
Rayan yang tidak suka berlarut larut jika ada masalah, inginnya yang harus segera di selesaikan, memaksa Ayana untuk segera menyelesaikan masalah yang ada. Namun Ayana tetap kekeh pada keinginannya.
Rayan akhirnya mengalah. Sebab semakin dia memaksakan kehendaknya, semakin pula membuat Ayana terisak dalam tangisnya.
"Yasudah.. Tapi nanti makan dulu ya..? Sejak sore kamu belum juga makan.." Ucap Rayan mengelus lengan Ayana
"Pangeran.. Mau main sama papa gak..?" Tanya Rayan beralih menghampiri sang anak yang sedang sibuk dengan dunianya sendiri
"Mo mama mama.." Jawab Pangeran membuat Rayan tersenyum kecut
Semua itu tak luput dari pandangan Ayana. Meski tidak tega, namun dia tetap diam.
Rayan akhirnya memilih keluar dari kamar sang anak menuju kamar pribadinya dan sang istri. Setelah menunaikan sholat isya yang tertunda, Rayan membaringkan tubuh lelahnya di ranjang masih dengan pakaian sholatnya.
Tanpa menunggu lama, Rayanpun terlelap dalam buaian mimpi.
Sementara itu, di sebuah rumah sakit, Arman yang sudah sadar beberapa menit yang lalu, terus memanggil nama Ayana dan Yuki secara bergantian. Sehingga membuat bu Mida kewalahan menenangkan Arman sebab Arman tak peduli dengan penjelasan bu Mida dan pak Rizal.
"Pah.. Coba panggil dokter pah cepat.." Desak bu Mida
"Iya ma.. Tunggu disini sebentar.." Ucap pak Rizal bergegas keluar ruangan ICU
Tak berselang lama, dokter Haris dan kedua perawat tiba di ruangan Arman. Setelah melakukan pemeriksaan beberapa saat, dokter Haris menyudahi pemeriksaannya.
"Boleh ikut ke ruangan saya sebentar..?" Ucap dokter Haris menatap kedua orang tua Arman yang kemudian di angguki keduanya.
"Mari ikut saya.." Ucap dokter Haris mendahului keluar ruangan ICU tersebut.
Sesampainya di ruangan pribadi dokter Haris, keduanya pun di persilakan untuk duduk di kursi depan meja kerja oleh dokter Haris.
"Begini bu, pak.. Biar saya jelaskan dulu kondisi pasien.." Ucap dokter Haris sebelum memulai
"Begini, pasien yang bernama Arman ini kini mengalami amnesia lakunar.. Dimana pengidap amnesia ini akan mengalami hilangnya ingatan mengenai suatu peristiwa secara acak.. Dan yang di alami pak Arman ini hanya dapat mengingat masa lalunya.." Jelas dokter Haris
Pak Rizal maupun bu Mida serentak menegangg dengan raut wajah sendu mendengar penjelasan dari dokter Haris.
"Jadi anak saya hilang ingatan dok..? Apa anak saya masih bisa sembuh..?" Tanya bu Mida dengan mata yang mulai berkaca kaca
__ADS_1
"Insya Allah bu.. Karena amnesia jenis ini tidak akan merusak ingatan di masa lalu atau yang baru saja terjadi.. Semoga berjalannya waktu, ingatan pak Arman akan kembali pulih.."
"Di harapkan dengan pengobatan dan di bantu untuk membangkitkan kenagan.. Tapi jangan terlalu memaksakan, pelan pelan saja.." Jelas dokter Haris tersenyum
"Syukurlah kalau begitu.." Ucap pak Rizal dalam syukur menatap dokter Haris
Sedangkan bu Mida kembali larut dalam kesedihannya.
"Baiklah dok, kalau begitu kami permisi dulu.." Ucap pak Rizal di angguki oleh dokter
***
"Ma, Ayana mana..? Kenapa dia gak ada disini..?" Tanya Arman dengan wajah yang masih sedikit memar kebiru biruan di bagian pelipis dan pipinya
Kini Arman yang kondisinya sudah semakin stabil, akhirnya sudah di pindahkan ke ruang perawatan. Sang Ayah yang memilihkan ruangan VVIP untuk anak tercintanya itu.
Tangan Arman terus terangkat memegangi kepalanya yang terbungkus perban. Pak Rizal yang duduk bersandar di sofa di ruangan depan tv, hanya bisa menarik nafas dan membuangnya perlahan mendengar rengekkan Arman.
"Ayana masih di rumah nak.. Kamu istrahat dulu ya..? Biar cepat sembuh.." Ucap bu Mida berusaha tersenyum di depan sang anak tercintanya.
"Yuki mana ma.. Apa dia tau Ayahnya di rumah sakit..?" Tanya Arman lagi yang membuat bu Mida sontak menatap ke arah sang suami.
Bu Mida menunduk sedih. Tak di pungkiri diapun sangat merindukan cucu kesayangannya itu. Meski bagaimanapun hubungannya dengan Ayana sebelumnya, namun kehadiran Yuki mampu membuatnya menerima sang menantu meski tetap tak begitu akrab.
"Benar.. Yuki pasti sedih.. Makasih pah.. Yuki jangan sampai tau dulu.." Ucap Arman yang akhirnya meloloskan air mata bu Mida
Karena luka di kepalanya semakin sakit, Arman pun memilih untuk menutup matanya dan istrahat.
Melihat bu Mida yang berusaha menahan tangisnya agar tak terdengar oleh Arman, pak Rizal menghampirinya dan membawanya dalam dekapannya. Tangannya terus mengelus lembut punggung sang istri hingga tenang.
***
Pukul 12 malam, Ayana terbangun akibat rengekan Pangeran yang terus meminta susu. Ayana terkejut saat melihat di samping Pangeran, bu Lela sedang duduk dengan botol susu di tangannya.
"Bu..? Kok ibu disini..?" Tanya Ayana mengerutkan keningnya menatap sang ibu
"Ibu sudah membangunkan kamu sejak tadi.. Tapi kamu tidurnya susah di banguninya.." Jawab bu Lela sembari memberikan susu pada Pangeran
__ADS_1
"Ibu tidur disini juga..?" Tanya Ayana belum mengerti
"Iya Ibu tidur disini.." Jawab sang Ibu
"Untung aja ranjangnya gede, jadi muat bertiga.. Kamu kenapa bisa tidur disini sementara suamimu di kamar kalian..?" Ayana bingung harus menjawab apa atas pertanyaan sang Ibu
"Baliklah ke kamarmu.. Pangeran sudah terbiasa tidur dengan Ibu.." Imbuhnya lagi
Ayana berpikir sejenak. Bimbang antara mau jujur pada sang Ibu atau menuruti sang Ibu untuk kembali ke kamarnya dimana sang suami tengah berada disana.
Melihat diamnya Ayana, bu Lela menebak pasti keduanya sedang ada masalah. Namun bu Lela yang tak terbiasa ikut campur dalam urusan rumah tangga sang anak dengan alasan agar tidak memperkeruh keadaan, memilih pura pura tak tahu.
"Ini sudah larut nak.. Kasihan suami kamu juga ketiduran sama sepertimu.. Sana balik kamar.." Ujar bu Lela
Mau tidak mau Ayana pun menuruti perintah sang Ibu. Meski masih berat untuk masuk ke kamarnya dan tidur seranjang dengan sang suami yang membuatnya kecewa hari ini.
Sesampinya di pintu kamar, Ayana membuka pintu kamar dengan perlahan. Keningnya memgerut saat mendapati lampu kamar yang masih menyala.
Dengan perlahan dirinyapun masuk ke dalam, dan sontak matanya melebar mendapati suaminya yang tidur terlentang masih lengkap dengan sarung dan pakaian sholatnya.
Melihat wajah sang suami yang teduh saat tidur, hati Ayana luluh dari egonya. Perlahan dirinya duduk di sisi ranjang samping sang suami. Tangannya terangkat melepas peci di kepala sang suami dan menyelimuti tubuhnya dengan penuh perhatian.
Rayan yang memang cukup lelah dengan aktivitas pertamanya di rumah sakit, tak terusik sedikitpun dengan apa yang di lakukan oleh istrinya itu.
Setelah mematikan lampu utama dan hanya menyalakan lampu temaram di atas nakas, diapun merebahkan tubuhnya di samping sang suami. Sesekali matanya melirik ke arah wajah Rayan.
Teringat kembali penjelasan Rayan kepadanya sewaktu di kamar sang anak. Bahkan permohonanya untuk membuktikan dengan mengajaknya mengecek cctv di rumah sakit.
Ayana percaya suaminya tidak berbohong. Dan Ayana tahu perasaan suaminya besar kepadanya. Hanya saja hatinya tetap sakit saat melihat suaminya di peluk oleh wanita lain. Terlebih itu adalah wanita di masa lalu suaminya.
Ayana memiringkan posisinya menghadap ke arah Rayan. Dengan perlahan digeserkannya tubuhnya mendekat dan memeluk sang suami.
"Maafkan aku.." Batinnya
**BERSAMBUNG..
HAI TEMAN TEMAN..
__ADS_1
TERIMA KASIH SUDAH MENYIMAK CERITA DALAM NOVEL SAYA INI, SERTA TERIMA KASIH SUDAH MAU MEMBERIKAN DUKUNGANNYA JUGA.. 🙏💞💞💞**