
Telat. Bu Mida yang terlambat mencegah Arman masuk ke ruangan yang bu Mida sendiri pun tidak tahu itu ruangan apa. Tangan Rayan sudah berhasil membuka separuh pintu.
Langkah bu Mida pun terhenti seketika ketika melihat Arman yang memundurkan kakinya kebelakang. Dengan penuh penasaran sekaligus bingung apa yang terjadi, bu Mida pun mempercepat langkahnya lagi.
"Arman..?" Panggil bu Mida yang tak di hiraukan Arman
"Jadi ini..? ini alasan kamu gak datang menjengukku meski aku hampir saja mati..?" Amara Arman memuncak
"Arman..? Ada apa..? Apa yang terjadi..?" Ucap bu Mida mengelus punggung Arman yang sedang menatap tajam ke arah depan.
Mata bu Mida pun akhirnya mengikuti arah pandang Arman yang tak menjawab pertanyaannya itu. Sontak bu Mida terkejut melihat siapa yang berada di ruangan tersebut.
Pantas saja anaknya begitu syok dan terpancing emosinya. Meski bu Mida tahu ini salah.
Sementara yang di tatap pun tak kalah syok melihat Arman yang berdiri di depan pintu ruangan yang tak lain adalah ruangan pribadi Rayan. Dokter spesialis beda itu.
Arman melangkah masuk dan menarik paksa tangan Ayana keluar ruangan itu dengan penuh amarah. Meski kepalanya masih cukup nyeri dan sakit di area dalam yang dia rasakan, namun emosi Arman sudah terlanjur tak terkendali. Sehingga membuatnya sangat murka.
"Mas Arman lepas mas.." Sentak Ayana karena kaget dan bingung apa yang terjadi dengan mantan suaminya itu
Sementara bu Mida hanya diam tercengang di depan pintu ruangan dokter Rayan.
"Arman Arman.. Tunggu nak.. Lepasin tangan Ayana.. Kasihan dia.." Cegah bu Mida
Bersyukur di koridor tempat mereka berada sedang dalam keadaan sepi tanpa pasien ataupun pengunjung rumah sakit. Sebab disana hanya ruangan para dokter dokter spesialis yang kini sedang berada di ruangan meeting.
"Lepas ma.. Mama kenapa jadi belain dia..? Apa mama terlibat dalam perselingkuhan dia..?" Emosi Arman memuncak saat lengannya di cekal oleh bu Mida
Ayana yang mendengar hal itu sontak melebarkan matanya tak percaya. Bagaimana bisa dia selingkuh seperti yang di tuduhkan mantan suami itu. Sedangkan dia menikah dengan Rayan itu setelah hampir setahun dirinya menjadi janda dari Arman.
"Bukan begitu nak.. Nanti kita bisa bicarakan dengan baik baik.. Ini rumah sakit, dan kamu juga sedang sakit.." Ujar bu Mida mencoba mencari kata yang tepat.
Arman refleks menatap wajah bu Mida. Dengan cepat tangannya menarik selang infus yang masih menancap di tangan kanannya yang sedang mengganggam pergelangan tangan Ayana.
Ayana bingung dengan sikap Arman. Dengan penuh pertanyaan yang tertahan, Ayana menatap keduanya secara bergantian.
__ADS_1
"Ayana.. Ikut saja dulu.. Nanti ada yang mau saya bicarakan berdua dengan kamu.." Ucap bu Mida kemudian.
"Maaf ma.. Aku gak bisa lama lama.. Di rumah anakku sudah rewel mencariku.." Ucap Ayana jujur.
"Tapi Ayana.. Kali ini saya mohon.. Bantulah saya sekali ini.." Ucap bu Mida hampir putus asa.
"Yang kamu bilang anakmu, itu Yuki kan..? Ucap Arman menyela ucapan Ayana.
Ayana sontak menatap wajah Arman dengan frustasi. Dirinya benar benar di buat bingung. Ayana sudah tidak bisa menahan diri untuk diam. Namun belum sempat mulutnya mengucapkan satu kata, Arman kembali menyerangnya dengan perkataannya.
"Tega kamu Ayana.. Setelah kamu selingkuh, kamu juga menahan Yuki di rumah mu dan tidak membawanya untuk menjengukku disini.." Emosi Arman kembali memuncak.
"Apa..?" Ayana menatap mata Arman dengan tatapan tak percaya.
Bersamaan dengan kebingungannya, Ayana dan bu Mida di buat panik dengan rintihan Arman yang kesakitan sembari memegang kepalanya yang di perban. Matanya sampai memerah akibat rasa sakit yang menyerang kepalanya itu.
"Ma..?" Ayana menatap bu Mida
Bu Mida hanya bisa mengangguk. Ayana paham dan langsung membantu bu Mida untuk membawa Arman kembali ke ruangan perawatannya.
***
"Kemana buku itu..?" Frustasi Susi dengan sedikit menjambak rambutnya.
Tio yang sejak tadi terus memperhatikan Susi yang tak henti mondar mandir mencari sesuatu, tak tahan hingga menghampiri Susi yang sedang beridiri di ruang tv.
"Nyari apa..?" Susi terlonjak kaget saat Tio tiba tiba muncul di sampingnya.
"Iiiihhh bikin kaget orang aja.." Pekik Susi kesal
Tio tersenyum gemas melihat raut wajah Susi yang kesal karena ulahnya itu.
"Nyari apa..?" Tanyanya lagi
"Liat buku kayak gini ga..? Tapi warna putih.." Tanya Susi menunjuk buku yang tergeletak di meja depan mereka.
__ADS_1
Tio melirik buku yang di tunjuk oleh Susi tersebut. Tio membca judul dalam sampul buku itu. Rupanya buku itu sangat penting bagi Susi untuk skripsinya.
"Kalau hilang, biar aku belikan lagi.. Atau kita bisa ke perpustakaan saja, biar aku anter.." Ucap Tio tulus menatap Susi.
Susi melihat ketulusan sepupunya itu. Meski segimanapun sikapnya, Tio tidak pernah meluapkan amarahnya. Jangankan marah, mengabaikannya saja tidak pernah. Bahkan Tio masih tetap seperti Tio yang selama ini dia kenal.
"Sudah.. Gak usah menatapku seperti itu.. Nanti kamu jatuh cinta, bisa repot nanti dirimu yang selama ini berusaha menolakku.." Ucap Tio sembari bergegas ke kamarnya mengambil kunci mobil dan dompetnya.
Susi hanya tersenyum smirk menanggapi ucapan sepupunya itu. Namun akhirnya diapun memilih ikut dengan Tio yang sedang menuju mobil untuk mencari buku untuknya.
Di tengah perjalanan, Susi mendadak sakit kepala. Mungkin karena kebanyakan mondar mandir saat mencari buku hampir di setiap ruang dan sudut rumah sehingga kepalanya menjadi pusing seperti itu.
Tio melirik Susi yang sesekali memijat kening bahkan kepalanya. Tangan Tio reflek terangkat mengelus kepala Susi dengan penuh khawatir.
"Ada apa..?" Tanya Tio yang tak mendapat tanggapan dari Susi
Tio lantas menepikan mobilnya di sisi bahu jalanan yang sepi kendaraan. Susi sontak menoleh ke arah Tio heran.
"Kok berhenti..?" Tanya Susi mengerutkan keningnya
Tio tak menjawab. Dia justru sibuk mengecek kondisi Susi dengan raut wajah khawatir.
"Kamu kenapa sih..? Gak usah lebay.. Aku cuma pusing dikit aja.." Ucap Susi menepuk paha atas Tio.
Tio tercengang. Dengan diam, matanya terus menatap wajah Susi. Biasanya jika di tatap seperti itu, Susi akan menjahilinya. Tapi kali ini tidak.
Sejak Susi mengetahui perasaan Tio seperti apa kepadanya, tatapan Tio kali ini sungguh membuatnya salah tingkah. Wajah Susi perlahan memerah karena tatapan Tio yang semakin intens.
"Kenapa air mukamu berubah..? Apa kamu malu jika aku menatapmu sedekat ini..?" Tanya Tio menahan tawanya
"Sudah ah.. Aku turun disini aja.." Ucap Susi dengan tangannya yang siap membuka pintu mobil.
"Ehh gak, jangan.. Yasudah ayo kita lanjut lagi cari buku.." Ucap Tio bergegas menjalankan kembali mobilnya menuju tujuan utama mereka.
"Meski cintaku tak pernah kau anggap ada, tak pernah kau lihat, tak apa.. Asalkan kau tak membenciku, itu sudah cukup.." Batin Tio
__ADS_1
**BERSAMBUNG..
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN DAN BENTUK DUKUNGAN DARI TEMAN TEMAN SEMUA.. 🙏💞💞💞**