
"Aku juga gak ngerti ma.. Ini bukan kehendak aku sendiri.. Perasaan ini datang begitu saja.. Kalau bisa ku tawar, aku menawarnya untuk tidak datang di hati ini, bersemayam disini.." Tutur Tio menunjuk dadanya kemudian menatap lurus ke depan.
Bu Mina bingung harus mengucapkan apa. Jika dia menentang, Tio berhak atas perasaannya pada siapapun sekalipun itu untuk Susi. Sebab ikatan darah di antara keduanyapun tidak ada sama sekali.
Tio adalah anak angkat yang dia ambil dari pihak rumah sakit sejak bayi. Dulu waktu kecelakaan yang menimpahnya dan sang suami, menyebabkan dia keguguran dan rahimnya harus di angkat oleh dokter.
Seminggu pasca operasi, bu Mina tidak sengaja melihat bayi mungil sedang di gendong oleh suster jaga untuk di tenangkan dari tangisannya. Setiap hari bu Mina terus memperhatikan bayi mungil itu.
Dan setelah sang suami sudah bisa berobat jalan, begitupun dengannya, setiap kali mereka chek up bu Mina masih melihat bayi mungil itu di rumah sakit. Dengan rasa penasarannya, bu Mina memberanikan diri untuk menggali info tentang siapa bayi itu.
Ternyata sang ibu kandungnya meninggalkannya di rumah sakit setelah dua hari kelahirannya tanpa ada yang tahu keberadaannya. Sampai pada saat kesepakatannya bersama suami, mereka pun memutuskan untuk mengadopsi bayi itu.
Bayi itu kini sudah tumbuh dewasa. Saat ini sudah berumur 22 tahun. Tumbuh menjadi anak yang cerdas, tampan, dan penyayang. Tidak sekalipun Tio membiarkan ibunya merasa kesepian dan sedih sejak kepergian sang Ayah di usia remajanya.
"Mama kenapa diam saja..? Apa mama marah karena aku memiliki perasaan aneh ini..?" Tanya Tio melihat diamnya sang ibu.
"Gak nak.. Perasaanmu pada Susi, bukan itu yang membuat mama diam.. Mama cuma.." Bu Mina bingung harus jujur pada Tio bahwa perasaannya terhadap Susi itu wajar dan sah di matanya atau tetap diam.
__ADS_1
Melihat kesedihan sang ibu, Tio merasa bersalah.
"Ma.. Mama gak usah khawatir.. Aku gak akan menuruti perasaanku pada Susi.. Aku akan pastikan, hubungan kami sebagai saudara baik baik saja.. Aku juga gak akan mengatakannya pada Susi, Susi gak akan tahu ma.." Ucap Tio tersenyum mengelus punggung tangan sang ibu.
Dari balik pintu, Susi mendengar semua obrolan antara ibu dan anak itu dengan jelas. Susi terkejut saat tahu kebenaran bahwa perlakuan lembut dan perhatian Tio selama ini kepadanya tak lain karena Tio memiliki perasaan lebih kepadanya.
Susi menekan dadanya yang berdetak kencang akibat terkejut dengan telapak tangannya. Seketika itu juga Susi merasa canggung. Dia bingung harus bagaimna jika berhadapan dengan sespupunya itu. Bergegas dia masuk ke dalam kamar sebelum ketahuan oleh sang tante dan sepupunya itu.
***
Dengan perasaan yang masih terbawa kesal akibat perkataan bu Mida terhadap istri tercintanya, di tambah lagi dengan laporan kerja yang di kirim oleh sekertaris Ayahnya tentang laporan keuangan hotel milik sang Ayah lewat email, membuat otak Rayan seperti di tumpuki rumus ribuan banyaknya.
"Mas.. Sudah malam kok masih disini..? Ayo tidur, besok lagi aja di lanjutin kerjaannya.." Rayan terkejut saat pintu ruang kerjanya tiba tiba terbuka dan menampakkan sang istri di ambang pintu mengajaknya untuk istrahat.
"Iya sayang.. Kamu duluan saja.. Aku tutup laptopnya dulu.." Jawab Rayan yang masih terkejut.
"Yasudah aku tunggu di kamar ya mas.." Ucap Ayana pamit.
__ADS_1
"Iya sayang.." Jawab Rayan cepat
Setelah pintu ruang kerjanya di tutup kembali oleh sang istri, Rayan kembali memeriksa hasil laporan tersebut sekali lagi. Di raihnya ponsel yang tergeletak begitu saja di atas meja kerjanya lalu mulai mencari nomor ponsel seseorang yang akan dia hubungi.
"Baiklah.. Saya tunggu laporan anda secepatnya.." Ucap Rayan pada seseorang di seberang telephone sembari menutup sambungan telephone nya.
***
"Nak.. Kamu rapiin lagi baju dan barang barang kamu.. Kamu tidak perlu kemana mana, tinggalah disini.. Jangan pikirin apa apa, kamu fokus aja sama kuliah kamu.. Dan benar kata Tio, kamu gak perlu kerja lagi.. Nanti kamu kewalahan mengerjakan tugas akhir kamu kalau harus kerja juga.." Ucap bu Mina tersenyum menatap sang ponakan.
Susi diam tak menjawab. Dia sendiri bingung harus bagaimana. Sementara jantungnya terus saja berdetak kencang, di tambah perasaan canggung saat Tio ikut masuk di kamarnya dan memintanya untuk nurut apa kata sang tante.
Andai dia tidak tahu perasaan Tio terhadapnya, akan lain ceritanya. Tapi kini Susi sudah terlanjur mengetahuinya. Dan itu semakin membuatnya canggung dan tak nyaman.
Tio akhirnya keluar kamar Susi dan menuju kamarnya. Dia sengaja keluar agar Susi bisa leluasa ngobrol berdua dengan sang Ibu. Barangkali jika hanya ada mereka berdua, Susi akan nurut untuk tidak pergi dari rumahnya.
**BERSAMBUNG..
__ADS_1
TERIMA KASIH BUAT TEMAN TEMAN YANG MASIH MAU MAMPIR.. 🙏🙏💞💞😘😘**