
Dengan cepat bu Mida menoleh ke arah pak Rizal dengan sorot mata tajam.
"Pa.. Apa maksud papa hah..? Apa papa mau anak kita mati di bunuh orang itu..? Hah..?" Pekik bu Mida dengan tangisnya.
"Cukup ma cukup.. Ini rumah sakit.. Bukan tempat pembunuhan.. Apa dengan bertahan, dengan ego mama ini, Arman akan sembuh begitu..?" Pak Rizal tak tahan lagi dengan sikap istrinya.
"Di dalam sana, anak kita sekarat.. Jangan karena sikap mama ini, Arman pergi meninggalkan kita karena penanganan yang telat.. Dan itu karena mama.." Imbuhnya lagi
Bu Mida membuang mukanya masih dengan air mata yang berderai.
"Dok, lakukan.. Saya akan tanda tangani dan segera mengurus administrasinya sekarang.." Ucap pak Rizal menatap dokter Haris dengan yakin sembari berbalik untuk menuju ke ruang administrasi.
"Tunggu sebentar pak.." Cegah dokter Haris
Pak Rizal dan bu Mida serentak menoleh menatap wajah dokter Haris dengan bingung.
"Maaf sebelumnya, tapi dokter Rayan sudah tidak bersedia lagi setelah mendapat penolakan. Sementara dokter Eza masih di singapura." Ucap dokter Haris dengan jujur
Dokter Haris tidak mau mengambil resiko lagi setelah melihat tanggapan dari bu Mida. Kali ini dia hanya menunggu keputusan dari keluarga pasien dengan tanpa desakan atau paksaan segimanapun kondisi pasien.
Pak Rizal langsung melemas mendengar ucapan dokter Haris. Air mata bu Mida pun jatuh tanpa isakan tangis.
__ADS_1
"Jadi gimana anak saya dok..?" Tanya pak Rizal putus asa.
"Maaf pak.. Pasien memang dalam kondisi yang tidak baik baik saja.. Terus terang saja saya katakan kalau pasien saat ini harus segera memdapatkan penanganan kembali karena pendarahaan di kepalanya. Jika telat, maka pasien tidak akan bisa selamat.." Jelas dokter Haris
Pak Rizal dan bu Mida langsung melemas.
"Sementara dokter ahli beda yang terbaik sudah di depan mata.. Tapi beliau sudah tidak bersedia lagi karena mendapat tentangan dari keluarga pasien. Saya sebagai dokter ahli saraf dan otak, tidak dapat melakukan apapun jika tidak ada dokter ahli beda." Lanjutnya lagi
"Kenapa rumah sakit sebesar ini tidak memiliki banyak dokter ahli beda..?" Protes bu Mida dengan lantang.
"Dokter Maya cuti hamil.. Dokter Dayu cuti nikahan.. Sedangkan dokter Eza sedang di utus tugas di singapura selama tiga minggu dan dia baru berangkat malam tadi.. Dan saat ini kami ketambahan dokter spesialis ahli beda, dokter Rayan, tapi beliau mendapat penolakan oleh ibu sendiri.." Jawab dokter Haris
"Maaf, saya harus kembali bertugas.. Kalau ada apa apa, hubungi suster jaga.. Permisi.." Ucap dokter Haris pamit
Pak Rizal hanya menatap kecewa pada bu Mida. Dengan frustasi, pak Rizal pergi dari hadapan bu Mida tanpa sepata kata pun membuat bu Mida kembali menangis.
***
Setelah makan siang, Susi memilih bersantai di bawah pohon rimbun samping rumahnya. Dia sengaja terus menjaga jarak dengan Tio. Tio cukup peka dengan sikap Susi kali ini. Dan hari ini diapun memutuskan untuk kembali ke kota dengan sendirian.
Susi yang duduk membelakangi teras rumah, tidak dapat melihat Tio yang keluar rumah dengan tas ransel di punggungnya yang berisi pakaian selama di rumah Susi.
__ADS_1
"Susi, Tio sudah mau berangkat ni.." Panggil bu Mila pada sang anak
Susi mendengar Tio akan pulang, tentu saja reflek berbalik kaget.
"Mau pulang..? pulang ke kota maksudnya..?" Tanya balik Susi.
Tio hanya diam dan meraih tangan kedua orang tua Susi dan mencium punggung tangan keduanya secara bergantian. Susipun akhirnya menghampiri ketiganya.
"Yo kok mendadak..? Aku belum siap siap..?" Tanya Susi kesal
"Aku mau balik dulu karna harus kerja.. Kamu disini saja dulu.. Kuliah juga belum masukkan..?" Ucap Tio sambil memasukan ranselnya di bangku penumpang mobilnya.
Susi mengerutkan keningnya. Dia merasa Tio menyembunyikan sesuatu darinya.
"Bu, bapak, Tio pulang dulu.. Assalamualaikum.." Pamit Tio sebelum akhirnya dia masuk ke dalam mobilnya dan menyalakan mesin mobil.
"Iya hati hati nak.. Salam buat mama kamu ya.." Jawab bu Mila dan pak Rudin saling menimpali dan melambaikan tangan pada ponakannya itu.
Sementara Susi yang berada di samping mobil Tio, hanya diam ketika Tio seolah mengacuhkannya. Hingga mobil Tio menajuh dari depan rumah dan hilang dari padangan mata mereka.
Pak Rudin dan bu Mila langsung bergegas masuk ke dalam rumah. Sebelumnya Tio sudah memberi tahukan pada kedua orang tua Susi alasan dia harus pulang dan alasan kenapa Susi masih berada di rumah orang tuanya.
__ADS_1
Di perjalanan, Tio terus memikirkan Susi. Tentang ucapannya, sikapnya, semua melekat di benak Tio. Dia bingung, dari mana Susi bisa tahu tentang perasaannya itu. Karena ketika obrolannya dengan sang Ibu pada malam itu, dia melihat jelas Susi masih berada di tempat duduknya semula di kamarnya.
BERSAMBUNG