya Ayana sambil menunjuk ke arah dapur dengan gerakan kepala.


"Oh itu non.. Dia ponakan bibi dari kampung.. Kemarin baru lulus sekolah dan mau nyari kerjaan di ibu kota.. Jadi dia mampir kesini jenguk bibi katanya.. Maaf non bibi lupa ngasi tau.. Non Ayana belum bangun tadi pagi.." Jelas bibi panjang lebar merasa tidak enak pada majikannya itu.


Ayana tidak menjawab. Dia hanya diam. Diamnya Ayana membuat bibi semakin tidak enak.

__ADS_1


"Saya permisi ya non.. Mau masak untuk sarapan.." Ucap bibi dan buru buru menuju dapur.


Sementara di seberang sana, Rayan mendengarkan semua percakapan istri dan asisten rumahnya itu dengan jelas sebab Ayana lupa mematikan sambungan telephone dengannya saat dia terkejut oleh kedatangan bibi yang tiba tiba.


***


Karena belum juga ada kepastian akan di terimanya dia bekerja di hotel mantan calon mertuanya, Emil memutuskan untuk menemui Rayan di rumah sakit tempatnya bekerja.


Emil menduga, keputusan pak Sultan tergantung persetujuan dari sang anak tunggal yaitu Rayan. Sehingga Emil memutuskan untuk meminta Rayan menyetujuinya bekerja disana.


Sesampainya di rumah sakit, Emil yang memang sudah tahu ruangan pribadi Rayan, langsung memutuskan untuk menemuinya disana. Namun karena Rayan masih sibuk dengan beberapa pasiennya sementara Emil sudah satu jam berada di ruangan pribadi Rayan, membuatnya bosan.


Tanpa sadar Emil ketiduran di sofa panjang yang tersedia di ruangan itu dengan lelapnya.


Tak berselang waktu lama, Rayan pun akhirnya selesai memeriksa pasien pasiennya. Saat pintu ruangannya terbuka, Rayan terkejut melihat Emil yang tidur terlentang di sofa dengan rok mini di atas lutut. Dengan terburu buru Rayan melepas jaz putihnya dan langsung menutup bagian yang terbuka itu.


"Ngapain sih ni orang kesini.. Tidur pula.. Ya Allah jangan sampe Ayana tahu.." Monolog Rayan dalam hati sembari tangannya mengusap kasar wajahnya.


Tanpa pikir panjang, Rayan keluar dari ruangannya menuju kafe rumah sakit untuk sekedar menghindari Emil. Rayan tidak mau berada di ruangan yang sama dengan Emil dengan hanya berdua seperti itu. Biar bagaimana pun dia adalah laki laki normal, dan Emil adalah masa lalunya.


**BERSAMBUNG..


TERIMA KASIH BUAT TEMAN TEMAN SEMUA YANG MASIH SETIA DI CERITA NOVEL INI..🙏🙏💞💞


UNTUK SEGALA BENTUK DUKUNGANNYA, SAYA UCAPKAN TERIMA KASIH UNTUK TEMAN TEMAN SEMUANYA.. 🙏🙏💞💞💞😘**

__ADS_1


__ADS_2