
Rayan sejenak ingat akan Ayana. Dia melirik ke arah sekitar ruangan yang ternyata Ayana belum berada disana.
Rayan bergegas menerobos petugas medis dan berlari sekencang kencangnya menuju lift untuk menemui Ayana.
Sesampainya di depan kamar VVIP, kamar rawat Yuki sebelum masuk di ruang PICU, Rayan hanya diam terpaku.
Rayan bingung harus bagaimana cara menyampaikan berita kepergian Yuki kepada Ayana.
Air matanya terus berderai, suara tangisannya berusaha dia redam dengan menggigit daun bibirnya.
Rayan ragu, bingung, takut, semua melebur jadi satu. Entah apa reaksi Ayana nanti setelah mendengar berita kepergian anaknya, itu yang Rayan khawatirkan.
Namun bagaimanapun, Ayana harus segera mengetahui, dan Yuki hanya sendirian di ruang PICU.
Dengan ragu, Rayan membuka pintu masuk dan mendorongnya dengan pelan. Rayan menangkap bayangan Ayana yang sedang tidur dengan lelapnya.
Rayan menghampiri istrinya, duduk di tepi ranjang dan mengelus lembut kepalanya. Merasa terusik, Ayana membuka matanya meski berat karena kantuk.
"Mas, baru selesai operasinya..?" Pertanyaan Ayana membuat bibir Rayan kaku, hingga hanya anggukan yang bisa dia tunjukan
"Mas kenapa berkeringat..? Mas mandi dulu, biar aku siapkan air hangatnya.." Ayana bangkit dari tempat tidur dan menunduk mencari sendalnya.
Ketika hendak melangkah ke kamar mandi, Rayan mencekal tangannya.
Ayana menoleh ke wajah sang suami. Ayana melihat raut wajah Rayan yang tak biasa.
Perhatian Ayana teralihkan ke mata Rayan yang sembab, yang baru dia lihat dengan jelas.
__ADS_1
"Mas.. Ada apa..? Apa ada masalah di ruang operasi..?" Pertanyaan Ayana lagi lagi membuat bibirnya tidak dapat bergerak.
Lidanya terasa kaku. Perasaannya perih bagai teriris sembilu. Hanya air mata yang dapat mewakili, betapa sakitnya Rayan jika Ayana mengetahui kenyataan yang sebenarnya.
Ayana menghapus air mata Rayan dengan jemari indahnya.
Ayana kemudian membawa Rayan masuk kedalam pelukannya dengan hangat. Baru kali ini Ayana melihat Rayan seperti itu, rapu seolah kehilangan harapan.
Rayan membalas pelukan Ayana tak kalah eratnya. Tangisnya kembali pecah di pelukan sang istri.
Ayana baru melepas pelukannya pada Rayan ketika pintu tiba tiba di dorong paksa dari luar.
Mika terpaku di depan mereka dengan raut wajah yang hampir sama dengan sang suami. Ayana melirik keduanya dengan saling bergantian.
"Dokter Mika..? Ada apa..? Apa yang sedang terjadi..?" Pertanyaan Ayana membuat Mika menoleh ke arah Rayan yang kini hanya diam menunduk dalam tangisnya.
Ayana mengikuti arah pandang Mika dengan perasaan yang mulai resah. Mika menyadari, Rayan tidak sanggup menyampaikan kabar duka itu kepada istrinya.
"Ayana.. Rayan mungkin tidak sanggup mengatakan apa yang sedang terjadi saat ini. Tolong maklumin dan maafkan dia. Dia sangat terpukul. Bahkan dia meninggalkan ruang operasi di saat pasien masih berada di meja beda. Meski tugasnya sudah selesai, tapi itu gak boleh, tapi dia tidak peduli lagi.." Ayana semakin bingung dengan apa yang terjadi sebenarnya.
Ayana menoleh ke arah Rayan yang masih terus menunduk.
"Ayana.. Aku harap kamu sabar menerima kenyataan ini.. Aku harap kamu kuat, sehingga kalian bisa saling menguatkan.."
"Bismillah.." Batin Mika
"Yuki saat ini sudah tenang.. Sudah gak lagi merasakan sakit.. Yuki akan menjadi malaikat syurg, yang nantinya akan menyiapkan tempat terindah untuk kalian disana.. Ikhlaskan Yuki ya..? Biar dia tenang.." Ayana terpaku menatap wajah Mika mendengar apa yang di sampaikan Mika kepadanya.
__ADS_1
Ayana seperti patung, tidak dapat bergerak bahkan nafasnya terasa berat.
Mika mengantisipasi dengan memegang kedua lengan Ayana untuk menyalurkan kekuatan agar Ayana tidak hilang kesadaran.
Rayan mendekap Ayana dari samping, mencium kepalanya dengan lembut.
Air mata Ayana jatuh perlahan membasahi pipinya. Tangisnya tidak terdengar, membuat Mika dan Rayan tidak tega melihatnya.
"Sayang, menangislah.. Jangan kamu tahan, nanti akan terasa semakin sakit jika kamu pendam.." Ucap Rayan melepas pelukannya pada Ayana
"Bawa aku menemui Yuki.." Rayan melepas pelukannya dan menatap wajah Ayana dengan lekat. Demikianpun dengan Mika. Melihat Ayana yang kaku, hanya ada air mata, dan kata keluar dari bibirnya, membuat Mika semakin tidak tega.
Perasaan Ibu mana yang tidak hancur mengetahui anak tercintanya kini pergi untuk selama lamanya.
Mika maupun Rayan tahu soal itu. Meski Ayana terlihat tegar dan ikhlas, namun hatinya pasti tidak berbentuk lagi saat ini.
.
.
.
**BERSAMBUNG..
__ADS_1
HAI TEMAN TEMAN, TERIMA KASIH MASIH SETIA MENUNGGU EPISODE LANJUTAN CERITA AYANA.. 🙏🙏💞💞
DALAM SUASANA LEBARAN, AUTHOR MENGUCAPKAN MINAL AIDIN WAL FAIZIN MOHON MAAF LAHIR BATIN.. 🙏🙏💞💞**