PERJUANGAN HIDUP SEORANG JANDA

PERJUANGAN HIDUP SEORANG JANDA
PERIHAL HATI


__ADS_3

"Apa hubungan mereka sudah sejauh itu..? Apa laki laki itu melamarnya..?" Batin Tio


Tio tertunduk di balik pintu kamarnya dengan sejuta luka di hatinya. Tio sebenarnya sudah tahu siapa dirinya. Dia bukanlah anak kandung dari bu Mila dan sang ayahnya itu.


Belakangan ini Tio sengaja mencari tahu siapa dirinya ketika tanpa sengaja dia melihat map usang yang berisi sebuah berksas dari pihak rumah sakit, dimana dirinya telah di adopsi oleh ayah dan ibunya saat masih bayi.


Hatinya bukannya terpuruk ketika mengetahui bahwa dirinya bukanlah anak kandung dari bu Mila. Dirinya justru sangat bersyukur karena di telantarkan oleh ibu kandung namun jatuh di tangan sang ibu asuh seperti bu Mila.


Bahkan bukan hanya itu. Dirinya juga merasa bersyukur karena perasaannya kepada Susi bukanlah sebuah kesalahan.


Namun baru saat ini dirinya sudah siap untuk memperjuangkan perasaannya, kini telah di patahkan oleh kenyataan yang baru saja dia dengar dengan telinganya sendiri. Seorang lelaki bernama Tristan, kini telah berada di rumahnya dan menyatakan niatnya di depan sang ibu.


Tio akan mundur pelan pelan dari perasaannya itu. Dia sadar bahwa sejak awalpun Susi tidak merespon bahkan menolak dengan tegas perasaannya itu. Sedangkan lelaki yang berada di rumahnya saat ini, adalah lelaki yang mempunyai peluang karena memang memiliki rasa yang sama dengan Susi.


"Ada tamu.." Ucap Tio puraΒ² setelah sebelumnya dia menguatkan hatinya sebelum keluar kamar.


Semua yang berada di ruangan itupun menoleh ke arah sumber suara.


"Tio.. Ini, ada teman Susi nak.." Ucap bu Mila ragu


Mata Tio menatap ketiganya secara bergantin.


"Oh yasudah lanjutkan saja.." Ujar Tio tersenyum kecil pada Tristan mencoba untuk ramah


"Ma, aku keluar dulu ya.. Ada urusan. Jangan menungguku pulang, aku akan makan malam di luar.." Ucap Tio sembari pamit.


Meski bukan darah dagingnya, namun bu Mila tahu bahwa Tio sengaja menghindar. Dari sorot matanya bu Mila tahu ada yang sedang di sembunyikan oleh sang anak soal kedatangan Tristan ke rumahnya.


"Nak Tristan, Susi, mama ke depan dulu sebentar.. Kalian silakan ngobrol dulu.." Ucap bu Mila bergegas menyusul Tio yang baru saja keluar menuju mobilnya.


"Tio.. Tunggu nak.." Cegah bu Mila saat Tio baru saja masuk dan mengunci pintu mobilnya.


"Ada apa ma..?" Tanya Tio heran melihat sang ibu yang menghampirinya


"Kamu mau kemana..?" Tanya bu Mila memastikan.


"Ada urusan ma.." Ucap Tio sekenaknya.


"Iya tapi urusan apa..? Gak mungkin urusan kantor.." Ucap bu Mila yang tak puas dengan jawaban dari sang anak.


"Apa karena kehadiran teman Susi itu yang membuat kamu harus keluar untuk menghindar..?" Tuduh bu Mila menatap Tio penuh selidik.


Tio menyandarkan punggungnya di sandaran kursi mobil sembari menutup matanya. Bu Mila akhirnya melemah mengetahui bahwa tuduhannya benar meski sang anak tidak menjawab.


"*Apa aku harus jujur pada Tio bahwa dia bukanlah anak kandungku dan memberinya restu untuk mengejar Susi..?"


"Tapi bagaimana jika Tio kecewa setelah tahu dia bukanlah anak kandungku, bukan saudara sepupuan dengan Susi*..?" Batin bu Mila


Sementara di dalam rumah, di ruang tamu, Susi dan Tristan sedang bersitegang. Susi tidak terima sikap Tristan yang datang secara tiba tiba setelah sekian hari tanpa kabar. Bahkan kejadian di cafe waktu itu masih jelas di benaknya.

__ADS_1


Seolah Tristan sengaja menarik ulur perasaannya. Susi merasa sedang di permainkan oleh Tristan saat ini.


Tuduhan itu sungguh membuat Tristan tak terima. Dia tidak pernah merasa sedang mempermainkan perasaan Susi. Sehingga perdebatanpun terjadi.


"Kamu yang tidak pernah bisa melihat upayaku Susi.. Kamu yang terus terusan menghindar dari aku sampai akhirnya aku menemukanmu lagi.." Ucap Tristan penuh penekanan.


"Jangan merasa tersakiti Tristan.. Bukankah kamu tahu kenapa aku melakukan itu..? Bahkan hubungan kitapun tidak pernah kamu perjelas sebelumnya.."


"Kamu dengan sesuka hati kamu datang dan bertidak semaumu tanpa memikirkan bagaimana perasaanku.." Ucap Susi tak mau kalah.


Tristan terdiam. Jika bukan di rumah bu Mila, dia tentu sudah meluapkan emosinya. Dia hanya bisa menahan karena takut kedengaran oleh bu Mida.


"Silakan kamu pulang dari sini.. Aku masih banyak kerjaan yang tertunda karena kedatangan kamu kesini.." Usir Susi tanpa mau melihat ke arah Tristan.


Tristan yang di usir dengan seperti itu oleh pujaan hatinya, tentu saja merasa kecewa. Tanpa berpikir lagi, Tristanpun beranjak dari duduknya dan keluar tanpa pamit.


Sementara di luar rumah, Tristan melihat bu Mila sedang mengobrol dengan Tio yang sedang berada di balik kemudi.


Bu Mila yang melihat arah pandang Tio dan mengikutinya, terkejut melihat Tristan keluar dengan tergesa gesa.


"Saya pamit pulang tante, Tio.. Terima kasih atas sambutannya tadi.. Mari permisi.." Ucap Tristan berlalu pergi tanpa menunggu jawaban dari bu Mila dan Tio.


"Ada apa ma..?" Tanya Tio tiba tiba


Bu Mila hanya menjawab dengan gelengan kepala tanda tidak tahu.


***


" Iya sayang.. Apa kamu keberatan jika kita harus pisah..?" Tanya Rayan menguji perasaan sang istri.


Ayana menggeleng pelan. Tatapannya pada sang suami masih penuh dengan pertanyaan. Namun dia memilih diam.



" Jangan memandangku seperti itu sayang. Aku jadi gak tega harus berpisah.." Ucap Rayan pura pura sedih.


Ayana menunduk dan memilih melanjutkan memotong sayur yang akan dia masak bersama sop buntut.


"Atau aku berhenti saja menjadi dokter dan tetap disini bersama kamu dan Pangeran..?" Ucap Rayan tiba tiba.


Namun bukannya menjawab, Ayana justru menatap wajah sang suami ketika teringat sesuatu.


"Mas, tadi mamanya mas Arman telephone aku mas.." Ucap Ayana menunggu reaksi sang suami


"Terus..?" Jawab Rayan cuek.


"Dia meminta bantuan seperti waktu di rumah sakit.. Aku benar benar gak mau lagi berurusan dengan mas Arman mas.." Ujar Ayana masih dengan menatap manik mata sang suami.


"Kenapa..?" Tanya Rayan singkat.

__ADS_1


"Mas.." Kesal Ayana.


Rayan menarik nafasnya dengan pelan.


"Aku serius nanya, kenapa..? Bukankah sekarang aku juga akan pergi pindah tugas keluar kota..?" Ucap Rayan santai.


"Apa mas mau aku merawat mas Arman layaknya seorang istri begitu..?" Ucap Ayana menuntut jawaban.


"Apa kamu mau melakukannya..?" Tanya balik Rayan


"Aku heran sama kamu mas.. Apa kepergianmu pindah tugas ini memang yang mas harapkan di karenakan mas sudah bosan tiap hari ada aku di sisi mas Rayan..? "


"Kalau memang seperti itu, pergilah dan aku akan tinggal di rumah ibu lagi seperti dulu.." Ucap Ayana kecewa.


Ayana menyudahi acara masaknya dan melepas apron lalu berjalan menuju kamarnya.


Rayan yang awalnya akan memberi kejutan karena telah di promosikan menjadi kepala bagian ruang bedah yang memang di berikan oleh pihak rumah sakit saat Rayan berhasil menangani operasi tersulit dari pasien penderita kanker, menjadi gagal setelah niat mengerjai sang istri terlebih dahulu berakhir dengan salah paham atas mantan suami dari Ayana tersebut.


Rayan mencoba menelan egonya dan menyusul sang istri di kamar mereka. Namun saat pintu terbuka, Rayan mendapati Ayana sedang duduk memeluk kedua kakinya di sofa.


Isak tangis terdengar meski sangat samar. Rayan yang tahu seperti apa lembutnya perasaan sang istri, mencoba menghampirinya dan duduk di sampingnya.


Ayana menegakkan kepalanya saat tahu Rayan duduk di sampingnya dan beralih menghadap ke arah Rayan.


"Apa mas.."


Belum selesai ucapannya, Ayana tersentak saat Rayan membungkam bibirnya dengan kecupannya. Ayana menepuk dada Rayan dengan kesal.


Sedangkan yang di tepuk hanya diam tanpa keberatan.


"Mas.." Kesal Ayana.


"Maafkan aku.. Kamu tahu seperti apa perasaanku sama kamu.. Aku ini cemburuan Ayana.. Dan itu hanya sama kamu.."


"Kamu istriku, milikku, ibu dari anak anakku.. Tak perlu kamu meminta pendapatku untuk menolak permintaan mantan mertuamu itu.." Ucap Rayan menatap manik mata sang istri yang masih basah karena air mata itu.


"Aku bohong soal pindah tugas.. Aku justru di percayakan untuk memegang kendali ruang bedah.. Semua yang menyangkut pembedahan dan penggunaan ruang bedah harus dengan persetujuanku.. Aku di tunjuk sebagai kepala bagian.." Jelas Rayan tidak mau menutupi lagi.


Ayana menatap diam sang suami. Entah lega karena tidak kemana mana atau kesal karena sang suami sempat mengerjainya.


Ayana akhirnya melunak. Di raihnya tubuh sang suami dan memeluknya erat. Tak mau kalah, Rayanpun merengkuh tubuh Ayana dengan penuh perasaan.


"Tanpa aku ngomong, kamu sudah tahu kan jawaban apa yang harus kamu jawab pada mantan mertuamu itu..?" Ucap Rayan setelah mereka melepas pelukan.


"Kecuali kalau memang kamu benar benar ingin melakukannya.." Imbuhnya lagi.


Ayana mengulas senyum. Di kecupnya bibir sang suami agar tak bicara sesuatu yang justru melukai perasaannya sendiri.


**BERSAMBUNG..

__ADS_1


TERIMA KASIH ATAS SEGALA BENTUK DUKUNGAN DARI TEMAN TEMAN.. SEMOGA ALURNYA TETAP KONSISTEN DAN DI SUKAI TEMAN TEMAN SEKALIAN.. πŸ™πŸ™πŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’ž**


__ADS_2