
Ayana melirik ke arah sang suami dengan perasaan yang jengkel.
"Eh, iya, waalaikumsalam.. Maaf.." Jawab Emil terkejut.
"Maaf Mil, ada apa ya pagi pagi kesini..? Apa ada yang bisa kami bantu..?" Tanya Rayan ragu sambil melirik sang istri.
"Oh nggak kok.. Saya kebetulan lewat sini dan gak ada salahnyakan saya mampir silaturahmi..?" Tutur Emil tersenyum menatap Rayan tanpa melirik ke arah Ayana yang sedang berada di samping Rayan.
"Oh begitu.. Mmm mau minum apa..?" Tanya Rayan sedikit canggung.
"Gak usah repot repot.. Oh iya, kalian gak weekend kemana gitu..?" Tanya Emil mencoba merilekskan suasana yang terlihat canggung.
Ayana sengaja diam membiarkan keduanya ngobrol sesuka hati mereka. Ayana ingin tahu apa sebenarnya tujuan Emil datang ke rumahnya. Apa benar hanya sekedar silaturahim ataukah ada tujuan lain.
"Iya, saya dan Ayana rencananya mau keluar, sebentar lagi.." Jawab Rayan jujur.
"Oh begitu.." Jawab Emil singkat.
Emil kecewa karena hari ini dia berkunjung di waktu yang kurang tepat.
"Iya udah.. Nanti sore saya balik lagi kesini gak apa apakan..? Saya bosan sendirian di apartemen.." Ucap Emil menatap Rayan.
"Maaf sebelumnya.. Apa sebenarnya tujuan anda kesini..?" Ayana akhirnya ikut bicara.
Pertanyaan Ayana membuat Rayan dan Emil menoleh ke arahnya.
"Sayang.." Tegur Rayan pelan dengan mengelus punggung tangan Ayana.
__ADS_1
"Saya melihat ada sesuatu yang mendorong anda berkunjung kerumah kami.." Imbuhnya lagi.
"Oh, maaf Ayana.. Saya kesini cuma kebetulan lewat aja kok.. Jadi saya mampir.." Jawab Emil gugup
Ayana tersenyum kecil menatap tangannya yang di genggam Rayan kemudian beralih menatap Emil. Ayana tahu maksud genggaman Rayan tiada lain adalah untuk meredam emosinya.
"Saya berterima kasih anda sudah berkenan berkunjung ke rumah kami.. Tapi seperti yang anda bilang tadi, anda cuma kebetulan lewat saja.. Terus dari mana anda tau alamat rumah kami..? Apakah hanya kebetulan juga..?" Tanya Ayana tersenyum menatap Emil.
"Sayang.." Rayan kembali menegur Ayana dengan setengah berbisik.
Rayan merasa tidak enak hati kepada Emil karena ucapan istrinya. Sedangkan Ayana terlihat santai tanpa beban. Ayana merasa Emil harus di tegasin agar sedikit bisa menjaga jarak dengan suminya.
Emil hanya bisa diam mendengar pertanyaan Ayana. Emil merasa malu dengan pertanyaan yang tidak dapat di duga olehnya itu. Ayana sebenarnya tidak tega sebagai sesama wanita melihat Emil terpojokkan. Namun dia tetap perlu melakukan itu demi keharmonisan rumah tangganya.
Kekesalan Tristan mulai bermunculan akibat sikap Susi. Susi merasa Tristan adalah pecinta wanita kelas teri yang perlu di beri pelajaran.
Dengan penuh kekesalan, Susi mengambil bubur yang di belikan Tristan untuknya itu dan sedikit mendorongnya kasar ke arah Tristan.
"Ni bawa balik.. Saya sudah kenyang.." Tristan yang terkejut, membelalakan matanya dengan tangan menangkap kantong kresek yang berisi bubur ayam.
"Dasar kamu ini ya.. Bukannya berterima kasih sudah di belikan sarapan, malah bersikap barbar kayak gini.." Ucap Tristan meluapkan kekesalannya.
"Saya gak peduli.. Sana pergi dan jangan pernah balik lagi kesini.." Usir Susi emosi
__ADS_1
"Aneh.." Ucap Tristan lalu pergi meninggalkan Susi dengan kekesalannya.
"Dasar penjahat.. Jangan pikir aku akan baper dengan perlakuanmu lagi.. " Gumam Susi menatap Tristan yang sudah hilang dari balik pintu kontrakannya.
Setelah kepergian Tristan, Susi bingung harus sarapan dengan apa. Perutnya keroncongan, kulkas kosong, semakin membuatnya kesal.
Meski masih lemas, Susi terpaksa keluar mencari sarapan sendiri. Di benaknya ada dua pilihan. Kerumah Ayana atau ke warung tegal yang tempat langganannya di saat butuh sarapan instan.
"Coba aja si bucin itu bukan penjahat wanita, aku pasti gak balikin sarapannya dan keleparan kayak gini.." Gumam Susi frustasi.
Saat Susi melempar pandangannya ke arah samping kanannya, matanya menyipit memastikan penglihatannya benar atau salah melihat sosok yang berada di seberang jalan sedang berjalan dengan anggunnya.
Susi terus melangkah mendekat ke arah bahu jalan sambil terus menajamkan penglihatannya. Anggun, cantik, itulah yang nampak dari penglihatanya.
"Ayana.." Teriak Susi memanggil nama seseorang yang sedang berjalan di trotoar depan cafe.
"Itu pasti beneran Ayana.. Mau kemana sih dia..? Sama siapa coba..?" Monolog Susi sambil buru buru menyeberang jalan.
**BERSAMBUNG..
TERIMA KASIH BUAT TEMAN TEMAN SEMUANYA SUDAH MAMPIR KESINI..
JIKA ADA ALUR YANG KURANG, MOHON MAAF YA.. SEMOGA KALIAN TETAP SUKA..🙏🙏💞💞**
__ADS_1