
Rayan bergegas bangkit dan berjalan menghampiri pintu.
Cekkleekk..
"Emil..?" Rayan terkejut melihat Emil dari balik pintu saat ia membukanya
Emil tersenyum kecil menatap Rayan dari balik pintu. Sementara Ayana yang mendengar suaminya menyebut nama Emil, perlahan menghampiri suaminya yang berdiri di ambang pintu setelah melepas mukena dan menyimpannya.
"Emil..? Ada apa Mil..? Oh iya ayo masuk dulu.." Ayana melirik suaminya sebentar saat Emil masuk melewati Rayan yang setia berdiri di tempatnya.
"Semoga gak ada ambekan setelah ini.." Batin Rayan menatap istrinya
"Maaf pagi pagi udah kesini dan mengganggu kalian.." Ucap Emil menatap Ayana
"Iya gak apa apa.. Gak usah sungkan gitu.. Oh iya, ada yang bisa kami bantu..? Tanya Ayana menatap Emil
Emil menatap balik Ayana dengan diam. Serasa berat untuk mengungkapkan niatnya yang menemui pasangan suami istri itu
"Mil, ada apa..? " Tanya Ayana lembut
Dia tahu Emil ragu menyampaikan tujuannya menemui dia dan Rayan
"Apa saya boleh minta bantuan pada kalian..? " Tanyanya memberanikan diri meski terlihat ragu
Ayana menoleh sebentar pada sang suami yang sejak tadi masih setia berdiri di tempatnya dengan menyandarkan punggungnya di tembok samping pintu masuk. Rayan sengaja tidak ikut bergabung karena khawatir sang istri nantinya salah paham lagi.
"Iya Mil selagi kami bisa, akan kami bantu.." Jawab Ayana tulus
Emil melirik Rayan yang terlihat seperti menjaga jarak dan sejak tadi tidak ikut menanggapi permintaannya. Ayana yang menyadari itu, menatap keduanya secara bergantian.
"Oh iya, mau minum apa Mil..?" Tanya Ayana sambil berdiri menatap Emil
Ayana sengaja mengalihkan tatapan Emil pada Rayan dengan menawarkan minuman meski sebenarnya dia tulus
"Oh, gak usah Ayana aku udah minum jus sebelum kesini.." Jawab Emil gelagapan
__ADS_1
Ayana tersenyum dan kembali duduk di tempatnya semula
"Begini Ayana, saya kesini mau minta tolong pada kalian untuk membantu menjual saham saya pada Ayahnya Rayan.. Saat ini saya sangat butuh biaya untuk pengobatan saya.." Ucap Emil menatap keduanya secara bergantian
Ayana tersenyum simpul menatap Emil. Ingin dia bertanya kenapa harus menjual saham, bukankah dia memiliki suami dan keluarga. Namun pertanyaan itu tidak berani dia lontarkan.
"Kalau saya, Jujur saja saya gak begitu paham soal yang seperti itu Mil.. Bukannya saya gak mau bantu.. Tapi mungkin mas Rayan bisa bantu menyampaikannya pada Ayahnya.. Insya Allah beliau bersedia.." Jawab Ayana tersenyum
Emil menoleh ke arah Rayan menunggu tanggapan darinya. Dia sangat berharap Rayan bisa membantunya kali ini. Karena dia sendiri bingung harus meminta bantuan pada siapa lagi selain pada kekasih masa lalunya itu
"Nanti aku coba bahas sama papa dulu.. Mudah mudahan beliau bisa bantu.. Atau jika mau, saya bisa bantu pertemukan dengannya langsung hari ini juga.." Tutur Rayan pada Emil
Emil menoleh menatap wajah Ayana mendengar ucapan Rayan. Ayana tahu, Emil pasti khawatir akan reaksinya yang bisa saja cemburu padanya
"Mas hubungi papa aja dulu.. Siapa tau papa bisa hari ini.. Nanti mas temani Emil aja untuk menemui papa.." Ucap Ayana menatap sang suami
Emil kaget mendengar ucapan Ayana. Dia bingung kenapa Ayana bisa bersikap biasa aja padahal dia tahu siapa dia di masa lalu Rayan
"Iya udah nanti aku coba hubungi papa.. Nanti aku kabari lagi bisa gaknya hari ini.." Jawab Rayan menatap sang istri lembut
Emil yang tiba tiba merasa canggung, memilih undur diri.
"Iya sama sama.. Nanti kami kabarin ya..? " Ucap Ayana tersenyum, yang di angguki oleh Emil
Selepas kepergian Emil dari kamar mereka, Ayana bergegas menyiapkan minuman hangat dan roti untuk sarapan sang suami. Rayan yang di minta Ayana mengantarkan Emil hingga ke kamar rawatnya karena Emil terlihat susah berjalan dengan normal, masuk dan bersandar di tembok menatap Ayana dengan datar
Ayana menyadari kedatangan sang suami. Namun dia tetap fokus mengolesi rotinya dengan selai
"Sayang.. Kamu sengaja ya minta aku nganterin dia ke kamarnya..? Lepas itu kamu diemin aku lagi kayak kemarin lagi..?" Tutur Rayan bersedekap dada menatap istrinya
Ayana tersenyum mendengar ucapan Rayan. Dia tidak menyangka Rayan masih mengungkit kejadian dimana dia mendiaminya karena rasa cemburunya pada sang suami.
"Gak mas.. Aku tadi kasihan sama dia.. Mas gak liat tadi dia kesusahan untuk berjalan..?" Jawab Ayana lembut
"Sini duduk mas.. Sarapan dulu.."
Rayan menghampiri istrinya dan duduk di sofa dengan wajah di tekuk. Dia belum percaya kalau istrinya tidak cemburu. Saat Ayana memberikan minuman dan roti pada suaminya, dia tersenyum melihat tatapan suaminya yang terlihat sedang menyimpan sesuatu di benaknya
__ADS_1
Ayana kemudian menunduk dan mencium pipi sang suami dengan gemasnya.
***
"Ana, Yuki sebenarnya sakit apa sih..?" Tanya Susi menatap sedih melihat Yuki kecil sedang terbaring sakit
"Yuki mengidap penyakit lupus Sus.. Dia sudah cukup lama sakit, tapi baru kali ini dia di rawat seperti ini.." Jawab Ayana menahan tangisnya agar tidak pecah di depan sahabatnya itu
Susi yang saat berkunjung ke rumah Ayana sepulang dari kampus, mendapat kabar bahwa Yuki sedang di rawat di rumah sakit sudah sepekan lamanya langsung beranjak dari rumah Ayana menuju rumah sakit tempat dimana Yuki di rawat. Dan saat ini Susi sedang bersama dengan Ayana di ruang rawat Yuki di ruang VVIP.
"Ana.. Ini semua dari mantan suami kamu bukan..?" Tanya Susi dengan polosnya saat melihat fasilitas perawatan Yuki yang super mahal
"Bukan Susi.. Ini semua dari suami dan mertuaku.. Mas Arman dari awal Yuki sakit pun mana peduli.. Dia baru niat membiayai Yuki setelah aku dan mas Rayan sudah resmi menikah.." Jawab Ayana menatap Susi
Susi berdecak kagum pada dokter tampan yang kini menjadi suami sahabatnya itu dan merutuki mantan suami sahabatnya
"Oh iya Ayana.. Tristan nanyain kamu terus sejak kemarin.. Aku males jadinya di temui cuma buat nyariin kamu.." Tutur Susi cemberut
Ayana tersenyum geli menatap sahabatnya itu
"Kamu suka sama Tristan..?" Tanya Ayana menggoda
Susi salah tingkah mendengar pertanyaan Ayana yang menatapnya penuh selidik
"Aku cuma bete aja dia nemuin aku mulu sejak kapan hari kok.. Mana ada aku suka sama orang kayak dia.." Elaknya tidak berani menatap wajah Ayana
Ayana tergelak melihat reaksi Susi yang siapa pun melihatnya pasti tahu bahwa dia sedang berbohong
"Kalau kamu suka sama dia, jangan menyerah.. Gak ada salahnya kok cewek yang ngedekatin duluan.. Buat dia peka sama apa yang kamu rasakan buat dia.. Insya Allah kalian bisa berjodoh.." Ujar Ayana tersenyum
Susi tersenyum simpul menanggapi ucapan Ayana itu. Di hatinya bersorak ria mendapat saran dari sahabatnya itu. Hingga mereka di kejutkan dengan kedatangan mertua Ayana yang ingin menjenguk cucunya Yuki
**BERSAMBUNG..
HAIYYY TEMAN TEMAN..
TERIMA KASIH YA SUDAH MEMBACA NOVEL SAYA INI.. SEMOGA KALIAN SUKA..😇🙏🙏💞💞**
__ADS_1