
Jadi itu yang mengusik pikiran mas sampe gak bisa tidur gini..?" Tanya Ayana tertawa
"Istrahat yuk.. Kamu harus banyak istrahat biar cepat pulih.. " Rayan mengalihkan obrolan mereka karena merasa malu ketahuan oleh sang istri akan kebucinannya.
Ayana masih saja terus tertawa membuat Rayan malu.
"Mas.. Memang dulu aku gak pernah menganggap kamu.. Aku gak ada rasa sama sekali sama kamu.. Meski kamu udah mendekati aku dengan berbagai caramu, aku biasa aja pada saat itu.."
"Lagipun aku belum kepikiran untuk menikah lagi setelah apa yang aku alami.. Tapi seiringnya berjalan waktu, ada satu moment dimana aku mulai luluh dan merasa nyaman akan kesungguhan kamu.. Bahkan aku melihat, Yuki yang jadi prioritas kamu nomor satu.."
"Mas.. Pada saat kamu nelamarku, mulai saat itu aku mulai mencoba membuka hati aku sepenuhnya untuk kamu.. Dan Allah itu tau, apa yang terbaik untuk aku, Yuki dan juga Ibu.."
"Pada saat ijab qabul terucap, hati aku sudah aku mantapkan untuk kamu, suamiku.. Aku pernah di kecewakan, maka aku gak mau mengecewakan.."
"Aku berharap, ini adalah pernikahan aku yang terakhir dalam hidupku.. Kamu tau seperti apa hidupku setelah di tinggal Yuki. Maka akan jadi apa lagi aku jika di tinggalin kamu juga.."
Ayana berucap dengan mata yang mulai berkaca kaca.
Dia teringat akan penderitaannya karena di khianati oleh Arman, dan mendapat cobaan yang begitu berat setelah sang anak tercinta mengidap penyakit yang merenggut nyawanya.
Mendengar ucapan sang istri, Rayan menjadi sedikit flashback ke beberapa kejadian sebelum mereka menikah.
Dimana Ayana memang tidak tertarik dengan kehadirannya, bahkan sering menghindarnya. Belum lagi dimana Rayan sudah dua kali melamar Ayana, tapi di tolak oleh Ayana.
"Mikirin apa lagi..?" Tanya Ayana tersenyum mengelus pipi Rayan dengan lembut.
Rayan menggeleng pelan sambil tersenyum menatap wajah istrinya.
"Gak ada sayang.. Ayo kita istrahat.." Ayana mengangguk dan memeluk Rayan dengan erat.
"Selamat tudur suamiku.. Mimpi indah.." Ucap Ayana pelan namun masih bisa di dengar oleh suaminya itu.
***
Di tempat lain, Emil yang belum bisa memejamkan mata barang sedikitpun, bangun dari tidurnya dan duduk bersandar dengan tangan memijat pangkal hidungnya.
__ADS_1
Di tatapnya dengan lesu ponsel yang tergeletak di sampingnya dengan perasaan kecewa.
"Kenapa kamu berubah Rayan.. Kenapa kamu gak sehangat kemarin.. Apa kamu masih membenciku..?" Gumam Emil menatap sedih ponselnya.
Sementara di tempat lain, Susi yang baru saja tiba dari kampung halamannya, di sambut dengan muka masam oleh Tristan.
Susi yang baru turun dari kendaraan umum dengan tas pakaian besar di tangannya, menoleh ke arah Tristan yang tidak peduli meski dia sedang kesusahan mengangkat barang barangnya.
Dengan kesal Susi mengangkat tas pakaian dan barang lainnya dan masuk ke halaman kontrakan menuju kamar miliknya yang tidak jauh dari pintu gerbang.
Susi yang kesal, berusaha mengacuhkan Tristan yang duduk di kursi depan pintu kamarnya.
Tristan membiarkan Susi masuk dengan membawa serta barang bawaannya terlebih dahulu.
Namun setelah hampir 15 menit lamanya, Susi belum juga keluar kamarnya dan membiarkannya duduk sendirian disana.
Tristan mengetuk pintu kamar Susi dengan kesalnya. Merasa di acuhkan, Tristan mendorong pintu kamar Susi dengan paksa dan berhasil.
Pintu kamar Susi bukannya berhasil di buka tapi berhasil rusak. Tristan sempat melongo melihat pintu kamar Susi rusak.
"Astaga anak ini.. Susiiii bangun.." Pekik Tristan melihat Susi tidur dengan nyenyaknya.
Susi yang memang kelelahan dalam perjalanan, di tambah lagi kesal pada Tristan, membuatnya tidur dengan pulasnya.
Tristan yang semakin kesal, terpaksa menyentil jidat Susi agar terbangun dari tidurnya. Dan benar saja, Susi akhirnya terbangun.
"Keluar atau aku teriak biar kamu di gebukin warga sini.. ?" Ancam Susi yang tidurnya di usik oleh Tristan.
"Kamu..!!! Awas kamu ya.." Kesal Tristan meninggalkan kamar kontrakan Susi dan pulang ke rumahnya tanpa mengunci pintu kamar Susi karena memang sudah tidak bisa di kunci lagi akibat rusak oleh ulah Tristan.
__ADS_1
***
Setelah sholat subuh, Ayana yang merasa pusing di kepalanya, terpaksa tidur lagi.
Rayan yang hanya bermaksud menemani Ayana tidur, akhirnya ketiduran juga.
Saat mentari pagi mulai masuk menyinari bumi, saat embun embun pagi yang jatuh di dedaunan mulai hilang olehnya, kicauan burung burung pun mulai nyaring terdengar bersahut sahutan, Ayana mulai terbangun dari tidur indahnya dalam pelukan sang suami.
Ayana tersenyum kecil mengelus punggung tangan Rayan yang berada di perut ratanya.
Rayan yang juga mulai terbangun, merasakan usapan lembut tangan sang istri.
Rayan bergerak pelan dan menyandarkan mukanya di tengkuk Ayana.
"Pagi sayang.. Masih pusing..?" Ayana mengangkat tangannya mengelus pipi sang suami yang sedang memeluknya dari belakang.
"Pagi juga suamiku.. Alhamdulillah udah mendingan.. Bangun mas, udah siang.. Mas kan harus ke rumah sakit.." Ucap Ayana lembut
"Iya sayangku.." Jawab Rayan mencium pipi samping Ayana sambil beranjak dari tidurnya karena memang waktu sudah menujukkan pukul 06 pagi.
Sementara di tempat lain, Susi yang baru mengetahui pintu kamarnya rusak setelah tetangga kamarnya membangunkannya saat tidak melintasi kamarnya, terbakar emosi.
Susi tahu bahwa itu ulah Tristan semalam. Susi menghentakan kakinya dan mengacak rambutnya karena kesal.
Belum lagi harus mengeluarkan uang untuk ganti rugi kerusakan tersebut, Susi juga mendapat omelan habis habisn oleh pemilik kontrakan tersebut.
"Cinta bertepuk sebelah tangan, dapat sial pula.. Awas kamu bucin akut akan ku beri perhitungan.. Ahhhhhh sial.." Susi benar benar kesal di buat Tristan sampai menjadi bahan tontonan teman teman kontrakannya.
.
.
.
.
__ADS_1
**BERSAMBUNG..
TERIMA KASIH TEMAN TEMAN YANG MASIH SETIA DISINI.. 🙏🙏💞💞💞**