PERJUANGAN HIDUP SEORANG JANDA

PERJUANGAN HIDUP SEORANG JANDA
SIKAP PROTEK


__ADS_3

Setelah 30 menit berlalu, Tristan baru selesai mengurus administrasi sekaligus ruang perawatan untuk Susi.


Tristan yang masih belum percaya dengan apa yang dia dengar dari penjelasan dokter Retno, duduk termenung di bangku sudut koridor rumah sakit tidak jauh dari ruang administrasi berada.


Saat tanpa sengaja Tristan yang membuang pandangan ke arah kiri, terlihat Susi yang sedang di dorong oleh salah satu perawat menuju ruang obgyn menggunakan kursi roda.


Tristan bergegas menyusul dengan langkah tergesa gesa.


Sesampainya di depan pintu masuk, Susi melihat Tristan telah berada di belakang suster yang mendorong kursi rodanya lewat pantulan pintu kaca.


Susi sontak menengok ke arah belakang dengan panik.


"Ngapain disini..?" Tanya Susi sedikit menaikan voume suaranya.


Suster dan Tristan sama sama terkejut mendengar suara Susi yang melengking.


"Kamu itu bukan suamiku, jadi ngapain disini.." Ujarnya lagi.


Mendapati ucapan yang demikian, sontak membuat Tristan kesal.


"Saya memang bukan suami kamu.. Tapi saya yang telah mengurus kamu disini.. Jadi saya tidak peduli kamu setuju atau tidak saya disini. Kamu berhutang budi sama saya kali ini.." Ucap Tristan penuh penekanan.


Sebetulnya Tristan tidak bermaksud mengucapkan itu semua. Namun itu terpaksa dia katakan agar Susi tidak lagi berani mengusirnya.



"Sebenarnya apa mau dia..? Dia hanya orang asing baru yang bahkan selama ini selalu jutek sama aku.. " Monolog Susi dalam hati.


Melihat diamnya Susi, Tristan mengambil alih kursi roda dari suster dan mendorong masuk ke ruangan dengan pelan.


Susi yang kesal, terpaksa hanya bisa diam karena bersikeraspun Tristan tidak akan peduli dengan penolakannya.


"Maaf, masnya tolong permisi sebentar ya biar pasiennya di periksa dulu.." Ucap suster meminta pengertian Tristan yang berdiri di samping Susi.


Membuat sang suster tidak leluasa mengerjakan tugasnya.


Tristan yang melihat baju bagian perut Susi di singkap dan menampakan perut mulusnya, sontak memalingkan mukanya ke sembarang arah.


Sementara Susi yang juga terkejut sang suater tanpa permisi menyingkap pakaiannya sontak menatap ke arah Tristan.


Susi bernafas lega melihat Tristan memalingkan wajah untuk menghindari pandangannya.


Setelah selesai mengoleskan gel di bagian perut Susi oleh suster, dokter Retno pun memulai pemeriksaannya dengan menempelkan alat ultrasonografi ke permukaan perut bawah Susi.


Setelah beberapa menit dokter Retno mengamati layar monitor yang berada di depannya, pemeriksaanpun akhirnya selesai.


"Okey sudah selesai.." Ucap dokter Retno tersenyum

__ADS_1


***


"Sayang kita mampir sebentar ya ke rumah sakit pelita indah.. Kita periksa kandungan kamu dulu ke mama.. Semalam kata mama kamu sempat mengeluhkan keram.." Tutur Rayan mengelus kepala Ayana.


"Loh kenapa gak disini aja mas..? Biar langsung pulang dan istrahat.." Ujar Ayana.


"Tapi aku maunya mama sayang.. Biar mama juga tahu kondisi kandungan kamu secara langsung.." Ucap Rayan.


"Mmmm memang mas gak apa apa nyetir sampe sana dan puter arah lagi pulang ke rumah..? Mas Rayan kan lagi sakit sayang.." Rengek Ayana karena khawatir akan kondisi suaminya.


Melihat Suaminya yang sibuk bertukar pesan dengan seseorang yang Ayana tidak tahu, membuat Ayana merasa di abaikan.



Rayan tersenyum manis menatap wajah sang istri cantiknya itu. Tangannya terulur mengelus lengan sang istri.


"Gak apa apa sayang.. Aku cuma demam biasa aja.. Obat juga udah aku minumkan..?" Ucap Rayan meyakinkan Ayana.


"Sudah, aku kuat.. Ayo biar gak kemalaman.." Ucap Rayan menarik pelan tangan Ayana keluar dari apotik rumah sakit menuju rumah sakit tempat sang ibu bekerja.


"Mas, aku aja ya yang nyetir.." Tawar Ayana setelah mereka berada di parkiran mobil.


"Sayang.." Melihat wajah Rayan yang datar, Ayana mengalah dan memilih masuk ke dalam mobil di samping kemudi.


Melihat Ayana duduk tanpa ekspresi, Rayan mengelus kepala istrinya itu. Rayan tahu istrinya seperti itu tiada lain karena khawatir akan kondisinya.


***


"Jadi kamu sudah pernah menikah..? Atau saat ini kamu masih berstatus istri orang..?" Tanya Tristan tanpa ekspresi saat mereka sudah berada di kamar perawatan Susi.


Susi hanya diam menunduk mendengar pertanyaan dari Tristan.



Susi yang awalnya ingin tetap diam menutupi kisah hidupnya pada orang lain, terpaksa harus menjelaskan siapa dia dan apa statusnya saat ini ketika melihat Tristan terus berada di sampingnya sampai menyiapkan kamar perawatan di ruang VIP untuk dirinya.


Memang Tristan kembali dari kota Ayah sambungnya bersama sang Ibu, itu karena di minta oleh pamannya untuk membantunya di perusahaan.


Pamannya yang memiliki saham pinjaman dari Ayah Tristan, telah mampu mengembangkan perusahaan dengan perlahan hingga berkembang dan mulai mampu bersaing di dunia bisnis dengan para pengusaha hebat lainnya.


Dari sanalah Tristan mulai memiliki kehidupan yang layak. Dan dari kehidupan yang mulai layak itu jugalah ibunya kembali menyerang Ayana pada waktu itu agar tidak berhubungan dengan anaknya lagi.


Susi menatap sendu wajah Tristan. Sejujurnya dia belum mampu membuka jati dirinya.


Melihat raut wajah yang seperti itu, Tristan sadar bahwa Susi tidak mau privasinya di paksakan.


"Iyasudah gak apa apa.. Saya akan tunggu sampai kamu siap untuk cerita.. Ini udah malam, Kamu sekarang istrahat.. Saya pamit pulang dulu.." Tutur Tristan sambil beranjak berdiri untuk keluar dari kamar rawat Susi.

__ADS_1


Hingga saat pintu di buka dan tertutup kembali, Susi masij di posisi tak bergeming.


***


Pukul 09.00 Ayana baru saja selesai pemeriksaan di ruang obgyn yang saat ini dokternya adalah mertuanya sendiri yaitu dokter Retno.


Dokter Retno sebenarnya sudah selesai pratek di pukul 07.00.


Namun setelah mendapat pesan singkat yang di kirimkan oleh Rayan bahwa dia dan sang istri berniat memeriksakan kandungan istrinya, dokter Retno pun harus rela menunggu sang anak dan menantunya itu di rumah sakit tempatnya bekerja.


"Alhamdulillah semuanya baik.. Janinnya juga sehat.. Ibunya ni yang harus banyak minum vitamin dan buah agar tetap sehat.. Jangan lakukan aktivitas yang berat dulu sayang.. Di rumahkan ada bibi, jadi kamu harus banyak istrahat dulu.. " Ucap dokter Retno penuh perhatian.


"Iya ma.. " Jawab Ayana tersenyum.


"Kamu Yan, jangan sentuh istrimu dulu sebelum trimester pertama ini lewat.. Awas kamu.." Ucap dokter Retno menatap wajah Rayan, membuat Ayana menunduk malu.


"Iya mama aku tau itu.." Jawab Rayan santai.


"Iyasudah.. Kalian cepat pulang ya biar kalian bisa cepat istrahat.. Ini tolong isi datanya dulu mama lupa.. " Ucap dokter Retno kemudian menyodorkan data pemeriksaan yang harus berisi data pasien lengkap.



"Okey sudah.. Mama gak ikut kita makan dulu..?" Tanya Rayan menawarkan makan malam bersama pada dokter Retno


"Gak usah sayang.. Mama mau langsung pulang aja.. Kasihan papa kamu di rumah udah nunggu mama pulang.." Jawab dokter Retno tersenyum.


"Iyasudah kami duluan ya ma.. Assalamualaikum.."


Sesampainya di lobi rumah sakit, Ayana tidak sengaja melihat Tristan yang baru saja keluar dari rumah sakit menuju parkiran.


Ingin rasanya Ayana menghampiri sahabatnya itu namun di urungkannya.


"Tristan nyetir mobil..? Mobil siapa itu..? Sedang apa sebenarnya dia di rumah sakit ini..? Siapa yang dia kinjungi..?" Monolog Ayana menatap mobil Tristan yang sudah tidak terlihat lagi.


"Sayang..? Ko bengong..? Emangnya siapa di mobil itu..?" Tanya Rayan protek melihat Ayana yang sejak tadi terus menatap ke arah mobil Tristan yang keluar area parkiran hingga hilang dari pandangan mereka.


.


.


.


.


**BERSAMBUNG..


TERIMA KASIH SUDAH MENGUNJUNGI NOVEL SAYA INI.. 🙏🙏💞💞**

__ADS_1


__ADS_2