PERJUANGAN HIDUP SEORANG JANDA

PERJUANGAN HIDUP SEORANG JANDA
KEPERGOK


__ADS_3

Tapi Rayan juga khawatir akan keselamatan anak dalam kandungan Ayana. Nasibnya tergantung bagaimana Ayana.


Dengan pelan Ayana membaca setap kata yang tertulis dalam lembar kertas yang di berikan oleh Rayan.


Setelah memahami apa isinya, dengan perlahan pula air mata Ayana jatuh menetesi pipinya.


Air matanya terus jatuh tanpa henti, namun tidak ada suara tangisan yang keluar dari bibirnya.


"Sayang.. Maafkan aku.. Menangislah jika ingin menangis.. Menangis sepuasnya.. Tapi aku mohon, setelah itu kamu harus memikirkan kondisi kamu dan calon bayi kita.."


"Aku yakin, Yuki juga pasti akan bahagia jika dia tahu dia akan menjadi seorang kakak.." Ujar Rayan memohon.


Rayan yang tidak tega melihat Ayana menangis dalam diam, menarik Ayana dalam pelukannya dan membenamkan wajah sang istri ke dalam dekapannya


Kali ini, Ayana merespon ucapan Rayan dengan baik. Ayana membalas pelukan Rayan dan mengangguk pelan.


"Kata mama, menurut hasil diagnosanya, janin yang ada dalam kandunganmu akan berkembang tergantung kondisi Ibunya.."


"Jika ibunya kekurangan nutrisi, dan janinnya tidak bisa survive, maka terpaksa akan dilahirkan sebelum waktunya.." Jelas Rayan sambil terus mencium pucuk kepala Ayana.


"Maafkan aku mas.. Aku gak tau kalau ternyata aku hamil.. Aku memang jarang makan, bahkan hampir gak pernah karena pikiranku hanya terpusatkan pada Yuki.." Ujar Ayana.


"Sejak Yuki masuk ruang PICU, aku selalu bohongi kamu.. Makanan yang kamu pesan untukku, aku gak pernah menyentuhnya.. Bahkan aku bagikan ke perawat yang menjaga Yuki di ruang PICU.." Rayan memejamkan matanya menahan emosi dalam dirinya.


Rayan bukan menyalahkan istrinya, tapi merutuki dirinya sendiri yang lalai mengawasi dan memperhatikan istrinya.


Kesibukannya sebagai dokter ahli beda, serta kesibukannya menupayakan pengobatan untuk Yuki, membuat istrinya kurang akan perhatiannya.


Sehingga soal makan saja dia tidak tahu seperti itu jadinya.

__ADS_1


Ayana melerai pelukan Rayan darinya. Ayana menatap sendu wajah sang suami yang juga tengah menatapnya.


Ayana menarik pelan tengkuk Rayan dan mencium bibir suaminya itu dengan lembut.


"Maafkan jika aku gagal mempertahankan calon bayi kita ini.. Tapi sungguh mas, aku gak tau aku hamil.. Aku memang sadar telat datang bulan, tapi aku pikir itu biasa aja seperti biasanya.." Air mata yang menetes di sudut mata Ayana.


Hal itu membuat Rayan begitu yakin akan penyesalan yang Ayana rasakan sama seperti yang dia rasakan.


"Gak apa apa sayang.. Mulai hari ini, aku akan siaga untuk kamu dan calon bayi kita.. Kita harus perjuangkan dia biar dia bisa lahir di dunia ini dengan tidak kurang dari satu apapun.. " Ayana mengangguk tersenyum menatap wajah sang suami


Satu kecupan mendarat sempurna di bibir manis Ayana. Namun di luar dugaan, Ayana justru menahan tengkuk Rayan.


Rayan tersenyum dan melanjutkan sampai Ayana sendiri yang mengalah karena sudah mulai kekurangan oksigen.


"Istri lagi sakit, kamu lahap juga Yan.. Dasar.." Rayan dan Ayana terkejut dengan kehadiran dokter Retno yang masuk tanpa mengetuk pintu terkebih dahulu, membuat wajah Ayana merah akibat malu.


Dokter Retno menggeser Rayan menjauh dari Ayana. Rayan terkejut dengan sikap protek sang ibu yang selama ini cuek aja dengan setiap apa yang dia lakukan.



***


Arman yang tahu mendapat informasi dari orang suruhannya tentang Yuki yang di rawat di rumah sakit, meninggalkan pekerjaannya dan bergegas menuju rumah sakit tempat Yuki berada sesuai informasi yang Arman dapatkan.


Sesampainya disana, Arman langsung menuju resepsionis menanyakan kamar rawat Yuki.



"Maaf pak, Yuki yang anda maksud, sudah tidak berada di rumah sakit kami pak.. Pasien tas nama Yuki Raisha sudah meninggal dua hari yang lalu dan sudah di bawa pulang oleh keluarganya.."

__ADS_1


Bak petir di siang hari rasanya perasaan Arman mendengar apa yang di sampaikan oleh petugas resepsionis rumah sakit itu.


"Gak, tolong cek lagi datanya.. Mungkin ada kesalahan.. Anak saya masih hidup, dia baik baik aja.." Arman terus memaksa petugas itu mengecek data Yuki hingga membentaknya.


"Maaf pak, data yang kami berikan sudah benar.. Jika bapak tidak percaya, bapak bisa temu langsung keluarga yang mengurus jenazanya.." Petugas itupun terpancing emai meski tetap profesional kerja


***


"Ma.. Maafkan aku ma.. Aku bukannya sengaja mengabaikan calon cucu mama dalam kandunganku.. Aku benar benar tidak sadar aku hamil ma.. Jika aku tau, gak mungkin aku ingin dia lahir tanpa mengenal dunia ini.. Maafkan aku ma.." Mata sembab Ayana semakin cipit akibat terlalu banyak mengeluarkan air mata, membuat dokter Retno begitu iba melihat kondisi menantunya itu.



"Mama tau sayang.. Mama juga tau perasaan kamu seperti apa.." Dokter Retno meraih Ayana dalam pelukannyan.


Betapa dokter Retno menyayangi menantunya itu dengan segala apa yang ada padanya.


Dokter Retno menyadari, betapa berat ujian menantunya itu yang jika di posisi dirinya, belum tentu dia akan sekuat Ayana.


.


.


.


.


**BERSAMBUNG..


TERIMA KASIH SUDAH MAMPIR DISINI.. 🙏💞

__ADS_1


DAN TERIMA KASIH JUGA ATAS DUKUNGAN DARI TEMAN TEMAN SEMUA.. 🙏🙏💞💞**


__ADS_2