PERJUANGAN HIDUP SEORANG JANDA

PERJUANGAN HIDUP SEORANG JANDA
SEBUAH PERTANYAAN


__ADS_3

Karena Ayana terus bergerak dengan posisi memeluk suaminya, membuat Rayan akhirnya terusik juga.


Dengan perlahan Rayan membuka kedua matanya yang sejujurnya masih sangat mengantuk itu.


"Sayang.." Suara Rayan terdengar sangat pelan


Ayana yang terkejut, mendongakan wajahnya menatap sang suami.


"Mas.." Ayana menatap wajah Rayan dengan sendu


Sedangkan yang di tatap, sesekali masih mengerjapkan matanya karena kantuk yang masih menyerangnya.


Ayana yang salah paham, mengira sang suami sedang dalam mode mendiaminya balik, membenamkan wajahnya ke dalam dada Rayan sembari terus mengeratkan pelukannya.


Akibat dari ulahnya itu, membuat kelelakian Rayan terusik. Kantuknya yang sejak tadi susah di tahan olehnya, kini perlahan hilang. Ayana yang tak menyadari perubahan itu, masih terus memeluk Rayan dengan erat.


"Sayang.." Panggil Rayan dengan suara seraknya


Dengan cepat Rayan meraih bibir Ayana saat Ayana mendongak menatapnya. Dengan tanpa aba aba itu, tentu saja membuat Ayana terkesiap.


Melihat Ayana sudah mulai sulit menyesuaikan nafasnya, Rayan melepas ciumannya dengan perlahan. Tatapan Rayan sudah mulai berkabut gairah. Namun Rayan masih menunggu izin dari Ayana lewat tatapannya. Ayana sadar akan hal itu. Namun diapun hanya diam.


Dengan pelan Rayan kembali menunduk mencium bibir Ayana dengan lembut. Ayana tentu saja menyambut dengan lembut pula namun tak bermaksud membalasnya.


"Mas.." Rayan menghentikan cumbuanya yang mulai intens ketika Ayana memanggilnya


"Ada apa sayang..?" Tanya Rayan mengerutkan keningnya


Ayana memberi isyarat bahwa dirinya sedang dalam keadaan udzur. Rayan yang sedang berkabut birahi, melemas tatkalah istrinya tak bisa di sentuh saat ini. Ayana tahu akan hal itu.


"Maaf mas.." Ucap Ayana menatap sang suami


"Gak apa sayang.." Jawab Rayan mengecup bibir Ayana


Dengan cepat Rayan berlari ke arah kamar mandi dan menyelesaikan ritualnya disana dengan tuntas. Ayana yang baru kali ini melihat sang suami seperti itu, termenung menatap pintu kamar mandi itu.


Setelah hampir 1 jam, suara gemercik air pun mulai terdengar. Ayana duduk dengan menyandarkan punggungnya di sandaran tempat tidur sembari menunggu Rayan keluar dari kamar mandi.


Tak lama kemudian Rayan pun keluar. Nampak wajahnya terlihat sudah segar. Ayana menatap diam sang suami yang berjalan santai menuju lemari pakaian.


Sesaat kemudian, Rayan yang sudah berpakaian kaos dan celana pendek itu pun mulai berbaring di samping Ayana yang masih duduk bersandar di sandaran tempat tidur.


"Mas.." Panggil Ayana pelan sembari mengelus pucuk kepala Rayan


Rayan yang sibuk menyelimuti tubuhnya itupub mendongakan kepalanya.


"Maaf ya..?" Ucap Ayana tersenyum kecil


Bukannya menjawab, Rayan justru menarik pelan tangan Ayana dan menuntunnya untuk segera berbaring di sampingnya.


"Sudah dini hari, ayo kita istrahat.." Ucap Rayan sembari membawa Ayana dalam pelukannya

__ADS_1


"Mas gak marah..?" Tanya Ayana pelan


***


Pagi menjelang.


Ayana yang sedang menyiapkan pakaian kerja Rayan, di kagetkan dengan suara Pangeran yang menangis. Dengan tergesa gesa Ayana berlari kecil menuju kamar samping kamarnya lewat pintu yang terhubung di antara kedua kamar tersebut.


"Ada apa sayang..?" Tanya Ayana melihat sang anak menangis di pelukan sang Ibu


"Mau susu tapi gak mau di tinggal.. Di ajak turun juga gak mau.." Jelas sang Ibu pada Ayana


"Ya ampun.. Sini sayang sama bunda.." Ucap Ayana


"Mama ma ma ma.. " Celetuk Pangeran dalam tangisnya


Bu Lela tersenyum. Ayana ingin di panggil bunda namun Pangeran inginnya mama itu serasa lucu terdengar di telinga bu Lela.


"Ma tulun ma.. Ean mo alan ma.." Ucap Pangeran minta di turunkan dari gendongan sang ibu


"Pangeran mau jalan sendiri nak..?" Tanya sang nenek


Pangeran mengangguk. Ayanapun menurunkan Pangeran dari gendongannya.


"Mama.. Bobo.." Ucap Pangeran yang rupanya masih ngantuk



"Kamu urus suamimu dulu nak.. Pangeran biar Ibu yang urus.." Perintah sang Ibu mengelus lengan Ayana yang di angguki Ayana


"Sayang.. Mama buatin susu dulu ya buat Pangeran..?" Rayu Ayana


Pangeran tak menjawab. Bahkan mengacukannya. Panggilan kedua pun dari sang suami terdengar kembali. Ayana bergegas masuk ke dalam kamarnya lagi menemui Rayan.


"Ada apa mas..?" Tanya Ayana pelan


Rayan menoleh sambil merapihkan dasinya.


"Aku sarapan di rumah sakit aja ya..? Ada meeting pagi sama direktur dan beberapa dokter.. Takut macet.." Ucap Rayan beralih mencium kening Ayana dengan lembut.


"Aku siapkan bekal dulu.." Ucap Ayana bergegas ingin keluar kamar namun di cegah oleh Rayan


"Gak usah.." Cegahnya


Ayana merasa kecewa pada dirinya sendiri karena kurang cekatan pagi ini untuk mengurusi kebutuhan sang suami dan anaknya.


***


"Ma.. Ayana mana..? kok belum datang juga..?" Tanya Arman yang sedang duduk dengan sarapan di depannya.


"Kamu sarapan saja dulu.. Nanti setelah ini mama telephone dia.." Ucap bu Mida memcoba menyuapi sang anak.

__ADS_1


"Kenapa sejak kemarin aku gak melihat Ayana kesini ma..? Apa Ayana gak khawatir suaminya kecelakaan dan sekarang sedang di rawat di rumah sakit..?" Tanya Arman dengan nada melemah


Bu Mida menarik nafas panjangnya. Bingung harus menjawab apa.


"Kenapa mama diam saja..? Apa ada masalah apa terjadi sesuatu dengan Ayana..?" Tanya Arman menuntut jawaban.


"Arman.. Kamu sarapan dulu.. Biar mama telephone Ayana sebentar.." Bu Mida terpaksa keluar ruangan Arman dan mencoba menemui dokter Haris untuk meminta bantuan menyangkut pertanyaan Arman tentang mantan istri dari anaknya itu.


"Seperti yang saya katakan sebelumnya. pak Arman memang mengalami ambesia dimana dia hanya mampu mengingat kejadian di masa lalunya.."


"Jangan memaksakan dia mengingat apa yang tidak dia ingat.. Kita bisa melakukannya secara perlahan. Mulai dari menumbuhkan kenangan kenangan yang nantinya memicu daya ingatnya kembali.. Tapi sekali lagi saya katakan, jangan memaksakan.." Jelas dokter Haris


"Tapi dok, mana mungkin saya meminta mantan istrinya tinggal bersama kami.. Itu tidak mungkin.. Terlebih dokter itu tidak akan mau mengijinkan istrinya membantu kami.." Ujar bu Mida kesal.


"Maksud ibu..?" Tanya dokter Haris bingung


"Iya dok.. Mantan menantu saya itu adalah istri dari dokter Rayan.." Ucap bu Mida enteng


Ucapan bu Mida sontak membuat dokter Haris terkejut.


"Rupanya ini alasan dari kedua kubu ini bersitegang dan menolak saat pasien itu butuh di tangani oleh dokter Rayan.." Monolog dokter Haris dalam hati


Dengan demikian, dokter Haris yang tadinya percaya diri untuk membantu persoalan bu Mida tentang permintaan Arman, mendadak bungkam.


Dokter Haris sendiri bingung harus bagaimana, sebab seperti yang di katakan bu Mida, Rayan tidak akan mungkin menyetujui istrinya menemui Arman apalagi berprilaku seolah mereka masih berstatus suami istri sampai ingatan Arman kembali pulih.


"Begini saja bu Mida.. Biar kita tunggu perkembangan pak Arman dulu beberapa hari kedepan seperti apa agar bisa menyimpulkan tindakan apa yang akan kita ambil nantinya untuk membantu agar ingatannya kembali pulih secara perlahan.." Ucap dokter Haris mencoba mengambil garis tengah


"Terus gimana dok kalau anak saya nanyain mantan istrinya terus..?" Tanya bu Mida bingung


"Jawab seperlunya saja bu Mida.. Ibu lebih tau apa yang harus ibu lakukan.. Berbohong tak apa jika demi kebaikan.." Ucap dokter Haris tak kalah bingung


Baru kali ini dokter Haris menangani pasien hingga ikut terlibat dan di pusingkan dengan urusan pribadi pasien.


"Yasudah kalau begitu saya permisi dulu.." Bu Mida pamit keluar dari ruangan dokter Haris dengan perasaan yang tidak puas.


Ketika berada di koridor , bu Mida melihat Arman yang berjalan di lurus dengan tertatih membawa botol infus di tangannya seperti sedang mengejar sesorang.


Jelas saja bu Mida panik dan khawatir. Di kejarnya Arman yang berada di ujung koridor menuju salah satu ruangan disana.


"Arman.. Arman.. Mau kemana kamu.." Pekik bu Mida sembari terus berlari menghampiri sang anak.


Langkah kaki bu Mida terhenti saat melihat Arman berhenti di depan salah satu ruangan di ujung koridor. Matanya membulat saat membaca tulisan yang tergantung di atas pintu ruangan itu.


"Astaga Arman.. Apa yang kamu lakukan sayang..?" Gumam bu Mida berlari mencoba mencegah Arman agar mengurungkan niatnya masuk ke ruangan itu.


**BERSAMBUNG..


TERIMA KASIH SUDAH MAMPIR LAGI KESINI.. 😇🙏💞


MAAF JIKA ADA ALUR YANG KURANG DI SUKAI.. SAYA AKAN TERUS MENCOBA MEMPERBAIKINYA BUAT PARA PEMBACA.. 🙏🙏**

__ADS_1


__ADS_2