
"Mas istrahat ya..? Aku mau ke dapur dulu ngupas buah.. Lagi pengen makan pepaya dede bayinya.." Ucap Ayan tersenyum manis mengelus pipi sang suami dengan lembut.
"Iya sayang.. Makasih ya..? Jangan capek capek, kasihan dedenya.." Jawab Rayan menatap wajah sang istri
"Iya sayang.." Jawab Ayana sambil membenarkan selimut Rayan.
Saat Ayana turun ke lantai dasar, saat dia baru menuruni anak tangga, sayup sayup terdengar suara orang sedang ribut di depan rumahnya.
Dengan rasa penasarannya, Ayana meneruskan langkahnya menuju pintu depan yang tertutup rapat.
Ceklekkk..
"Ada apa ini..? Mas Araman..?" Ayana terkejut melihat mantan suaminya berada di rumahnya dan membuat keributan dengan satpam di depan teras rumahnya.
Arman yang juga terkejut dengan kehadiran Ayana, langsung menepis tangan satpam yang sejak tadi memintanya agar tidak mengganggu majikannya itu dengan kasar.
"Pak Rudi sudah, gak apa apa.. " Ucap Ayana memberi kode satpam rumahnya itu agar membiarkan Arman tanpa mengusirnya lagi.
"Baik bu.." Jawab satpam dengan sopan dan meninggalkan mereka kembali ke pos jaga.
Setelah satpam Rudi kembali ke pos, Ayana menoleh ke arah Arman dengan tatapan datar.
"Ada apa mas datang kemari..?" Tanya Ayana datar.
Ayana tidak menanyakan dari mana mantan suaminya itu tahu alamat rumahnya dan suminya itu.
Sebab Ayana sudah bisa pastikan Arman memakai jasa orang sebagai suruhannya.
"Ayana.. Aku salut sama kamu.. Kamu bisa mendapatkan penggantiku dengan begitu cepat seperti ini.. Kaya pula.. Pantas saja kamu tidak membutuhkan uangku lagi untuk pengobatan Yuki.." Sarkas Arman menatap aneh Ayana.
Ayana diam tak bergeming. Hatinya mendadak nyeri mendengar ucapan mantan suaminya itu.
"Kalau sudah selesai, silakan keluar dan pergi dari sini.." Ucap Ayana mencoba menahan diri agar tidak terpancing.
"Aku kesini cuma mau ngasih tau kamu bahwa bersiap siaplah.. Aku akan menuntut kamu karena sudah menjauhi aku dengan anakku sampai akhir hayatnya.."
__ADS_1
"Meski saat ini gugatanku belum aku layangkan, masih tahap perbincangan dengan pengacaraku.. " Ucap Arman dengan sombongnya.
Ayana tidak terkejut sama sekali. Bahkan tidak terlihat sedikitpun ada rasa khawatir dan ketakutan di wajah Ayana.
"Aku bisa saja membatalkan niatku itu.. Jika, jika kamu bisa memenuhi syarat yang aku ajukan.." Tutur Arman dengan percaya diri.
Arman yakin Ayana mau menerima negosiasinya. Arman bermaksud meminta Ayana bercerai dengan Rayan.
Meski Ayana tidak mau kembali kepadanya, setidaknya Ayana tidak dimiliki oleh laki laki lain.
Namun di luar dugaan Arman, Ayana justru tidak tertarik dengan tawarannya.
"Silakan lanjutkan tuntutan anda pak Arman yang terhormat. Saya akan tunggu disini, di rumah saya dan suami saya surat panggilan untuk saya.. " Ucap Ayana tersenyum menatap wajah mantan suaminya itu.
Dalam hati, Ayana sangat menyayangkan sikap Arman yang kini kehilangan jati dirinya.
Lelaki yang dulu pernah dia cinta, yang selalu berwibawa, kini bagai orang bodoh yang mencoba tampil pintar hanya karena obsesinya.
"Sekarang anda silakan keluar dari rumah saya.. Jangan khawatir, saya akan tetap memenuhi panggilan dari tuntutan anda nanti.." Imbuhnya lagi, membuat Arman tidak dapat berkata kata lagi.
Entah kenapa Arman tidak bisa melupakan Ayana. Bahkan hampir setiap malam dia memikirkan Ayana.
Rasa rindu akan canda tawa dan kebersamaan mereka yang dulu, selalu bersemayam di lubuk hatinya.
Di tempat lain, Susi yang merasakan sakit di perutnya mendadak lemas.
Tubuhnya merosot ke lantai akibat sakit yang teramat menusuk.
Tristan yang melihat kondisi Susi seperti itu, spontan menangkap tubuh Susi sebelum kepalanya membentur ke lantai.
"Sakiitt.." Susi meringis dengan kedua tangannya meremas perutnya yang terasa sakit.
Tristan yang kebingungan bercampur panik, tanpa pikir panjang lagi langsung mengangkat tubuh Susi dan membawanya ke rumah sakit.
__ADS_1
Bingung karena rumah sakit yang dekat dengan kontrakannya Susi hanya rumah sakit tempat Rayan bekerja, Tristan terpaksa membawa Susi ke rumah sakit pelita indah meski jaraknya sedikit jauh.
Sesampainya disana, Susi langsung di bawa ke ruang UGD dan langsung mendapat penanganan dari dokter jaga di UGD tersebut.
Namun karena saat di periksa, Susi harus di rujuk ke bagian dokter obgyn untuk mengetahui kondisi Susi lebih lanjut lagi.
Tristan yang mendengar penjelasan dokter di ruang UGD tersebut kepada perawat, sontak membuatnya kaget kebingungan.
Tristan melirik ke arah Susi yang terbaring lemah dengan selang infus di tangannya dengan perasaan dan tatapan yang tidak dapat di artikan.
Sementara itu, di depan rumah Ayana, rupanya Rayan tidak sengaja mendengar ada keributan saat dia hendak menutup gorden pintu jendela.
Rayan mengerutkan keningnya melihat sosok lelaki tengah debat dengan satpam dan berakhir adu mulut dengan istrinya.
Rayan akhirnya menuruni anak tangga yang terhubung ke jendela kamar utama di lantai dasar yang tadinya untuknya dan Ayana.
Saat di anak tangga terakhir tepat di depan jendela kamar dasar, Rayan terus menatap ke arah depan, dimana istrinya dan Arman mantan suami dari istrinya itu berada.
Rayan sengaja tidak menghampiri keduanya. Dia ingin tahu apa tujuan Arman dan apa jawaban dari istrinya.
Rayan bermaksud pura pura tidak tahu akan pertemuan mereka itu dengan alasan ingin tahu sejauh mana Ayana terbuka kepadanya sebagai pasangan suami istri.
Di rumah sakit, ternyata nama Susi sudah pernah terdaftar 2 bulan yang lalu sebagai pasien di rumah sakit pelita indah.
Dan saat itu dokter yang menanganinya adalah dokter Retno, mertua dari sahabatnya Ayana.
.
.
.
.
**BERSAMBUNG..
__ADS_1
TERIMA KASIH BUAT KALIANNYA AKU YANG MASIH TERUS MENGAWAL KISAH DARI PERJUANGAN WANITA WANITA TANGGUH DALAM NOVEL INI.. 🙏🙏💞💞💞😍**