
"Jika mas masih mencintai Ayana, kejarlah dia mas.. Aku ngalah, aku juga harus membahagiakan diriku, meski tanpa kamu.." Ucap Raya keluar dari kamarnya, membuat Arman tersentak kaget.
Arman tidak menyangkah istri yang selama ini cuek dengan segalah yang dia lakukan, kini menuntut lebih padanya.
Meski benar dia menikahi Raya tidak hanya karena tertarik dengan segalah yang ada padanya, namun dia tidak suka Raya menuntut lebih.
Begitulah Arman, yang memilih beristrikan dua, namun ego hati merajainya hingga istri pertamanya memilih mundur. Dan kini istri kedua merasa lelah dengan sikapnya.
***
"Anaa.. Ya ampuun, kangeenn.." Lengkingan suara Susi menggema memenuhi seluruh penjuru lorong ruang PICU
Ayana dan Rayan yang baru saja keluar dari ruangan PICU melihat kondisi Yuki disana, terkejut dengan teriakan Susi memanggilnya.
Susi berlari menghampiri keduanya dengan senyum cerianya seperti biasa.
"Susi, kamu sadar gak ini dimana..? Kecilkan suara kamu.." Tegur Ayana menatap sahabatnya itu.
"Hehe maaf.. Maklum penyanyi.." Jawab Susi menyengir menatap Ayana.
Jelas saja Ayana tergelak mendengar ucapan sahabatnya itu. Karena Susi tidak pernah bisa menyanyi dengan baik.
Suaranya sumbang dan fals, belum lagi nada kemana musik kemana. Lengkap sudah
"Sama siapa kamu kesini..?" Tanya Ayana kemudian
"Sendirilah.. Makanya jodohin, biar gak jomblo lagi.." Jawab Susi cuek, membuat Rayan dan Ayana tersenyum geli
"Ponakan cantik ku gimana kabaranya..?" Tanya Susi melirik ke arah pintu ruang PICU
"Alhamdulillah, atas kemurahan Allah, Yuki masih di beri kehidupan hingga saat ini.. Minta doanya, semoga Yuki bisa sehat seperti dulu lagi.." Tutur Ayana sendu
"Aamiin.. Semoga doa kita semua dijabah oleh Allah Subhanahu wa ta'ala.." Ucap Susi tulus
"Mmm, Ayana.. Aku mau ngomong sesuatu sama kamu boleh..?" Tanya Susi ragu, takut kalau Ayana dan suaminya ada acara lain
Ayana melirik ke arah sang suami. Rayan mengangguk memberi izin untuknya.
Sementara Rayan sendiri masih harus menangani beberapa pasiennya yang sudah menunggu untuk di tangani.
"Iyasudah.. Ayo ke kantin aja, aku mau sarapan bubur disana.." Ucap Ayana mengiyakan
Keduanya pun melangkah keluar menuju kantin rumah sakit yang berada di lantai dasar, tepatnya di samping parkiran rumah sakit.
"Ana.. To the point aja ya..? Aku mau nanya, mertua kamu namanya dokter Retno bukan..? Dokter yang pratek di rumah sakit Pelita indah..?" Tanya Susi setelah mereka sedang menyantap sarapan bubur di kantin rumah sakit
"Iya, beliau dokter kandungan di rumah sakit pelita indah.. Kenapa emang..?" Tanya Ayana mengerutkan keningnya menatap sahabatnya itu
__ADS_1
"Berarti benar, dia dokter yang waktu itu.. Hadu aku harus gimana ni, lambat laun semua akan ketahuan juga.." Monolog Susi
"Kamu kenapa..? Kamu kenal dengan beliau..?" Tanya Ayana menatap Susi
"Eh gak kok.. Aku cuma, kebetulan aku pernah liat dia di rumah sakit pelita indah, mmm waktu dulu, waktu aku sakit.." Jawab Susi gelagapan dan terbata bata
"Oh begitu.. Iyasudah makan dulu, keburu dingin.. Nanti setelah ini, temani aku ya beli sesuatu di apotik.." Ucap Ayana melanjutkan sarapannya
"Iya siipp.. Oh iya, aku perhatikan wajah kamu makin kesini makin cerah aja Ay..? Apa dokter tampan itu selalu ngasih mood booster ya tiap malam..?" Pertanyaan Susi membuat Ayana tiba tiba tersedak.
Pertanyaan Susi membuatnya malu. Sebab bagi Ayana, hal seperti itu bersifat sangat rahasia baginya.
Susi yang kaget melihat Ayana tersedak, langsung menyodorkan air dalam gelas miliknya. Ayana tanpa sadar pun langsung meminumnya.
Ayana menatap sahabatnya itu dengan datar setelah selesai minum. Susi menyengir menyadari ulahnya.
"Hehe maaf Ayana sayang.. Kan cuma nanya.." Ucap Susi menyadari tatapan Ayana
"Cepat habisi sarapannya.. Jangan nanya lagi yang aneh aneh.." Ujar Ayana
***
"Sayang, baju piyamaku mana ya..?" Tanya Rayan yang baru selesai mandi
Ayana yang sedang merapikan tempat tidur untuknya dan suami di kamar rawat Yuki, telonjak kaget saat tangan kekar Rayan melingkar di pinggangnya
"Mas Rayan, pakai baju dulu mas.." Ucap Ayana yang malu di dekap oleh Rayan yang berbalut handuk hanya di bagian perut bawahnya
"Kenapa sayang..? Katanya tadi kan sebentar.. Jadi biarkan begini dulu sebentar.." Ucap Rayan mulai mengisengin istrinya
"Mas ih, nanti ada orang yang masuk kan bisa malu mas.. Ini rumah sakit, jangan samakan kayak di rumah.." Jawab Ayana meminta pengertian sang suami
"Iya sayang.. Tapi nanti malam, mau ya..?" Tutur Rayan mencium pipi Ayana sekilas dari samping, Ayana pun mengangguk pelan.
Ayana sebenarnya merasa kasihan kepada suaminya. Sebab sejak mereka resmi sah menjadi sepasang suami istri, mereka tidak bebas melakukan apa yang mereka mau sebagai suami istri di karenakan kondisi yang tidak kondusif.
Terlebih ini adalah pernikahan yang pertama bagi Rayan, tidak sepertinya yang sudah kedua kalinya.
Belum lagi dia di sibukan dengan sakitnya Yuki, anak dari hasil pernikahannya yang pertama. Hampir semua waktu dan perhatiannya tercurah untuk Yuki.
Ayana menghampiri Rayan yang baru saja selesai memakai pakaiannya dengan handuk yang masih di tangannya untuk mengeringkan rambut basahnya.
Ayana bergerak pelan memeluk suaminya dari belakang dan menyandarkan pipinya ke punggung sang suami.
"Mas Rayan.. Maafin aku ya..? Aku gak bermaksud menolak keinginan mu mas.. Jika mas mau melakukannya sekarang, aku siap.." Tutur Ayana pelan
__ADS_1
Rayan mengelus punggung tangan Ayana yang melingkar di perutnya dengan lembut.
Rayan memutar menghadap ke istrinya dan memeluknya dengan begitu posesif, seakan dia takut kehilangannya.
"Kenapa harus minta maaf sayang, Hmmm..? Aku gak apa apa sayangku.. Kan nanti malam juga dapat ini kan..?" Ucap Rayan mencoba mengerti.
Ayana mendongak menatap Rayan. Dia lantas menggeleng pelan
"Gak mas.. Jika mas mau, aku beneran siap kok.. Gak harus nunggu nanti malam.." Jawab Ayana meyakinkan suaminya
Rayan menuntun Ayana duduk di tepi tempat tidur dan menatapnya tersenyum penuh arti.
"Aku inginnya nanti malam aja.. Biar maksimal.." Ucap Rayan menggerakkan keningnya naik turun, membuat wajah Ayana merona karena malu
"Kok mukanya merah sayang..? " Tanya Rayan menggoda
"Mas ih.. Sudah ah, aku mau mandi dulu.. Udah gerah.." Ucap Ayana niat menghindari suaminya karena malu
Rayan tergelak tawa karena sudah berhasil menggoda istrinya hingga membuat pipinya merona.
Rayan memang sangat suka melihat istri cantiknya itu ketika tersipu malu karenanya. Wajah natural Ayana, tatapan mata Ayana, selalu mampu meneduhkan hatinya
Tokk.. Tokkk.. Tookkk..
Suara pintu kamar yang di ketuk dari luar, mengejutkan Rayan yang sedang menatap pintu kamar mandi dimana istrinya baru saja masuk kesana.
"Emil..?" Saat pintu di buka oleh Rayan, terpampang wajah Emil dari balik pintu tersenyum ke arahnya
Rayan mendadak bimbang. Jika dia tidak mempersilakan Emil masuk, dan hanya berdua di luar kamarnya seperti itu, dia khawatir istrinya cemburu.
Terlebih dia sudah mengetahui siapa Emil di masa lalunya. Namun jika dia mempersilahkan masuk, istrinya masih berada di dalam kamar mandi.
Dia takut hanya berduaan dengan Emil dalam satu ruangan tertutup
"Mas..? Emil..?" Ayana yang lupa membawa handuk mandinya, keluar kamar mandi untuk mengambil handuknya tersebut. Tanpa sengaja dia melihat Rayan dan Emil yang berada di depan pintu kamarnya yang sedikit terbuka, sedang mengobrol berdua
.
.
.
.
**BERSAMBUNG..
HAII KALIANNYA AKU, TERIMA KASIH YA SUDAH MAMPIR KESINI.. 🙏🙏💞
__ADS_1
MOHON DUKUNGANNYA TERUS YA.. BIAR LEBIH SEMANGAT LAGI.. 🙏🙏💞😇**