PERJUANGAN HIDUP SEORANG JANDA

PERJUANGAN HIDUP SEORANG JANDA
HATI YANG LELAH


__ADS_3

Malampun tiba.


Tio yang baru saja sampai di rumahnya setelah sempat mampir di toko kue sang ibu, merebahkan tubuh lelahnya di kursi sofa di ruang tamu.


Matanya terpejam. Namun pikirannya entah kemana. Sementara perasaannya terus saja gunda gulana.


Baru kali ini hubungannya berjarak dengan Susi. Selama ini meski tinggal terpisah, mereka selalu merasa dekat. Tio bangun dari tidurnya dan mengusap kasar wajahnya frustasi.


Dengan gontai Tio berjalan memasuki kamar pribadinya untuk membersihkan tubuh dan menunaikan sholat isya.


Sementara di tempat lain, lebih tepatnya di kampung, Susi sedang tertunduk lesu mendapati pertanyaan sang Ayah tentang yang terjadi antara dirinya dan Tio yang sempat di dengar oleh Ayahnya.


"Bapak gak marah ataupun menentang hubungan kalian jika kalian memang saling suka.. Sah sah saja.. Ya kan bu..?" Ucap pak Rudin di selah selah makan malam mereka.


"Iya nak.. Kalian tak apa jika saling suka.. Ibu juga akan merasa aman jika kamu nantinya menikah dengan Tio.. Setidaknya ibu sama bapak kamu tau siapa suami kamu, dan gimana kepribadiannya.." Ucap bu Mila menimpali


"Gimana bisa bapak sama ibu bisa bicara seperti itu. Tio itu ponakan ibu, anak dari saudara kandung ibu. Kok bisa bisanya bapak sama ibu bicara seolah dia orang lain seperti itu." Susi terlihat kesal


Pak Rudin dan bu Mila saling tatap.


"Kaliankan bukan kakak beradik kandung. Jadi gak ada yang salah.." Ucap pak Rudin menatap wajah Susi

__ADS_1


"Tapi aku gak suka. Hati aku juga bukan buat dia. Aku punya pilihan sendiri." Ucap Susi seolah tidak mau di ganggu guggat.


Kedua orang tuanya saling tatap dengan perasaan yang tak menentu. Terlebih bu Mila, dia terlihat sedikit khawatir sang anak akan salah memilih suami.


Bayangan kekerasan dalam rumah tangga Susi yang sebelumnya, masih sangat melekat di ingatan bu Mila.


"Siapa nak..? Kenapa kamu gak kenalkan pada kami..?" Tanya bu Mila sedih


"Assalamualaikum.." Belum sempat Susi menjawab, mereka di kagetkan dengan kepulangan Rizki dan Rama, adik Susi yang kedua dan si bungsu


"Waalikumsalam.." Jawab mereka serentak


"Loh kok pulang malam nak..? Katanya nginap seminggu di rumah nenek..?" Tanya bu Mila kemudian


"Ibu cuma demam biasa aja.. Sudah mendingan juga.." Ucap bu Mila


Rizki melirik Susi yang hanya duduk diam tanpa menyapanya. Rizki tahu bahwa Susi khawatir Rizki akan menceritakan kejadian sewaktu dia berkunjung di kontrakan Susi. Dimana Tristan sedang marah di depannya.


"Sudah cerita kak sama ibu dan bapak soal laki laki itu belum..?" Pertanyaan Rizki sontak membuat Susi menunduk memejamkan matanya


Bu Mila dan pak Rudin spontan menoleh ke arah Rizki kemudian beralih menatap Susi dengan bingung.

__ADS_1


"Rizki kenapa sih pake datang segala.. Bahas Tristan lagi.." Batin Susi


***


"Tolonglah dokter Rayan.. Saya mewakili anak terutama istri saya, memohon maaf pada dokter dan istri dokter.. Kali ini saya mohon tolonglah saya, saya mohon dokter bisa bersedia mengoperasi anak saya Arman. Atas prikemanusiaan, selamatkanlah dia.. Kasihan Arman, dia sudah sangat menderita sekarang.." Ucap pak Rizal memohon dengan kedua tangan di depan dadanya


Pak Rizal seolah hilang semua sikap wibawanya demi sang anak. Dia rela merendahkan martabatnya demi sang anak.


Ayana yang masih setia menemani Rayan yang sedang mengurus kepindahannya, hanya diam di samping Rayan.


Dalam hati Ayana sunggu sangat sedih melihat mantan Ayah mertuanya yang sampai memohon seperti itu. Tapi dia hanya bisa diam tanpa bisa ikut campur.


"Jangan seperti ini pak.. Saya memang sudah mulai di terima hari ini, tapi saya belum bisa langsung bertugas.. Itu sudah prosedur dari pimpinan rumah sakit ini.. Saya tadi baru saja dari ruangan beliau untuk tanda tangan kontrak.. Saya mint maaf, dan saya sudah berkata jujur.." Ucap Rayan menjelaskan karena tidak tega melihat pak Rizal sampai memohon


Sementara itu, Ayana tersentuh melihat sikap sang suami. Dia tahu bahwa Rayan memang berhati lembut. Seperti apapun tegasnya dia, tetap saja hatinya lembut dan tidak tegaan pada orang orang sekitar dia berada.


"Saya mohon dokter tolong bantu saya.. Anak saya butuh penanganan dok.. Kalau bukan dokter Rayan, siapa lagi yang bisa saya mintai tolong.." Ucap pak Rizal putus asa.


Rayan menatap sendu wajah pak Rizal.


"Saya tetap tidak bisa pak.." Ucap Rayan pelan

__ADS_1


BERSAMBUNG


TERIMA KASIH BAGI KALIAN YANG MASIH SETIA MENUNGGU KELANJUTAN KISAH DALAM NOVEL INI.. 🙏😇💞💞💞


__ADS_2