PERJUANGAN HIDUP SEORANG JANDA

PERJUANGAN HIDUP SEORANG JANDA
RUMAH SAKIT


__ADS_3

"Jangan kurang ajar kamu sama suami.. Aku ini suamimu, jangan jadi durhaka kamu.." Ucap Arman meluapkan emosinya


"Aku gak ada niat membangkang selama mas tidak mementingkan diri mas sendiri.." Ucap Rika di seberang sama dengan isak tangisnya.


"Oh jadi gitu rupanya.. Jangan pernah kamu kembali kesini lagi tanpa seizin aku.. Ingat itu.." Ucap Arman membentak Rika dan lngsung memutuskan panggilan telephone nya.


Di seberang sana, Rika menangis terisak di dalam kamarnya. Dia tidak menyangka, dirinya tidak lain hanyalah istri pemuas nafsu suaminya. Sebab Rika merasa jika dia benar di cintai oleh Arman, Arman pasti akan mengejarnya dan memohon untuk tidak pergi meninggalkannya sama seperti yang Arman lakukan kepada Ayana.


Kini Rika merasa bersalah kepada Ayana sebab dia sudah masuk ke dalam kehidupan Ayana dan Arman, dan menjadi penyebab rumah tangga Ayana hancur berantakan. Terlintas di ingatannya bayangan wajah putri kecil Ayana, yang cantik dan lucu. Seorang anak yang tiada berdosa, menjadi menderita akibat keegoisan orang tuanya.


Rika semakin terisak tatkala membayangkan bagaimana dengan nasib anak yang di dalam kandungannya. Sementara Yuki yang terlahir dari rahim seorang wanita yang sangat dicintai oleh Arman saja sangat menderita karena sikap Armam, apalagi anak yang dia kandung yang hanya istri biasa.


Arman memang tidak pernah berkaca pada setiap kejadian yang menimpahnya. Keekoisan sungguh sangat merajai seluruh jiwanya. Entah sampai kapan Arman menjadi sadar bahwa semua masalah yang terjadi di dalam hidupnya tiada lain buah dari keserakahan dan ke egoannya sendiri.


Kini Arman sangat merasa hancur. Proyek besar hilang dari genggamannya. Perkara yang dia tuntutkan kepada Ayana tidak mendasar sehingga mendapat hambatan ketika di ajukan. Istri keduanya pergi meninggalkannya. Dan semua itu justru semakin membuatnya Emosional, bukan di jadikan sebagai intropeksi diri agar lebih baik.


***


Lima bulan berlalu. Kini usia kandungan Ayana mulai memasuki tuju bulan. Rancananya Ayana dan Rayan beserta orang tua mereka akan mengadakan acara tuju bulanan seminggu lagi. Dan hari ini, Rayan telah mendapat tugas kemanusiaan bersama beberapa petugas medis lainnya di salah satu desa yang sedang mendapat musibah banjir.


Dengan penuh tanggung jawab serta hatinya yang memang terpanggil untuk misi kemanusiaan itu, Rayan beserta rombongan mulai berangkat menggunakan bus milik rumah sakit.

__ADS_1


Sehari berlalu, Rayan merasakan kerinduan yang mendalam pada Ayana. Ini pertama kali baginya mereka berjauhan setelah menikah. Saat jam makan siang tiba, Rayan memanfaatkan waktu untuk menghubungi sang istri tercintanya.


"Sayang.. Baik baik disana ya..? Besok aku pulang.. Tugasku disini udah selesai.." Ucap Rayan by phone dari seberang sana


Ayana tersenyum.


"Iya mas.. Aku disini baik baik aja kok.. Mas selesaikan dulu tugasnya disana dengan baik.. Aku pasti akan tunggu mas pulang.." Ucap Ayana memberi support pada sang suami.


"Iya sayang.. Love you.." Rayan mengakhiri obrolan mereka dengan ucapan yang manis, membuat Ayana tersenyum bahagia.


Siang itu, saat Ayana sedang menikmati rujak sambil bersantai di saung kebun buah di belakang rumahnya, tiba tiba merasakan nyeri di bagian perut dan pinggangnnya. Tangannya terus berusaha mengelus bagian yang sakit sembari berinteraksi dengan sang buah hati agar mau bekerjasama untuk membuatnya merasa nyaman.


Namun semakin lama, rasa sakit di bagian perut bawahnya semakin bertambah. Bersyukur bi Ina yang mau memetik sayur di bagian ujung kebun buah tersebut melihat nona majikannya itu meringis kesakitan.


Dengan sigap bi Ina berlari menuju ruang tengah dan menghubungi dokter Retno untuk mengabarkan kondisi Ayana, mrnantu dokter Retno. Setelah mendapat perintah dari bu Retno, bi Ina pun bergegas ke depan mencari pak Arif untuk segera menyiapkan mobil untuk majikannya, kemudian kembali ke dalam dan membawah Ayana menuju mobil lalu berangkat menuju rumah sakit pelita indah.


Di rumah sakit, dokter Retno dan para petugas medis lainnya sudah siap menunggu kedatangan Ayana. Tidak butuh waktu lama, Ayana pun akhirnya tiba di depan UGD. Petugas medis dengan begitu cekatan memindahkan Ayana ke atas brankar dan bergegas mendorongnya masuk ke dalam ruang UGD di pimpin oleh dokter Retno, mertua Ayana.


"Mbak, mbak Lela tunggu disini sebentar ya..? biar saya tangani dulu Ayananya.." Pinta dokter Retno kepada besannya.


"Iya mbak, saya percayakan Ayana pada mbak.." Ucap bu Lela menggenggam tangan dokter Retno, yang di angguki oleh dokter Retno dan bergegas masuk ke dalam ruangan.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, dokter Retno pun akhirnya memindahkan Ayana ke ruang bersalin. Ayana terpaksa harus melahirkan bayinya secara prematur ketika darah di jalan lahir bayi semakin banyak seiring kontraksi yang semakin memuncak.


***


"Andi, tolong lanjutkan.." Andi teman sejawat Rayan yang satu tugas di misi kemanusiaan bergegas mengambil alih pekerjaan Rayan yang sedang mengganti perban pada luka pasien.


"Kamu gak apa apa..?" Tanya Andi melihat Rayan mengelus dadanya sembari menghirup napasnya dalam dalam


"Iya gak apa apa.. Aman.." Jawab Rayan menatap Andi.


Rayan membuka jas kebanggan para dokter yang di pakainya lalu menepi di sudut ruangan balai. Perasaannya semakin tidak karuan.


"Ada apa ini..? Semoga keluargaku baik baik aja disana.." Gumam Rayan dengan tangan yang terus mengelus dadanya yang terasa tidak nyaman.



"Dok, handphone dokter bunyi terus tuh.." Ucap salah satu tim relawan yang juga sedang beristirahat di sudut balai tersebut.


"Oh, iya.. Terima kasih.." Ucap Rayan gagap karena tersadar dari lamunannya tentang Ayana istrinya


"Bu, Ibu sekarang dimana..?" Tanya Rayan panik bercampur khawatir saat menerima kabar dari Ibu mertuanya tentang Ayana.

__ADS_1


**BERSAMBUNG..


TERIMA KASIH BUAT KALIAN SEMUA YANG SUDAH MAMPIR DISINI.. 🙏🙏💞💞💞**


__ADS_2