
Arman hanya diam menatap istrinya itu dengan datar. Betapa menyesalnya dia harus terpisah dari Ayana dan Yuki anaknya.
Impiannya selama ini adalah hidup rukun bahagia bersama kedua istri dan anaknya tanpa konflik rumah tangga.
Namun harapannya kini sangat jauh berbeda dari kenyataan yang ada.
"Tidurlah, biarkan aku sendiri dulu.." Ucap Arman pada istrinya dengan datar
Raya yang semakin kesal pada perlakuan Arman yang tidak peduli pada pintanya itu menghentakan kakinya keluar ruang kerja suaminya dengan menangis.
Arman menunduk lesu meratapi hatinya yang pilu
Keesokan harinya di rumah sakit, Ayana yang baru saja terbangun dari tidurnya setelah semalam Rayan kembali membuatnya lembur, mendapati Yuki mengalami sesak nafas.
Ayana memekik memanggil suaminya yang masih tertidur pulas di tempat tidurnya
Rayan langsung memencet tombol yang berada di bawah ranjang pasien dan tidak butuh lama petugas medis langsung bergegas melarikan Yuki ke ruangan PICU
"Mas.. Yuki kenapa mas..?" Tangis Ayana pecah tersungkur di lantai depan pintu PICU
"Semalam Yuki baik baik aja, kenapa sekarang kondisinya bisa seperti ini.." Ayana tak kuasa menahan tangisnya
"Sayang, jangan begini.. Insya Allah Yuki baik baik aja di dalam sana.." Rayan meraih tubuh Ayana dalam pelukannya dengan erat
"Aku kangen Yuki mas.. Dia sudah terlalu lama menderita denga sakitnya.. Aku ingin Yuki bisa kembali sehat seperti dulu mas.." Ucap Ayana terisak dalam dekapan sang suami
"Sudah sayang, jangan menangis.. Kita akan upayakan untuk kesembuhan Yuki sayang.. " Rayan terus mencoba menenangkan istrinya, hingga pintu ruangan PICU terbuka lebar menampakkan dokter di ambang pintu
"Gimana dok..?" Tanya Rayan masih dengan posisi memeluk istrinya
"Melihat kondisi Yuki saat ini, Yuki gak bisa melakukan perjalanan dulu ke singapura.. Yuki dalam keadaan masa kritisnya sekarang.." Jelas dokter menepuk pundak Rayan.
Rayan mengeratkan pelukannya pada sang istri yang menangis histeris mendengar penjelasan dokter.
Setelah Ayana mulai sedikit merasa tenang, Rayan merogoh sakunya mencari ponselnya disana.
Rayan menghubungi keluarganya dan menyampaikan kondisi Yuki saat ini. Tak butuh waktu lama, mertu serta orang tuanya pun tiba dan berkumpul di depan ruang PICU.
__ADS_1
"Ayana, papa tau apa yang kamu jalani ini tidak mudah. Papa ngerti gimana perasaan kamu saat ini.. Tapi papa berharap, kamu bisa ikhlas dengan cobaan yang Allah berikan ini.." Pak Sultan mengelus lengan Ayana yang sedang berada dalam pelukan bu Retno
"Kami akan selalu ada untuk kalian sayang.. Harus kuat ya..?" Tambah bu Retno
Ayana mengangguk dalam pelukan mertuanya. Matanya yang sembab, tidak mengurangi kecantikan wajahnya yang alami
Sementara di tempat lain, Tristan terus mendesak Susi untuk mempertamukannya dengan Ayana.
Tristan bukan hanya ingin meluapkan kerinduannya pada Ayana, tapi juga ingin meminta maaf akan kelakuan ibunya ynag sudah melabrak bu Lela hanya karenanya.
Susi yang merasa kesal, mulai menghindari Tristan. Dia tidak peduli lagi dengan lelaki itu.
Meski Susi ingin sekali rasanya bisa mengatakan apa yang dia rasakan pada Tristan, namun rasa kecewanya telah mencegah bibinya berucap.
Keesokan harinya, Triskan belum juga menyerah. Meski Susi selalu menghindari darinya.
Hingga pada saat Tristan menemukan alamat kontrakan Susi, dia pun menghampirinya disana. Beruntung Susi saat ini tengah berada di dalam kamar kontrakannya
"Ngapain kamu kesini..?" Tanya Susi judes di ambang pintu
"Susi, tolonglah bagi alamat Ayana.. Saya ingin menemuinya karena ada hal yang harus saya selesaikan dengannya.." Ucap Tristan meraih tangan Susi
"Lepaskan tangan saya.. Dan maaf, sudah sering saya katakan, saya gak tau alamat rumahnya ya berarti saya memang saya gak tau.." Jawab Susi datar
"Jangan bohong Susi.. Saya tau kamu pasti berbohong.. Jika kamu gak mau ngasih tau juga alamatnya, saya gak akan pulang malam ini.." Ujarnya menerobos masuk ke dalam kamar kontrakan Susi
Susi melebarkan matanya menatap Tristan yang kini sudah berhasil masuk ke dalam kamar kontrakannya.
Kontrakan Susi memang sangatlah sederhana. Hanya berukuran 6x5 dimana disana terdapat kasur, meja serta sofa kecil dan dapur jadi 1, sedangkan yng bersekat hanya kamar mandi saja.
"Keluar Tristan, saya gak mau jadi gunjingan orang orang disini karena ada laki laki menginap di kamar saya.. " Ujar Susi menarik tangan Tristan dengan paksa
Tristan tidak peduli dan mengacuhkan Susi yang terlihat sangat kesal. Dia sudah nekat akan menginap jika Susi benar benar tidak memberinya alamat Ayana
Susi yang mulai kewalahan menghadapi Tristan, memilih tidur dan memilih tidak peduli lagi dengan Tristan disana yang duduk di sofa sedang asik dengan ponsel di tangannya.
Perhatian Tristan teralihkan ke arah Susi yang sedang menggeliat mencari posisi tidur yang nyaman. Selimutnya yang tersingkap, membuat Tristan panas dingin.
__ADS_1
Dengan pelan Tristan meraih selimut itu dan menutupi kaki jenjang Susi yang putih. Sejenak ia menatap wajah Susi yang damai dalam tidurnya terlihat cukup manis. Tristan tersenyum tanpa sadar
***
Semalaman penuh Ayana berada di depan ruang PICU. Ayana yang tidak mau meninggalkan ruangan itu barang sedikitpun memaksa Rayan mengalah dan menemani istrinya disana.
Sementara bu Lela dan kedua orang tuannya beristrahat di ruangan rawat Yuki yang berada di VVIP.
Ayana yang tidur berbantalkan paha sang suami, terlihat sangat kelelahan akibat terlalu banyak menangis.
Rayan terjaga dari tidurnya saat adzan mulai berkumandang.
"Sayang, bangun sayang.. Kita sholat dulu.." Ajak Rayan membangunkan Ayana yang terlelap di pahanya
Ayana mengerjapkan matanya dan perlahan bangun dari tidurnya. Matanya terasa begitu perih akibat terlalu banyak mengeluarkan air mata.
"Jam berapa mas..?" Tanya Ayana pelan
Rayan mengelus kepala Ayana penuh kasih. Di raihnya tangan Ayana dan membawanya berjalan menuju mushala yang berada di area rumah sakit tanpa menjawab pertanyaan Ayana.
Seusai sholat, Rayan keluar membeli sarapan untuknya dan keluarganya setelah mengantar Ayana kembali ke dalam ke ruang PICU terlebih dahulu.
Saat Rayan baru tiba di parkiran rumah sakit setelah kembali dari membeli sarapan, dia di kejutkan dengan suara ponsel berdering.
Saat dia meneriama panggilan telephone tersebut, Rayan bergegas turun dari mobil dan berlari kencang menuju ruang PICU berada
.
.
.
.
BERSMBUNG.. 💞
**TEMAN TEMAN, MAMPIR YUK KE NOVEL BARU SAYA DENGAN JUDUL DI BAWAH INI..👇👇 SEMOGA TEMAN TEMAN SEKALIAN SUKA DENGAN ALURNYA.. 😇😇
JIKA ADA KEKURANGAN, BOLEH MASUKAN SARAN.. TAPI JANGAN BULLY YANG PEDAS PEDAS YA..? TERIMA KASIH SEBELUMNYA..😊🙏🙏💞💞💞**
__ADS_1