PERJUANGAN HIDUP SEORANG JANDA

PERJUANGAN HIDUP SEORANG JANDA
TATAPAN


__ADS_3

Apa urusannya dengan kalian..? Apa kalian tersakiti jika kami menjawab..? Atau kalian akan bahagia jika pertanyaan kalian yang tak pantas itu kami jawab..?" Ujar Tio menatap tak suka pada ketiga wanita itu.


Ketiga ibu itu saling menatap satu sama lain kemudian saling tarik menarik lengan untuk segera pergi dari tempat mereka berada.


Bu Mila dan pak Rudin juga Susi saling menatap satu sama lain.


"Sudahlah.. Ayo kita masuk.." Ajak pak Rudin pelan


"Iya pak.. Tio ambil barang barang di mobil dulu.." Jawab Tio sembari membuka pintu mobil bagian penumpang dimana barang bawaan mereka di letakkan.


"Susi, bawa ibumu masuk dulu.. Nanti tambah sakit.. Biar bapak sama Tio yang masukin barang kalian.." Perintah pak Rudin pada sang anak yang di angguki olehnya


***


"Kalian besok kesini.." Ucap dokter Retno pada Ayana dari seberang telephone


Ayana melirik ke arah sang suami yang sedang menatapnya.


"Tapi ma.. Bukankah tadi mama bilang mama sendiri yang dengar penolakan oleh mamanya mas Arman..?" Jawab Ayana


"Iya mama gak sengaja mendengar saat mama melintas.. Tapi dokter haris tadi bilang kalau kondisi Arman benar benar drop.. Mama khawatir Arman tidak akan dapat bertahan lama.. Biar bagaimanapun, kalian perlu bicara dan saling memaafkan secara langsung.. Biar dia juga tenang.." Tutur dokter Retno berusaha bijak


Ayana membuang napasnya dengan kasar. Bimbang yang kini dia rasakan. Sungguh ingin dia lakukan jauh sebelum mertuanya memintanya. Akan tetapi mantan mertuanya itulah yang membuat niatnya urung.


"Ayana..?" Panggil dokter Retno saat Ayana tak memberi respon


"Hufffh.. Ya ma.. Nanti aku sama mas Rayan kesana besok pagi.." Jawab Ayana pada akhirnya

__ADS_1


"Baiklah.. Yasudah mama tutup telephone nya ya..? Assalamualaikum.."


Ayana menyerahkan ponsel sang suami setelah menjawab salam dari ibu mertuanya. Terlihat raut wajah Ayana menunduk lesu.


"Ada apa..? Mama ngomong apa..?" Tanya Rayan mengelus pucuk kepala sang istri


"Mama minta kita kesana besok pagi.. Kondisi mas Arman semakin menurun.." Jawab Ayana pelan.


Rayan meraih tubuh Ayana masuk ke dalam dekapannya.


"Iya besok kita kesana.." Rayan tahu perasaan Ayana dan mencoba memahaminya.


Ayana tidak menjawab. Hanya pelukan erat yang mampu mewakili perasaannya. Ada banyak hati yang harus dia jaga, termasuk suaminya.


Keesokan harinya. Ayana dan Rayan pun tiba di rumah sakit pukul delapan pagi. Mereka langsung menuju ruang ICU. Terlihat di sudut ruangan, bu Mida dan pak Rizal tengah duduk di sebuah kursi yang tersedia disana.


Ayana menarik napasnya sebelum melanjutkan langkahnya kembali. Sementara Rayan yang mengetahui itu, menggenggam jemari sang istri untuk menyalurkan kekuatan lewat genggamannya bahwa sang istri tidak sendirian, ada dia yang selalu ada untuknya.


Tatapan Ayana lurus ke depan tanpa melirik ke arah sang suami yang tengah meliriknya. Rayan dapat merasakan tubuh sang istri menegang.


Ayana baru sadar ketika Rayan mengelus punggung tangannya. Seketika raut wajahnya berubah. Seolah menahan sedih namun takut Rayan salah paham pada dirinya.


"Ayo sayang.. Semoga semua baik baik saja.." Rayan menarik pelan tangan Ayana menghampiri kedua orang tua Arman yang sedang tertunduk sedih di depan pintu ICU.


"Assalamualaikum.." Sapa Rayan


Sementara Ayana hanya tertunduk sedih.

__ADS_1


Bu Mida menoleh ke arah suara. Begitupun pak Rizal. Namun hanya pak Rizal yang menjawab salam dari Rayan.


"Ngapain lagi kalian kesini..?" Tanya bu Mida dengan tatapan tajam dengan air mata yang menetes di pipinya.


***


Setelah selesai menyuci pakaian, Susi melanjutkan pekerjaan rumah lainnya. Hari ini Susi sengaja membiarkan sang ibu untuk istrahat tanpa melakukan pekerjaan rumah.


"Kaos sama celana aku yang kemarin mana ya..? Aku mau nyuci tapi gak ada di kamar.." Susi yang sedang menyiapkan bekal untuk sang Ayah, tersentak saat Tio tiba tiba muncul di sampingnya.


Tio pun demikian. Dia ikut kaget dengan reaksi Susi.


"Maaf.." Ucap Tio menyengir rasa bersalah


"Sudah di cuci.. Tuh di jemuran.." Jawab Susi sembari melanjutkan pekerjaannya.


"Oh yasudah.. Makasih ya..? " Ucap Tio tersenyum


Susi tidak menanggapi. Dia terus sibuk dengan kegiatannya itu. Tio terdiam melihat sikap Susi yang tidak seperti biasanya. Susi yang biasanya selalu ceria dan suka becanda, kini terlihat berbeda. Banyak diam, bicara seperlunya hingga terlihat menjaga jarak, itulah Susi yang kini di depannya.


Tio menarik pelan lengan Susi agar menghadap ke arahnya. Susi yang terkejut, hampir saja jatuh karena posisi kakinya yang tak siap saat tubuhnya memutar.


"Apaan sih.." Sentak Susi karena kesal


"Kamu kenapa sih..? Kalau kurang suka aku berada di rumahmu, baiklah aku akan pulang siang ini juga.." Ucap Tio menatap wajah Susi lekat


**BERSAMBUNG..

__ADS_1


TERIMA KASIH BUAT KUNJUNGANNYA TEMAN TEMAN DI NOVEL SAYA INI.. 🙏💞💞


TERIMA KASIH JUGA ATAS SEGALAH BENTUK DUKUNGANNYA.. 🙏🙏💞💞😘😘**


__ADS_2