PERJUANGAN HIDUP SEORANG JANDA

PERJUANGAN HIDUP SEORANG JANDA
KEJUJURAN


__ADS_3

Susi mengerutkan keningnya menatap Tristan. Ada kata kita makan malam, artinya Tristan akan lebih lama lagi di kontrakannya.


"Kenapa kamu selalu bersikap peduli seperti ini sih.. Kamu tahu, akan sulit buatku menjauh darimu.. Akan lebih sulit untukku mengubur perasaan ini untukmu.." Batin Susi menatap wajah Tristan.


Melihat tatapan Susi yang terlihat sendu, hati Tristan menjadi iba.


"Masuklah.. Disini dingin.. Aku beli makan dulu ya..? Assalamualaikum.." Susi hanya diam tanpa menanggapi.


Sejujurnya dia ingin mengatakan pulanglah dan jangan kesini lagi. Tapi hatinya mencegahnya untuk itu. Susi baru mulai masuk ke dalam kontrakan setelah mobil Tristan sudah menjauh dan hilang dari pandangannya.


***


Rayan duduk di tepi tempat tidur setelah selesai sholat magrib. Kali ini dia benar benar merasa kesal pada Ayana. Bukan tanpa alasan. Ayana yang menghilang hingga waktu dzuhur tiba dirinya belum juga berada di rumah dan menjalankan ibadah sholat dzuhur berjamaah. Dan di saat waktu ashar, Ayana baru membangunkannya setelah dia selesai sholat terlebih dahulu. Setelah magrib tiba, Rayan pun terpaksa melaksanakan sholat sendirian karena Ayana memilih sholat berjamaah dengan ibunya.


Rayan sampai di buat pusing oleh sikap istrinya itu.


Saat bu Lela dan bi Ina mulai menyiapkan makan malam, Ayana barulah mau menemui suaminya untuk makan malam bersama. Terdengar suara Ayana terus memanggil manggil nama suaminya saat dirinya tidak menemukan suaminya di dalam kamar.


"Bu.. Ibu liat mas Rayan gak bu..?" Tanya Ayana menghampiri bu Lela di dapur.


"Di kamar mungkin nak.." Jawab bu Lela yang masih terus sibuk mondar mandir menyiapkan menu masakan buatannya di meja makan.


"Gak ada bu.. Di ruang kerjanya juga gak ada.. Di kamar Yuki juga gak ada.." Ujar Ayana bingung.


"Coba tanya pak Ardi di depan.." Saran bu Lela


"Biar aku telephone aja deh bu.. Perutku mulai keram naik turun tangga dari tadi.." Ucap Ayana sambil mencari nomor ponsel sang suami di ponsel miliknya.



Sementara itu, Rayan yang ternyata sedang berada di balkon kamarnya, sengaja tidak menyahut saat istrinya terus memanggil manggil namanya. Dan saat ponselnya berdering, Rayan tidak menghiraukannya. Bukannya dia tega, hanya saja perasaannya saat ini sedang sensitif.


Di tangannya sebuah kamera digital yang dia hadiakan pada Yuki saat Yuki mengatakan ingin melihat indahnya tentang mentari pagi, suasana taman di siang hari, dan senja serta langit malam setiap harinya, yang selama ini dia rindukan saat dia terbaring sakit.


Namun bukan hanya soal itu yang membuat Rayan sedih. Tapi di dalam kamera itu tersimpan sebuah kenangan dimana Ayana dan dirinya yang sedang duduk bercanda, Ayana yang menjahilinya, dan masih banyak lagi. Semua itu adalah hasil paparazi dari Yuki. Rayan rindu akan kebersamaan mereka yang dulu.



***

__ADS_1


Sudah hampir satu jam Tristan belum juga kembali dari membeli makan malam untuk Susi. Sebenarnya Susi tidak berharap lagi Tristan benar benar kembali membawa makan malam untuknya.


Dia yang memang belum makan sejak siang, tidak dapat melakukan apapun di dapur karena kondisi kesehatannya yang masih belum pulih, akhirnya Susi hanya bisa ngemil sereal sisa dari kemarin di temani teh hangat.


Tanpa terasa air mata Susi jatuh menetes meratapi nasibnya. Di saat seperti ini, seharusnya dia berada di tengah tengah keluarga. Namun apa daya, dia sudah sangat menyulitkan orang tuanya sejak perceraiannya dengan Rahmat anak dari juragan di kampungnya itu yang tempramental.


"Kok makan sereal sayang..?" Susi terlonjak kaget saat Tristan tiba tiba muncul dengan sebuah kotak makanan di tangannya.


Yang lebih membuat Susi terkejut lagi saat telinganya menangkap kata sayang yang di tujukan Tristan untuknya tanpa sadar.


"Ni saya sudah bawakan makanan.. Saya sebenarnya udah makan tadi sambil nunggu masakan mateng.. Tapi sekarang laper lagi.." Ucap Tristan sambil membuka kotak makanan dan mulai menyajikannya di meja makan,


Susi hanya diam membisu membiarkan Tristan melakukan apa yang dia mau. Mulai dari menyiapkan piring makan, air dan gelas, serta nasi dan ayam goreng crispy serta sayur capcay di meja makan.


Mata Susi hanya fokus di ayam goreng crispy yang seperti buatan rumahan. Bukan restoran atau kedai. Semua itu tidak luput dari pandangan Tristan.



"Ada apa..? Apa kamu gak suka ayam..?" Tanya Tristan menatap Susi.


"Eh enggak, bukan itu.. Ini, beli dimana satu ayam utuh begini..?" Tanya Susi heran.


"Oh ini.. Ini buatan mbok di rumah.. Saya sengaja pulang ke rumah dan minta mbok masakin buat kamu.." Ucap Tristan menjelaskan.


"Udahlah, nanti keburu dingin.. Ayo kita makan.." Ucap Tristan mendahului Susi untuk mengalihkan obrolan Susi tentang dia yang repot repot minta asisten rumahnya untuk masak.



Susi tersenyum melihat tingkah Tristan yang hangat. Kali ini tidak ada perdebatan lagi di antara mereka. Sebab Tristan yang biasanya selalu terpancing amarah karena sikap Susi yang menurutnya usil dan sering menyebalkan, hari ini merasa aman. Sebab Susi masih bersikap baik dan manis karena kondisinya yang belum fit.


"Pelan pelan makan nya.. Saya gak mungkin bisa ngabisin ini semua kok.. Jadi tenang, jangan buru buru gitu kayak gak pernah makan enak aja.." Ucap Susi membuat Tristan berhenti mengunya makanan di dalam mulutnya.


Susi berusaha menahan tawanya saat berhasil mengusili Tristan.



***


"Mas, mas kenapa sih sejak tadi diam aja..?" Tanya Ayana menghampiri Rayan yang duduk menyendiri di balkon kamarnya setelah makan malam selesai dengan membawa secangkir teh hangat di tangannya.

__ADS_1


Rayan hanya melirik Ayana sebentar kemudian kembali menatap ke arah depan dengan tatapan kosong. Ayana yang baru kali ini melihat Rayan seperti itu, hatinya merasa sedih.


"Sayang.. Ada apa..? Apa aku boleh tahu..?" Tanya Ayana lembut mengelus lengan Rayan.


Rayan bergeming. Rayan bergerak membenarkan posisi duduknya menghadap ke arah sang istri yang duduk di sampingnya.


"Apa gak ada yang harus kamu jelaskan untukku..?" Rayan mencoba membuat istrinya ingat kesalahannya dengan balik bertanya.


Ayana mengerutkan keningnya merasa belum peka akan kesalahannya hari ini.


"Apa gak ada yang perlu kamu jelaskan..?" Rayan kembali memastikan apakah istrinya belum mau jujur atau tidak mau sama sekali.


Ayana kemudian mulai ingat akan kedatangan Arman ke rumah mereka, hingga sikapnya nempel terus kepada ibunya dan seakan dia tidak bersuami. Ayana tersenyum kecut mentap wajah Rayan.


"Maaf sayang.. Baik aku mau cerita.." Ucap Ayana mengecup bibir sang suami sekilas.


"Hari ini, aku ngidam rujak buatan mama sayang.. Tapi aku maunya makan rujaknya di kebun, jadi aku ke saung sayang.. Terus aku pikir udah selesai.. Ternyata aku masih merasa kangen pengen sama mama terus.. Maaf sayang aku gak bermaksud mengabaikanmu.." Jelas Ayana tersenyum manja mengelus pipi Rayan.


Rayan kemudian kembali menatap ke arah depan. Memandangi langit malam yang penuh dengan bintang bintang yang indah.


"Apa hanya itu yang perlu kamu jelaskan..?" Tanya Rayan datar.


Ayana tersenyum bahagia. Mendapati suaminya yang cemburu seperti itu, sungguh membuatnya bahagia. Ternyata suaminya hari ini merasa kesepian tanpanya di tambah lagi ada kecemburuan di hatinya. Ayana merasa bersyukur memiliki suami seperti Rayan. Bukan niatnya membandingkan pernikahannya sebelumnya, namun kali ini sungguh sangat manis dan hangat yang dia rasakan.


"Ada sayangku.. Mas Arman kemarin kesini.. Dia meminta aku meninggalkanmu jika gak mau dia pidanakan dengan alasan yang gak masuk akal. Sekeras apapun dia memisahkan kita, itu hanya akan menjadi sia sia.. Aku gak mungkin mau berpisah dengan suamiku yang sangat aku cintai ini.." Tutur Ayana mencium pipi Rayan dari samping.


"Gombal.." Jawab Rayan dengan datar, membuat Ayana tergelak.


"Sayang.. Kamu cemburu..? Aku hanya janda satu anak, bukan perawan yang kamu nikahi loh .." Ujar Ayana dengan tawanya


Rayan memeluk erat tubuh Ayana seakan takut Ayana pergi.


"Jangan ngomong kayak gitu lagi.." Ucap Rayan mencium puncuk kepala Ayana berulang kali.


"Aku pikir seharian ini kamu sengaja menghindari aku karena mantan suami kamu itu.." Ucap Rayan jujur


"Nggak sayang.. Aku beneran sedang ngidam.. Seperti saat ini, aku ngidam pengen bobo peluk sama suamiku yang ganteng ini.." Ucap Ayana membuat Rayan tersenyum salah tingkah di depannya.


**BERSAMBUNG..

__ADS_1


UNTUK TEMAN TEMAN YANG KOMENNYA SUDAH SAYA BACA SEMUA, TERIMA KASIH YA SEBELUMNYA.. DAN BUAT TEMAN TEMAN YANG ALURNYA TIDAK SESUAI KEINGINANNYA, MOHON MAAF AUTHOR TIDAK DAPAT MENGUBAH ALUR YANG SUDAH DI TULIS MENJADI BERBEDA LAGI.. 🙏🙏


TERIMA KASIH YA UNTUK KALIAN SEMUA YANG MASIH TERUS MENYIMAK NOVEL SAYA INI.. 🙏🙏😘😘💞💞💞**


__ADS_2