
Sudah hampir sejam Rayan mencari keberadaan Ayana. Berulang kali pula Rayan menghubungi nomor ponsel Ayana namun ponselnya berada di luar area, membuat Rayan mulai dilanda frustasi. Bahkan bu Lela juga ikut panik mencari keberadaan sang anak tercintanya.
Pukul 05.20 Ayana baru sampai di kediamannya menggunakan taksi online. Rayan yang tadinya niat keluar dengan mobilnya mencari keberadaan sang istri, akhirnya lega setelah melihat sang istri tiba di rumah dengan selamat.
Namun ada pemandangan baru yang Rayan lihat. Penampilan Ayana yang memukau, bak model dunia, membuat Rayan hampir tak berkedip. Rayan bahkan lupa dengan kemarahan dan rasa khawatirnya karena melihat Ayana yang tampil begitu cantik. Tidak seperti penampilannya selama ini yang hanya seadanya.
Ayana melihat Rayan diam terpaku di samping mobilnya. Ayana tahu, suaminya itu pasti sedang ingin mencari keberadaannya yang keluar rumah tanpa pamit.
"Assalamualaikum.." Sapa Ayana datar sembari merai tangan sang suami dan mencium punggung tangannya.
Rayan hanya diam terpaku karena masih takjub melihat kecantikan sang istri. Ayana langsung melangkah masuk ke dalam rumah setelahnya dan menuju kamar pribadi mereka.
Rayan yang baru tersadar dari keterpakuannya, bergegas masuk menyusul Ayana yang sudah berada di ujung anak tangga menuju kamar.
Rayan menoleh ke arah Ayana yang duduk di sisi ranjang dengan tangannya yang fokus dengan ponselnya dari ambang pintu kamar. Melihat perubahan dan cueknya Ayana, benak Rayan di penuhi puluhan tanda tanya.
Rayan akhirnya meredam egonya dan menghampiri sang istri. Rayan lantas meraih tangan Ayana yang sedang fokus berkirim pesan dengan Susi, dan menautkan jari jari mereka menjadi satu. Ayana menoleh menatap wajah Rayan dengan diam.
"Maafkan aku.. Aku gak bermaksud membuatmu sakit hati.. Aku hanya ingin istriku selalu bersikap bijak setiap dalam situasi apapun seperti yang aku kenal selama ini.." Ucap Rayan menatap manik mata Ayana.
"Bukankah sebagai suami, aku wajib mengingatkan istriku jika salah..?" Lanjutnya lagi.
"Aku tau itu.. Tapi aku melihat, interaksi di antara mas dan Emil itu berbeda.. Jika bukan aku yang tegasin dia, siapa lagi..? Sementara mas sendiri gak bisakan..?" Tutur Ayana menatap sang suami dengan tatapan tidak suka.
__ADS_1
Rayan menarik nafasnya dan menghembuskannya dengan pelan.
"Sayang.. Aku gak negur dia bukan berarti aku tidak bisa tegas sama dia.. Tapi tadi, kita bisakan pakai cara yang lebih halus untuk menghindarinya tanpa harus mengotori lisan kita..?" Ujar Rayan sedikit menekan.
Ayana melirik wajah Rayan lalu menunduk menatap tangannya yang berada dalam genggaman Rayan.
"Maafkan aku.." Ucap Ayana pelan.
Perlahan Ayana membenamkan wajahnya ke dalam ceruk leher Rayan.
"Ini dandan cantik kayak gini tuh dari mana..? Ngapain..?" Tanya Rayan kemudian.
Mendapati pertanyaan seperti itu dari sang suami, Ayana bergeming. Tangannya terangkat memeluk erat tubuh suaminya.
"Rhidoi mas.. Aku keluar rumah dalam keadaan marah dan tanpa izin darimu.. Maafkan aku.." Ucap Ayana dengan pelan dengan semakin mengeratkan pelukannya.
"Ampuni ke khilafan istri hamba ya Allah.. Istri hamba adalah wanita yang soleha, yang patuh pada suami, maka ampunilah kesalahannya.. Hamba Rhido.." Tutur Rayan sembari mengecup kepala Ayana dari samping.
Ayana melerai pelukannya dan beralih mencium bibir Rayan sekejap sambil melempar senyum terindahnya.
"Katakan.. Apa yang kamu lakukan di luar dengan tampilan cantik seperti ini.." Tanya Rayan mengelus pipi Ayana.
"Aku di undang oleh mbak Ratu pemilik butik dan klinik kecantikan *H...* itu.. Dulu aku pernah jadi model butiknya.. Maafkan aku mas, aku terima undangannya tanpa minta izin kamu karena aku terbawa kesal.." Jawab Ayana dengan raut penyesalan.
"Gak apa apa sayang.. Tapi lain kali, kamu kabarin aku dan Ibu.. Kami sampe panik tau nyariin kamu.. Handphone gak aktif pula.." Tutur Rayan dengan ekspresi di buat sesedih mungkin.
"Iya sayang aku minta maaf.." Ucap Ayana menyesal.
__ADS_1
"Terus, Ibu mana..?" Tanya Ayana kemudian.
"Kamu telephone Ibu aja.. Tadi mama kesini ngajak Ibu keluar.. Aku sampe mohon mohon sama Ibu untuk ikut biar mama gak curiga kita lagi ada masalah dan kamu pergi dari rumah.." Ucap Rayan tersenyum.
Sekali lagi Ayana merasa menyesal dengan kelakuannya. Andai Ibu mertuanya tahu, Ayana bingung cara menjelaskannya. Ayana memeluk Rayan dan menangis terisak di pelukan suaminya itu. Rayan tahu, hormon ibu hamil memang tidak menentu. Sehingga dia membiarkan Ayana menangis tanpa niat mencegahnya. Dengan begitu, Ayana akan merasa lega setelah dia meluapkan semua dalam tangisannya.
***
Hari ini adalah hari yang sangat melelahkan bagi Arman. Tender yang dia perjuangkan gagal dan di menangkan oleh pihak lain yang terbilang baru seumur jagung di dunia bisnis yang di geluti Arman. Arman merasa tersaingi oleh pendatang baru yang bakal menjadi musuh besarnya nanti.
Baru juga masuk ke dalam ruang tamu, Arman sudah di kejutkan dengan laporan asisten rumah tangganya bahwa istrinya telah pergi dari rumah dengan membawa koper pakaian yang besar. Arman sampai di buat marah sejadi jadinya hingga menghamburkan barang barangnya yang berada di atas meja kerjanya.
"Sial semua.." Teriak Arman memenuhi ruangan kerjanya yang berada di samping kamar pribadinya.
Bukan tanpa alasan istrinya pergi meninggalkannya meski dalam kondisi hamil besar. Sudah dua hari mereka bersitegang dengan ego masing masing yang sulit di redam.
"Dimana kamu..? Pulang sekarang atau.."
"Atau apa..? Atau mas menceraikan aku gitu..? Silakan.. Aku gak peduli.. Pantas saja mbak Ayana menggugat cerai mas, mas memang egois.." Rika Alfira terpaksa memotong ucapan Arman by phone karena terlanjur kesal dengan sikap suaminya itu.
"Jangan kurang ajar kamu sama suami.. Aku ini suamimu, jangan jadi durhaka kamu.." Ucap Arman meluapkan emosinya
"Aku gak ada niat membangkang selama mas tidak mementingkan diri mas sendiri.." Ucap Rika di seberang sama dengan isak tangisnya.
**BERSAMBUNG..
__ADS_1
TERIMA KASIH TEMAN TEMAN ATAS BENTUK DUKUNGANNYA.. 🙏🙏💞💞💞**