
Rayan beranjak dari ranjangnya dan berlari kecil menuju kamar mandi untuk membersihkan tububnya.
Sementara Ayana masih mengistrahatkan tubuhnya sejenak sambil menunggu sang suami selesai dari kamar mandi
20 menit berlalu, Rayan baru selesai dengan ritual mandinya dan keluar dari kamar mandi. Di liriknya sang istri masih berada di balik selimut dengan lelapnya.
"Sayang.. Bangun yuk.. Mandi dulu.." Rayan mengecup pipi sang istri dengan lembut.
Ayana mengerjapkan matanya mentapa Rayan yang sedang tersenyum mengelus lengannya.
Ayana yang terusik, terbangun dengan menarik selimut menutupi bagian depan tubuhnya.
"Mas.. Mas Rayan udah mandi..?" Tanya Ayana masih dengan mode ngantuknya.
"Sudah sayang.. Mandi dulu, airnya udah aku siapkan.." Ucap Rayan mengelus pipi Ayana.
Ayana menangkap tangan Rayan yang mengelus pipinya dan mengecup telapak tangannya pelan.
"Mas kenapa dari tadi senyum terus mas..?" Tanya Ayana menatap mata Rayan intens.
"Gak kenapa napa sayang.. Aku cuma senang aja.. Bahagia karena kamu memberikan aku sesuatu dengan sangat baik.. Terima kasih istriku.." Tutur Rayan memeluk Ayana.
"Makasih juga sayang karena sudah mau menerima segala kekurangku dan sudah memberikan yang terbaik juga.. Aku juga bahagia menjadi istri mas Rayan.." Ucap Ayana membalas pelukan sang suami
Saat Ayana melepas pelukannya, dia baru sadar bahwa Rayan belum memakai bajunya. Ayana mendongak menatap wajah Rayan.
"Mas pakai baju dulu kenapa..? Nanti bablas lagi kan ngulur waktu lagi ke rumah sakitnya.." Ucap Ayana cemberut, membuat Rayan tergelak.
"Iya sayang.. Iya sudah, sayang mandi dulu.." Ucap Rayan sambil beranjak menuju lemari pakaian. Sementara Ayana bergerak turun dari ranjang menuju kamar mandi.
***
"Yan, nanti kamu sampaikan ke Emil, papa bukannya tidak tertarik dengan saham yang dia tawarkan.. Jika dia mau, papa ingin menawarkan sesuatu untuknya.. Nanti kamu bantu proses ya..? Kasihan dia.." Tutur pak Sultan saat Rayan.
Saat ini Rayan dan Ayana sudah berada di rumah sakit dan saat ini tengah berkumpul dengan kedua orang tua dan mertuanya di ruangan Yuki.
"Iya pah.. Gimana papah aja baiknya seperti apa.. Nanti aku sampaikan ke Emil.." Jawab Rayan sambil bersender di dinding
"Ayana.. Kamu kenapa nak..? Kayak lemes dan sedikit pucat.. Kamu sakit..?" Tanya dokter Retno saat memperhatikan wajah menantunya
__ADS_1
"Ehh gak ma.. Aku gak kenapa napa.." Jawab Ayana bingung menjawab apa, dia menoleh menatap wajah Rayan
Bu Retno memperhatikan gelagat keduanya yang terlihat aneh di matanya.
"Gimana nak..? Kalian kan sudah hampir sebulan nikah.. Apa sudah ada tanda tanda..?' Tanya bu Retno mengetes keduanya.
Rayan menunduk dengan tangan menggaruk keningnya yang tidak gatal. Sedangkan Ayana menoleh melirik sang suami.
"Belum ma.. Doa kan saja ma semoga secepatnya di beri rezeki oleh Allah.." Jawab Ayana gugup menatap mertuanya.
"Mama ada ada aja pertanyaannya.. Gimana mau hamil, orang kita baru tadi kok berhubungan.." Gumam Rayan dalam hati.
Pak Sultan dan bu Retno saling tatap melihat tingkah laku keduanya yang seperti menyembunyikan sesutu.
"Yan, mmm papa mau bicara berdua sama kamu sebentar di luar.. Ayo.. " Ucap pak Sultan langsung berjalan keluar dari ruangan Yuki.
Rayan menoleh sebentar ke arah sang istri dan beranjak dari tempat duduknya mengikuti langkah Ayahnya keluar ruangan.
"Yan, apa kalian ada masalah..? Papa liat kamu dan Ayana seperti sedang menyembunyikan seauatu dari kami.." Tanya pak Sultan setelah mereka sudah berada di koridor rumah sakit.
"Gak ada pah.. Aku sama Ayana baik baik aja.. Sangat baik malah hubungan kami pah.." Jawab Rayan dengan jujur mengikis prasangka sang Ayah.
"Terus kenapa gelagat kalian seperti sedang ada sesuatu yang terjadi..?" Tanya pak Sultan lagi.
Pak Sultan menggelengkan kepalanya menatap sang anak yang ternyata sangat sensitif soal masalah yang sedikit intim.
"Yan, papa harap kalian tidak menunda untuk memiliki momongan.. Kamu juga jangan egois untuk tidak memperhatikan kebutuhan istri kamu.. Atau kalian belum sempat melakukannya karena alasan Yuki lagi sakit..?" Tanya pak Sultan menyelidik.
Rayan tergelak menatap Ayahnya.
"Iya pah..Kita baru sempat siang tadi saat di rumah.." Jawab Rayan malu malu.
Pak Sultan menepuk punggung Rayan dengan senyum usilnya.
"Salut papa sama kamu bisa tahan sampe berminggu minggu.. Atau jangan jangan anakku ini tidak cukup perkasa kali ya sampe butuh waktu selama itu cuma buat persiapan bertempur.." Ucap pak Samsul mengejek.
"Sembarangan papa ini.." Keduanya tertawa bersama hingga tawa mereka menggema memenuhi ruangan tempat mereka berada.
"Gimana rasanya..?" Usil sang Ayah.
"Rayan mengangkat keningnya beberapa kali sembari tertawa tanpa menjawab.
Di tempat lain, Arman sedang di landa frustasi karena tidak tahu alamat Ayana dimana.
__ADS_1
Ingin rasanya dia melabrak Rayan, suami dari mantan istrinya itu di rumah sakit, namun dia khawatir akan reputasinya tercoreng.
Karena saat ini, perusahaan yang dia bangun sedang berada di puncak kesuksesan.
Melihat sang suami sedang melamun di ruang kerjanya, Raya menghampiri dengan raut wajah penuh kekesalan.
Saat ini dia sangat butuh perhatian suaminya akan kondisinya yang sedang hamil.
Tapi Arman justru malah sering mengabaikannya dengan memikirkan Ayana yang kini sudah menjadi milik orang lain dan juga sulit bertemu dengan Yuki anaknya
"Mas.. Mas lupa apa kalau aku ini sedang hamil..? Aku kok kayak gak punya suami, setiap pengen sesuatu harus nyari Yanto dulu buat beliin..? Kerjaan mas cuma ngelamun aja tiap di rumah.." Raya yang awalnya hanya sabar, kini mulai protes pada sikap Arman
"Yang pentingkan terpenuhi apa yang kamu mau.. Aku capek sepulang dari kantor.." Arman menatap Raya datar
"Tapi mas, yang aku mau tuh kamu, bukan Yanto satpam rumah kita.." Ujar Raya kesal
"Mas mikirin Ayana..?" Tanya Raya kemudian
Arman menatap wajah Raya tidak suka dengan pertnyannya
"Raya.. Kamu tau bukan kalau antara kamu dan Ayana tidak ada bedanya di hati aku.. Aku berpisah dengan dia karena dia yang tidak bisa menerima pernikahan kita.. Bukan karena kami tidak ada lagi cinta.." Jawab Arman menahan emosinya
"Egois kamu mas.. Selama ini kamu hanya memikirkan diri kamu sendiri.. Kamu gak liat Ayana sudah menikah, dan dia sudah bahagia.. Apa lagi yang kamu harapkan dari dia..?" Sarkas Raya dengan tangisnya
Arman hanya diam menatap istrinya itu dengan datar. Betapa menyesalnya dia harus terpisah dari Ayana dan Yuki anaknya.
Impiannya selama ini adalah hidup rukun bahagia bersama kedua istri dan anaknya tanpa konflik rumah tangga.
Namun harapannya kini sangat jauh berbeda dari kenyataan yang ada.
.
.
.
.
**BERSAMBUNG..
TERIMA KASIH BUAT KALIAN SEMUA YANG MASIH SETIA MENUNGGU SETIAP EPISODE LANJUTAN KISAH AYANA.. 😇🙏🙏💞💞💞**
__ADS_1