PERJUANGAN HIDUP SEORANG JANDA

PERJUANGAN HIDUP SEORANG JANDA
RIBUT LAGI


__ADS_3

Malam semakin larut. Rayan yang belum istrahat sama sekali sejak menangani pasien di ruang bedah dan di ruang rawat, merasakan pusing dan menggigil. Badannya terasa pegal.


Rayan terpaksa tidur di kamar kosong di kamar Yuki karena takut mengganggu Ayana yang sejak tadi belum juga membukakan pintu untuknya.


Adzan subuh mulai terdengar berkumandang dengan begitu merdunya.


Membangunkan setiap insan yang masih terlelap dalam buaian mimpi indah untuk menunaikan kewajiban menghadap sang pencipta.


Tidak terkecuali Ayana. Saat matanya mengerjap perlahan menyesuaikan cahaya penerangan di dalam kamar yang lupa ia matikan semalam, dia terlonjak kaget setelah tersadar dirinya ketiduran begitu lama.


Ayana menoleh ke arah sampingnya yang kosong. Menyadari suaminya tidak berada di kamar, Ayana bergegas turun dari tempat tidur menuju pintu kamar.


Ayana sempat bingung mencari suaminya dimana saat di semua ruang termasuk kamar tamu kosong.


Kamar terakhir adalah kamar Yuki. Ayana buru buru naik sampai lupa akan kehamilannya karena panik, takut suaminya pergi dari rumah.


Ayana mengelus dadanya dengan nafas yang masih memburu saat melihat Rayan tidur di ranjang Yuki dengan pulasnya.


Setidaknya Rayan tidur tanpa kedinginan disana. Kaki Ayana perlahan melangkah maju menghampiri suaminya.


"Mas.. Mas bangun sayang.. Kita sholat subuh dulu.." Ayana kaget tubuh Rayan terasa hangat saat tangannya mengelus lengan sang suami.


Ayana merabah pipi dan seluruh wajah Rayan untuk memastikan kondisi suaminya.


"Sayang.. Kamu demam kok gak bangunin aku..? " Ucap Ayana sedih menatap wajah sang suami yang hanya melirik sebentar lalu tidur lagi.


Ayana buru buru keluar kamar dan turun mengambil obat penurun panas yang selalu tersedia di rumahnya oleh suaminya.


Saat Ayana berbalik badan niat mengambil air minum untuk suaminya, Ayana di kagetkan dengan Rayan yang tiba tiba muncul dan memeluknya dengan erat.


"Mas Rayan.." Ayana mencoba mendongakkan kepalanya menatap wajah suaminya.


"Sayang.. Maafin aku ya..? Aku tau aku salah sam.."


"Udah sayang gak apa apa.. Mas Rayan minum obat dulu ya..? Biar demamnya turun.." Ucap Ayana memotong ucapan suaminya


Ayana melerai dekapan sang suami dan menuntunnya ke meja makan dan menarik kursi untuk suaminya duduk. Ayana mengelus pipi sang suami dengan lembut.


"Maaf aku ketiduran.. Kenapa mas gak bangunin aku aja..? Kenapa harus tidur di kamar Yuki..?" Ucap Ayana lembut


"Aku gak mau kamu terganggu aja sayang.. Kan suaminya udah bikin kesal, jadi gak apa apa jika harus dapat hukuman seperti ini. Ya meski gak enak tidur tanpa pelukan dari istri.." Ujar Rayan tersenyum simpul membalas tatapan Ayana.

__ADS_1


Mmuach..


"Kalau hukumannya seperti itu, mau..?" Tanya Ayana setelah mencium bibir sang suami.


Rayan yang mendapat perlakuan manis dari Ayana, mengangguk tersenyum.


Rayan menarik pinggang Ayana dan memeluknya erat. Ayana mengelus lembut rambut sang suami dengan perasaan bersalah.


"Sayang minum obatnya dulu ya..? Setelah itu kita sholat berjamaah.. Besok izin dulu ya..? Biar mas istrahat dulu.." Tutur Ayana lembut dan mendapati anggukan dari sang suami.


***


"Ok gak masalah.. Tapi jangan harap setelah anak ini lahir, kamu bisa menemuinya.."


"Apa maksud kamu..? Jangan pernah macem macem sama aku ya..?"


"Aaaa tolong.."


Susi terbangun dari mimpi buruknya dengan nafas yang masih memburu. Susi terus memegangi dadanya yang terasa nyeri.


Tangan kanannya sibuk mengusap keringat yang membasahi wajahnya.


"Ya Allah, kenapa aku bisa mimpi seperti itu..?" Gumamnya.


Dengan tergesa gesa Susi turun dari tempat tidurnya dan menuju kamar mandi untuk wudhu karena waktu sholat sudah sangat telat.


Setelah selesai sholat, Susi menuju dapur untuk membuat sarapan pagi untuknya. Pagi ini dia berencana untuk mengunjungi Ayana dan Yuki di rumah sakit.


Susi memang belum tahu soal meninggalnya Yuki karena pada saat itu Susi sedang berada di kampung halamannya.


"Gara gara ganti rugi kerusakan pintu, uang saku aku hanya cukup lagi untuk seminggu. Gak mungkin aku menemui pengecut itu lagi.. Semua ini gara gara bucin akut itu, bikin sial hidupku aja.."


"Entah apa maslah tuh orang sampe bisa nyusahin orang lain aja.." Celoteh Susi melihat persediaan beras tinggal sekali masak.


Sedangkan lauk pauk habis. Hanya tersisah telur empat biji saja di dalam kulkas.


"Apa kamu bilang..? Aku bikin sial hidup kamu..?" Susi terlonjak kaget mendengar pekikan Tristan tepat di belakangnya.


"Tristan..? Dari mana kamu bisa masuk..? Di rusakin lagi pintunya Hhaaa..??" Pekik Susi dengan emosi.


"Ni aku ganti kerusakannya.. Bahkan itu lebih dari cukup.. Sisahnya pake aja buat bahan dapur.." Ucap Tristan menyodorkan amplop berisikan sejumlah uang untuk Susi.

__ADS_1


Susi menatap amplop di tangan Tristan dan melirik wajah Tristan tidak percaya.


Susi menyipitkan matanya menatap Tristan untuk memastikan ucapan Tristan bukanlah sebuah candaan belaka.


Mendapat tatapan seperti itu, membuat Tristan memundurkan kepalanya dengan perasaan risih.


"Jangan bilang kamu menyogokku untuk sebuah informasi soal Ayana ya..? Jangan mimpi.." Ucap Susi menekan.


Tristan meraih tangan Susi dan menepukkan amplop tersebut dengan keras.


"Ini bukan sogokkan.. Ni ambil, jangan lupa sisahnya belanjakan untuk bahan dapur.." Tristan duduk di kursi dengan santai setelah amplop tersebut berpindah ke tangan Susi.


"Lahh terus kamu ngapain masih disini..?" Tanya Susi dengan ketus melihat Tristan duduk dengan tangannya sibuk memainkan ponselnya.


"Aku mau sarapan.." Jawab Tristan santai dengan terus fokus pada ponselnya, membuat Susi melebarkan matanya tidak percaya.


"Apa..? Sarapan..? Kamu pikir ini warung makan..? Sana pergi cepat.." Celetuk Susi mengusir Tristan dengan paksa.


"Kamu kenapa pelit gini sih..? Aku cuma mau sarapan doang juga.." Tristan menahan tubuhnya dari dorongan paksa Susi.


"Kamu pikir saya bini situ apa..?" Susi menatap sinis ke arah Tristan.


"Ayo ke KUA.." Tristan menarik tangan Susi.


Susi menepis tangan Tristan dan menghentakkan kakinya karena kesal. Kali ini Susi benar benar di buat kesal oleh Tristan.


Tristan yang melihat kekesalan Susi memuncak, semakin menemukan ide untuk terus berbuat usil.


Sementara di rumah Ayana, Rayan yang baru saja selesai sarapan, kembali ke kamarnya untuk istrahat.


Ayana benar benar memanjakan suaminya yang sedang sakit dengan penuh kelembutan.


.


.


.


.


**BERSAMBUNG..

__ADS_1


TERIMA KASIH BUAT KALIAN YANG MASIH SETIA MENUNGGU LANJUTAN EPISODE NOVEL SAYA INI.. 🙏🙏💞💞**


__ADS_2