
Susi menunduk malu. Terlintas di ingatannya saat Tristan mencium bibirnya. Bahkan masih sangat terasa olehnya.
"Jangan takut lagi.. Aku gak akan melukaimu.. Aku melakukannya bukan karena nafsu, tapi karena aku gak suka kamu cuekin seperti itu.." Ujar Tristan lembut.
Susi semakin menundukan wajahnya. Dia tidak menyangka Tristan justru mengingatkan kembali kejadian malam itu. Dan Tristan sadar Susi merasa malu dengan ucapannya.
"Kenapa menunduk..? Orangnyakan disini..? Coba tatap.." Ucap Tristan menahan senyum.
"Kalau mau pulang, ya tinggal pulang aja.. Gak usah banyak nanya ini itu.." Ujar Susi kesal masih dengan posisi menunduk.
Tristan menahan tawanya.
"Kenapa memangnya..?" Tanya Tristan lagi memeluk tubuh Susi dengan lembut.
Susi terkejut. Refleks tangannya mendorong keras dada Tristan.
"Jangan takut, aku gak akan melukaimu.." Ucap Tristan cepat melihat reaksi Susi.
Tristan tidak menyangkah Susi akan bereaksi seperti itu. Tristan jadi penasaran, mantan suaminya dulu sering melakukan apa kepada Susi sehingga jadi seperti itu. Padahal awal awal kenal, Susi justru terlihat begitu centil. Bahkan tidak jarang gombalan gombalan keluar begitu saja di bibirnya.
***
__ADS_1
Di kediaman Arman. Arman sudah seperti burung tanpa sayap. Tak tahu arah tujuan hidup lagi. Terasa hampa. terasa tak berarti. Arman baru merasakan semua itu sejak senjatanya ampuhnya untuk menarik Ayana lagi kedalam kehidupannya tiada lagi.
Bahkan Arman melihat hidup Ayana kini jauh lebih baik dan bahagia di bandingkan dengan saat masih tinggal bersamanya sebagai pasangan suami istri.
Penyesalan memang selalu hadir belakangan. Selalu menghampiri setiap perbuatan sadar maupun tanpa sadar disaat semua tidak sesuai harapan. Seperti saat ini, wanita manapun bahkan tidak mampu membuat hatinya damai. Arman mengakui, hanya dengan Ayana, hidupnya terasa berwarna.
Arman melihat setiap sudut rumahnya, hampa. Terngiang ngiang di telinganya suara Ayana dan sang anak yang dulu selalu meramaikan rumahnya. Sekelebat bayangan kebersamaan mereka sewaktu dulu, mengusik hatinya.
Dengan pikiran gamang, Arman keluar rumah mencoba menenangkan pikiran dan hatinya dengan berkeliling ibu kota mencari angin segar. Hingga tanpa sadar, mobilnya terhenti di sebuah mushola kecil di salah satu perkampungan kecil.
***
"Kenapa mas.." Tanya Ayana tersenyum lembut menatap wajah sang suami
Bukan menjawab, Rayan justru mendaratkan kecupan singkat di bibir sang istri lalu tersenyum. Ayana tahu akan maksud sang suami.
"Mas udah mandi..? Tidur yuk udah larut.." Tutur Ayana tersenyum.
Rayan menaikan alisnya menatap wajah Ayana tak percaya.
__ADS_1
"Kenapa mas..? Kok natapnya gitu..?" Tanya Ayana berpura pura.
Rayan diam. Wajahnya terlihat memelas. Membuat Ayana tergelak. Dengan senyum manis dan tatapan mata indahnya, Ayana mencium bibir sang suami dengan lembut. Tentu saja hal itu tidak di sia siakan oleh Rayan. Dengan penuh bahagia, keduanyapun akhirnya melakukan hubungan suami istri itu dengan penuh perasaan dan kasih hingga subuhpun tiba.
***
"Nak.. Tidak ada kesalahan yang tidak bisa di perbaiki.. Selagi kita ada kemauan.."
"Salah satu kewajiban suami terhadap istri adalah memperlakukannya dengan baik.. Perlakuan baik pada istri itu bukan hanya tidak menyakitinya.. Tapi juga bersabar atas perilaku buruk, kelalaian, dan amarahnya.."
"Jika salah satu istri nak Arman selalu memenuhi kebutuhan nak Arman, tapi nak Arman dengan sengaja telah melukai perasaannya, maka nak Arman sudah berlaku tidak adil.. Poligami di perbolehkan apabila suami mampu bersikap adil atas keduanya.."
"Jika ada yang terluka, maka wajib bagi suami untuk memuliakannya.. Tidak ada yang memuliakan perempuan kecuali orang yang mulia.. Sholat tobat, dan minta ampunan pada Allah, serta perbaiki sikap dan perilaku nak Arman.. Insya Allah kebahagiaan akan datang menghampiri dengan segera.."
Arman tertunduk sedih mendengar nasehat pak ustadz setelah dia menceritakan permasalahan hidup yang membuatnya kini menyesal.
Pak ustadz awalnya sudah bersiap ingin pulang setelah para jemaah sudah keluar dari mushola. Namun pak ustadz melihat Arman duduk termenung di sudut ruangan mushola sejak selesai sholat, akhirnya menghampirinya.
"Saya juga bngung pak ustadz harus gimana sekarang.. Rasa bersalah saya lebih kepada almarhuma anak saya.. Saya egois sampai tidak tahu anak saya begitu menderita hingga akhir hayatnya.." Tangis Arman tumpah di depan pak ustadz.
**BERSAMBUNG..
__ADS_1
TERIMA KASIH KEPADA TEMAN TEMAN SEMUA YANG SUDAH MEMBERIKAN DUKUNGANNYA SEJAUH INI KEPADA SAYA SEBAGAI AUTHOR NOVEL INI.. 🙏🙏💞💞💞
SEMOGA SEMANGAT TIDAK PERNAH PUDAR HINGGA NOVEL INI TAMAT.. 😇😇😇**