PERJUANGAN HIDUP SEORANG JANDA

PERJUANGAN HIDUP SEORANG JANDA
KEKECEWAAN AYANA


__ADS_3

"Gimana keadaannya dok..? Apa yang terjadi sebenarnya..?" Rayan di buat panik hingga lupa hari ini dia harus bertugas di ruang beda.


"Kejadiannya seperti apa, saya sendiri belum tau pasti.. Mungkin suster Leni yang tau kronologinya seperti apa.. Tapi untuk kondisinya saat ini, Alhamdulillah sudah mulai stabil.. " Jelas dokter Sinta pada Rayan.


Setelah selesai dari ruangan dokter Sinta, Rayan menuju ruang ICU dengan perasaan dan pikiran kalut.


Disana Emil sedang dirawat karena luka sayat pada lengan dan pergelangan tangannya yang membuat dia hampir kehilangan nyawa.


Yang lebih parah adalah luka di bagian pergelangan tangannya yang membuat nadinya hampir putus.


Beruntung nyawanya tertolong karena pada saat kejadian, suster Leni sang perawat pribadinya datang tepat waktu.


Pagi pagi buta, Emil yang tidak dapat tidur dengan nyenyak, memilih keluar kamar rawatnya menuju taman rumah sakit seorang diri disaat yang lain masih tudur dengan damai dalam mimpi.


Melihat ada bayangan seseorang di sudut lorong rumah sakit tersebut sedang duduk termenung dengan isakan tangis yang terdengar pilu, Emil mencoba menghampirinya.


Namun sialnya, saat Emil mulai mendekat, terlihat seorang wanita seumuran dengannya itu kaget dan spontan mengarahkan barang tajam yang berada di tangannya dan mengenai tangan Emil saat Emil mencoba menangkis serangan wanita itu.


Belum lagi lengannya yang ikut terkenak oleh serangan kedua. Melihat Emil tersungkur di lantai, barulah wanita tersebut sadar dan panik.


Kejadian ini sudah di tangani oleh pihak berwajib saat suster pribadi Emil segera melapor ke pihak rumah sakit dan kepolisian.


***


Hari ini sudah genap dua mingggu kepergian Yuki dari kehidupan Ayana.


Disaat di kediaman Ayana, keluarganya dan para asisten rumah tangga tengah sibuk menyiapkan semua kebutuhan untuk acara tahlilan nanti malam, Rayana justru sibuk di ruang bedah karena ada pasien yang harus mendapat penanganan di hari yang sama.


Sudah hampir empat jam sudah Rayan menangani pasiennya di meja operasi.


Setelah empat jam berlalu, Rayan dan tim medis lainnya baru keluar dari ruangan bedah tersebut.


Belum juga istrahat dari rasa pegal dan capek yang luar biasa, suster pribadi Emil sudah menghampiri Rayan dan memintanya menemui Emil di ruang ICU seperti permintaan Emil.


Sebelumnya Emil sudah di perbolehkan di pindahkan ke ruang perawatan.


Namun karena kondisinya yang kembali lemah dan harus mendapat donor darah lagi, terpaksa dokter masih harus menahannya di ruang ICU.


"Mil, gimana keadaan kamu..?" Tanya Rayan setelah dia berada di ruangan dimana Emil di rawat.


Emil yang tadinya memejamkan mata karena rasa pusing menyerangnya, membuka matanya perlahan melirik ke arah suara berada.


"Rayan.. Kamu disini.." Ucap Emil lemah.


"Yan, aku boleh minta tolong..?" Tanyanya kemudian.

__ADS_1


"Boleh.. Kalau aku bisa, aku akan usahakan.." Jawab Rayan santai


"Yan.. Kamu tau aku disini gak punya siapa siapa.. Dan kamu jugakan dokter disini.. Aku minta tolong sama kamu, aku ingin kamu yang merawat aku Yan.."


"Aku lebih nyaman dan tenang jika kamu yang merawat aku. Setidaknya selama luka aku belum sembuh.. Aku mohon.." Tutur Emil memohon dengan nada yang sangat pelan karena kondisinya yang masih lemah.


Rayan menggaruk keningnya yang tidak terasa gatal saat mendengar permintaan Emil. Rayan menjadi kebingungan sendiri mencari jawaban.


Jika dia tidak mengiyakan permintaan Emil, di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, sungguh tidak tega melihat kekasih di masa lalunya itu menderita seperti itu tanpa keluarga di sisinya.


Namun jika dia mengiyakan, bagaimana dengan Ayana. Dia tidak mau Ayana cemburu dan sakit hati melihat dia dekat bahkan merawat kekasih di masa lalunya itu.


***


Di rumah, Ayana yang merasakan keram di perutnya, terpaksa tidak ikut menyiapkan persiapan untuk tahlilan Yuki.


Ayana yang baru selesai konsultasi dengan dokter Retno by phone, memilih istrahat di kamarnya seperti permintaan sang mertua.


Ayana di buat bingung oleh Rayan yang sejak pagi tadi tidak dapat di hubungi.


Hingga membuat Ayana harus meminta bantuan dokter Mika untuk mengecek keberadaan Rayan takut terjadi apa apa pikirnya.


Ayana cuma bisa menarik nafas dan menghembuskannya dengan perlahan, untuk menetralkan perasaannya saat tanpa sengaja dokter Mika menyampaikan keberadaan Rayan yang sedang menemani Emil di ruang ICU.


Ayana menyandarkan punggungnya di sandaran tempat tidur dengan perasaan gelisah. Pandangannya mengarah ke ponsel yang tergeletak begitu saja di kasur.


Ayana terus mengucap istighfar dengan mata terpejam. Sampai pada akhirnya dia ketiduran dengan posisi duduk bersandar.


Tanpa terasa, hari sudah mulai sore. Ayana yang mulai merasakan pegal di pundaknya, perlahan mulai mengerjapkan matanya.


Ayana melirik jam yang berada di atas nakas samping tempat tidurnya, sudah mulai menujukkan pukul 05 sore.


Ayana kemudian meraih ponselnya yang tergelatak di kasur dan mulai memeriksa apa ada pesan atau telephone dari suaminya, namun kosong.


Karena hari sudah sore dan dia harus mengecek kesiapan acara di lantai utama, Ayana pun memilih bersiap siap.


Setelah isya selesai, acara 14 malam kepergian Yuki pun di gelar dengan menghadirkan beberapa kyai serta anak anak yatim dari beberapa kalangan.


Dan nantinya akan ada bagi bagi sedekah untuk para tetangga di lingkungan rumah bu Lela sebelumnya yang juga turut di undang oleh Ayana dan Ibunya.


Sementara itu, ketika menuju acara pamungkas yaitu bagi bagi santunan untuk anak anak yatim serta sembako untuk para tetangga mereka dari tempat tinggal mereka dulu, Ayana mendengar suara Rayan yang berada di depan tengah menyapa para tamu yang hadir.


Ayana di buat sedih, di buat sakit hati, namun Ayana berusaha menahan agar tidak nampak di depan para tamu yang masih berada di rumahnya.


Dia berusaha menampakkan senyum seolah dia baik baik saja.

__ADS_1


***


"Sayang, aku minta maaf.. Aku benar benar gak bisa meninggalkan tugas. Aku bahkan belum sempat visite setelah pasien ku selesai di operasi sayang karena aku ingat hari ini ada acara 14 hari kepergian anak kita.." Ayana spontan menoleh ke arah Rayan saat Rayan menyebut Yuki dengan kata anak kita oleh Rayan.


"Yang aku tau Yuki anakku seorang.. Jika dia anak kamu juga, kenapa kamu bahkan gak menghubungi aku sekedar ngasih kabar datang terlambat..?" Ujar Aima menahan gemuru di hatinya.


"Aku paham akan kesibukan kamu sebagai dokter mas.. Tapi aku gak paham tentang kamu yang menyempatkan waktu luang kamu di sela sela kesibukan kamu untuk menemani dia.." Lanjutnya lagi.


Ayana memang tidak bisa menyimpan sesuatu yang mengganjal di hatinya saat itu juga.


Apa yang dia rasa, dia sampaikan tanpa menuda waktu berlarut larut lagi.



Rayan terkejut mendengar ucapan istrinya. Rayan menebak, apa yang disampaikan istrinya pasti tidak lain karena laporan dari Mika, sepupunya.


"Sayang.. Semua gak seperti yang kamu bayangin sayang.. Apa kamu gak percaya lagi sama aku..? Apa.."


"Justru aku percaya sama kamu mas.. Justru aku percaya, makanya kamu melakukan sesuka hati kamu hari ini.." Ayana terpaksa memotong ucapan Rayan karena terbawa emosi.


"Gak gitu dong sayang.. Ok baiklah.. Sekarang aku harus apa..? Aku siap nerima hukuman apa saja demi maafmu.." Rayan meraih tangan Ayana namun Ayana menarik pelan tangannya membuat Rayan lesu.


"Maaf mas, jika aku sudah keterlaluan sebagai istri. Tapi aku minta waktu untuk sendiri.." Ucap Ayana memalingkan wajahnya dari tatapan sang suami.



Rayan paham sifat Ayana yang satu ini. Setiap dia punya masalah hati, Ayana selalu ingin menyendiri bahkan tak jarang juga menghindar.


Rayan juga harus bisa memahaminya sebagai suami, terlebih Ayana saat ini sangat sensitif karena kehamilannya.


Rayan melangkah perlahan keluar dari kamar mereka dan membiarkan Ayana sendirian didalam seperti permintaannya.


Rayan bersandar di tembok menatap pintu kamarnya yang tertutup saat sayup sayup terdengar olehnya suara tangisan Ayana dari dalam kamarnya.



Rayan tahu, dia memang bersalah kali ini. Pasti setelah ini, akan ada lagi omelan dari orang tuanya tentang hal yang sama.


.


.


.


.

__ADS_1


**BERSAMBUNG..


TERIMA KASIH BUAT TEMAN TEMAN SEMUA YANG MASIH TETAP MAU MENUNGGU LANJUTAN TENTANG KISAH AYANA.. 🙏🙏💞💞**


__ADS_2