
Pak Rizal mengusap wajahnya. Perasaannya kini sudah benar benar putus asa. Jika sang istri menelan egonya sebentar, mungkin tudak akan seperti ini nasib anaknya. Begitu yang terlintas di benaknya.
Sementara Rayan sendiri memang benar benar hanya menjalankan apa yang menjadi peraturan di rumah sakit tersebut. Meski hatinya tidak tega, tapi aturan sudah mengikatnya dalam kontrak kerja.
Hingga akhirnya dering ponsel pak Rizal membuyarkan mereka.
"Astaghfirullah al'adzim.." Ucap pak Rizal menangis setelah mendengar suara dari seberang telephone.
Dengan cepat pak Rizal bergegas pergi dari hadapan Rayan dan Ayana tanpa pamit. Membuat Rayan dan Ayana juga kebingungan apa yang sedang terjadi.
Dengan rasa penasaran, Rayana dan Ayana menyusul pak Rizal menuju ruang ICU. Sesampainya disana, Rayan dan Ayana melihat bu Mida dan pak Rizal sedang fokus mendengarkan penjelasan dari dokter Haris.
Ada sedikit kelegaan di hati Ayana saat mendengar bahwa ada dokter beda yang bertugas di UGD sebagai pengganti dokter umum disana karena urusan dinas di luar, yang bisa mendampingi dokter Haris dan dokter Diana.
Setidaknya suaminya juga terhindar dari prasangka bu Mida, juga mantan suaminya bisa segera mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Rayan melirik Ayana yang berdiri di sampingnya. Rayan terkesima melihat senyum terukir tulus di bibir sang istri. Bukan cemburu yang dia rasakan. Melainkan rasa kagum karena tidak ada rasa dendam di hati sang istri untuk mantan suaminya itu.
"Kita pulang yuk..?" Ajak Rayan membuyarkan sang istri
"Eh.. Iya, ayo mas.." Ucap Ayana gagap
Rayan tersenyum geli. Saking gemasnya, Rayan mendaratkan ciuman di pipi Ayana. Membuat Ayana mendaratkan cubitan di perut Rayan dengan wajah yang merona akibat malu di cium di tempat umum.
Rayan tertawa lepas melihat reaksi istrinya. Hingga akhirnya dia menyusul Ayana yang sudah berjalan terlebih dahulu.
Sesampainya di kediaman mereka, Ayana tak lantas masuk menuju kamarnya dan Rayan. Dia terlebih dahulu mengecek Pangeran di kamarnya. Hampir seharian dia meninggalkan sang anak di rumah bersama sang ibu dan asisten rumah tangga.
"Kamu istrahat saja nak.. Pangeran biar tidur sama mama malam ini.." Ucap bu Lela yang sudah berbaring di tempat tidur Pangeran
"Iya bu.. Makasih banyak ya bu.." Ucap Ayana terharu dengan kasih sayang ibunya.
"Iya nak.." Jawab bu Lela tulus
***
Keesokan harinya.
Susi bingung harus bagaimana ketika jadwal masuk kuliah dua hari lagi dimulai. Dirinya tak tahu harus tinggal dimana ketika harus balik ke kota. Sedangkan barang barangnya pun masih berada di rumah sang tante.
Di tengah kebingungannya, Susi terlonjak kaget ketika tiba tiba ponselnya berdering memenuhi ruangan kamarnya.
Dengan ragu dan pelan, tangannya terulur meraih ponsel yang tergeletak di kasur tak jauh dari tempat duduknya. Susi menarik nafas dengan kasar saat nama sang tante tertera di layar pemanggil.
__ADS_1
Susi sengaja membiarkan panggilan telephone dari sang tante hingga selesai. Namun ponselnya kembali berdering masih dengan pemanggil yang sama. Namun lagi lagi Susi mengabaikannya.
Tak lama kemudian, ponselnya kembali berdering tanda pesan masuk.
"Kapan balik pulang nak..?" Pesan singkat dari bu Mina, sang tante.
Susi mengusap wajahnya kasar. Dia bingung harus menjawab apa.
Hingga akhirnya ponselnya kembali berdering tanda panggilan masuk.
"Hallo tante.." Susi terpaksa menerima panggilan telephone dari sang tante.
"Kamu kenapa nak..? Sakit..? Kapan balik..?" Tanya bu Mina khawatir di seberang sana.
"Gak ma.. Aku baik baik aja.. Aku belum tahu kapan balik.." Jawab Susi pelan
"Bukankah kamu sudah harus masuk kuliah..? Besok balik ya..? Biar Tio yang jemput.." Ucap bu Mina
"Eh gak ma.. Gak usah.. Biar aku sendiri aja pulangnya.. " Jawab Susi cepat
"Lah kenapa..? Kamu gak usah ke terminal bis naik turun angkot.. Repot nantinya kamu.. Biar Tio aja yang jemput.. Titip salam buat ibu sama bapak kamu.. Assalamualaikum.." Ucap bu Mina tanpa mau di ganggu gugat lagi
Susi menggerutu saat bu Mina tidak memberinya kesempatan untuk menolak. Bahkan sambungan telephone pun di putuskan dengan sepihak oleh sang tante.
"Kenapa kak..? Kok kayak kesal gitu..?" Tanya Rizki tiba tiba di balik pintu membuat Susi terlonjak kaget.
"Siapa suruh gak merhatiin orang masuk.." Ujar Rizki tertawa melihat tatapan sang kakak
Susi tak menggubris. Susi menunduk memandangi ponsel dalam genggamannya. Pandangan Rizki pun mengikuti arah pandang sang kakak.
"Kak.. Kakak mau tau satu hal gak..?" Tanya Rizki dengan nada serius membuat Susi sontak menatapnya.
Kening Susi mengerut tak mengerti arah pembiacaraan dari sang adik. Namun dia pun penasaran.
Rizki menatap wajah Susi dengan intens.
"Kakak gak salah jika nanti kakak harus bersama dengan kak Tio.." Ucap Rizki
Susi semakin mengerutkan keningnya menatap sang adik dengan bingung.
"Kenapa kamu bicara seperti itu..? Apa maksud kamu..?" Tanya Susi mulai kesal.
"Apa kakak gak pernah melihat cara kak Tio memperlakukan kakak dengan begitu sayangnya..? Apa kakak gak bisa melihat perlakuan kak Tio pada kakak yang tidak pernah kasar dan begitu sabarnya tidak seperti mantan suami kakak itu..?" Ucap Rizki terpancing
__ADS_1
"Rizki.. Tutup mulut kamu.." Susi mulai terpancing dengan ucapan sang adik
"Kakak mau tau satu hal..?" Ucapnya lagi
Susi terlihat mulai tidak tertarik dengan pembahasan yang di mulai oleh Rizki itu.
"Kak Tio tak sedarah dengan kita.." Ucap Rizki pada akhirnya
Pernyataan Rizki tersebut sontak membuat Susi terkejut. Dia menatap kedua manik sang adik dengan intens. Mencari apa maksud ucapan sang adik itu.
Mengerti arti tatapan sang kakak, Rizki tersenyum kecil.
***
"Pagi sayang.. Capek ya..? Maaf ya..?" Ucap Rayan tersenyum mengecup pipi Ayana dengan lembut.
"Maaf ya mas, aku kesiangan sampe gak nyiapin keperluan mas.." Ucap Ayana melihat Rayan sudah dengan pakaian rapihnya.
"Gak apa apa sayang.. Aku ngerti kok.. Seharusnya aku cukup minta sekali, tapi pelayanan kamu begitu baik sampe aku ketagihan dan ingin lagi.." Ucap Rayan tersenyum manis mengelus pipi Ayana.
Ayana menarik selimut hingga menutupi wajahnya karena malu dengan ucapan sang suami.
Rayan tertawa lepas melihat reaksi Ayana.
"Aku berangkat dulu ya..? Tadi aku udah cek Pangeran, dia belum bangun.." Ucap Rayan menarik selimut dari wajah Ayana.
"Mas sudah sarapan emang..?" Tanya Ayana tersadar
"Aku sarapan di rumah sakit aja.. Pagi ini ada meeting dulu.. Nanti aku sarapan disana, takut telat di hari pertama masuk.." Jawab Rayan tersenyum
Ayana merasa bersalah karena telat bangun hingga sarapan sang suami pun tak sempat dia siapkan. Meski ada asisten rumah tangga, tapi sarapan sang suami dialah yang selalu menyiapkannya.
Dan pagi ini, Rayan harus sarapan di luar karena dirinya telat akibat semalam harus menuruti keinginan sang suami untuk bertempur hingga subuh. Dan dirinya baru bisa istrahat setelah sholat subuh.
"Maaf mas.." Ucap Ayana pelan
"Gak apa apa sayang.." Jawab Rayan mengecup pipi Ayana
"Aku berangkat ya.. Assalamualaikum.." Imbuhnya lagi
"Waalaikumsalam mas.. Hati hati.." Jawab Ayana.
BERSAMBUNG
__ADS_1
**TERIMA KASIH UNTUK TEMAN TEMAN SEMUA YANG HINGGA SAAT INI MASIH TERUS MEMBERIKAN DUKUNGANNYA PADA AUTHOR UNTUK SETIAP EPISODENYA.. 😇😇
TERIMA KASIH BUAT KALIAN.. 🙏💞💞💞**