PERJUANGAN HIDUP SEORANG JANDA

PERJUANGAN HIDUP SEORANG JANDA
KESEDIHAN


__ADS_3

Dua hari sudah berlalu. Namun Susi masih terus merutuki dirinya atas apa yang terjadi di antara dia dan Tio pada malam itu.


Bahkan Susi terus menghindar dari Tio ketika mereka sama sama berada di rumah. Semua itu tak luput dari perhatian bu Mila. Namun kali ini bu Mila tidak berniat lagi ikut campur urusan anak dan ponakan kesayangannya itu.


Melihat sang anak yang baru saja keluar dari kamar dengan wajah yang segar serta pakaian casualnya yang membuatnya semakin menawan, berniat menghampiri dengan tatapan meneliti.


"Yo, hari ini mama pulang malam. Ada orderan kue yang lumayan banyak hari ini. Mama minta kamu jangan mengusik Susi, dia lagi sibuk dengan skripsinya. Kalau kamu lapar, mama sudah siapkan makanan, kamu tinggal hangatin lagi aja. " Pesan bu Mila sambil bersiap berangkat ke toko kue miliknya


"Alhamdulillah toko mama makin rame ya ma. Laris dan berkah untuk usaha mama. " Ucap Tio tanpa berniat menyetujui pesan sang mama


"Tio. Dengarkan pesan mama barusan?" Tanya bu Mila menatap sang anak dengan tatapan tajam


Bukan apa apa. Bu Mila hanya tidak ingin hubungan keduanya semakin berjarak karena sikap sang anak yang tidak di sukai oleh ponakannya itu. Terlebih bu Mila tahu, Susi sudah mengetahui perasaan Tio kepadanya yang membuatnya tidak nyaman.


"Iya mama sayang. Aku juga ada acara siang ini sama rekan kantorku. Jadi aku gak mungkin berada di rumah dan merepotkan ponakan kesayangan mama itu." Jawab Tio dengan nada pelan


"Tio. " Tegur sang mama dengan sikap sang anak yang terkesan malas atas ucapannya


"Mama, mama kenapa sih curigaan terus sama aku? Aku gak akan ngapa ngapain Susi meski sebenarnya aku ingin. Itu karena aku masih waras ma." Tio yang selama ini sabar, lembut dan penurut, tidak pernah aneh aneh, kini terkesan memberontak.


Bu Mila sampai tidak percaya dengan sikap sang anak yang kini berada di depannya itu. Bu Mila hanya bisa menatap Tio dengan tatapan tak percaya.


"Maaf ma. Aku gak bermaksud. Aku hanya gak nyangkah mama begitu gak percaya sama aku seperti itu." Ucap Tio menunduk


"Mama berangkat dulu, Assalamualaikum" bu Mila terlihat kecewa dengan sikap sang anak yang baru kali ini bersikap seperti itu kepadanya.


Melihat sikap kecewa sang ibu, Tio merutuki dirinya yang bisa bisanya menyakiti perasaan sang ibu yang begitu dia sayangi. Tio mengusap kasar wajahnya.


Di ambang pintu ruang tengah, Susi yang berniat mengambil air minum di dapur, hanya bisa berdiam diri di tempatnya tanpa berniat melanjutkan langkahnya. Susi tak sengaja mendengar perdebatan antara ibu dan anak itu tentang dirinya.


Menyadari keberadaan Susi disana, Tio menatap Susi dengan tatapan tak terbaca. Dengan langkah pelan, Tio menghampiri Susi dan mengelus kepala Susi.


"Maaf. Maaf atas semua ulahku. Kamu berhak marah. Aku terima karna memang aku salah telah berbuat sesuatu yang membuatmu menjaga jarak dariku." Ucap Tio dengan lembut

__ADS_1


Susi diam tak menyahut. Dirinya bingung harus bersikap apa. Melihat tatapan diam Susi, Tio beralih mengelus pipi Susi dengan senyum kecilnya.


"Aku ada acara sama teman kantorku, kamu ada sesuatu yang di butuhkan atau mau pesan apa biar aku belikan jika aku sudah pulang?" Pertanyaan Tio membuat Susi tersadar dari lamunannya yang sejak tadi entah sedang diam memikirkan apa.


"Aku gak butuh apa apa. Kalaupun ada, aku bisa usahakan sendiri.' Ucap Susi kemudian dengan capat dia berjalan menuju dapur yang sejak tadi menjadi tujuan awalnya.


Tio menatap sendu punggung Susi yang kini berlalu dari hadapannya. Hatinya mendadak sedih melihat sikap dan penolakan Susi. Dulu mereka begitu dekat, bahkan sering melempar candaan. Namun sejak Susi mengetahui perasaan Tio terhadapnya, Susi mulai menjaga jarak dengannya hingga saat sekarang ini.


"Kenapa sikapnya seolah biasa saja setelah apa yang dia lakukan sama aku? Dia sama saja dengan Tristan, setelah merampas ciumanku, sikapnya seolah tidak terjadi apa apa" Kesal Susi setelah selesai meneguk segelas air untuk menetralkan hati dan pikirannya.


Tiba tiba Susi tersentak dan hampir saja menjatuhkan gelas bekas minumnya itu di lantai karena ulah Tio.


"Maafkan aku. Jangan abaikan aku seperti ini. Meski kamu tidak membalas perasaanku, setidaknya bersikaplah seperti dulu. Aku rindu Susi yang dulu. Yang ceria, suka becanda bahkan jahil." Ucap Tio pelan di balik punggung Susi


Tangan Tio begitu erat memeluk pinggang Susi dari belakang. Kepalanya bersandar di punggung Susi.


"Lepas Tio. Jangan seperti ini." Kali ini Susi bersikap lembut


Susi melepas tangan Tio dari perutnya dan dengan pelan memutar menghadap ke arah sepupunya itu. Tio menunduk dengan raut wajah sendu. Susi terus memandangi wajah rupawan Tio dengan perasaan yang dirinya sendiri tidak tahu seperti apa.


"Aku tidak nyaman Tio dengan perasaan yang kamu miliki terhadapku. Terlebih sikap perhatian kamu yang jelas jelas itu bukan bentuk perhatian sebagai saudara, tapi lebih." Ucap Susi menatap wajah Tio yang masih terus menunduk di hadapannya itu.


" Bukan karena ada orang lain yang sedang mendekatiku. Tapi karena aku yang tidak bisa membalas perasaanmu karena kamu saudaraku. "


" Aku bukan saudaramu." Ucap Tio memotong ucapan Susi


" Aku bukan saudaramu Susi. Aku bukan anak kandung mereka. Aku anak yang di ambil dari rumah sakit yang telah di buang oleh orang tua kandungku tanpa berperasaan." Lanjutnya lagi


Kali ini tatapan mereka beradu. Susi dapat melihat sorot mata penuh kekecewaan di mata Tio. Bukan untuknya tapi untuk seseorang yang di ucapkanya barusan.


"Apa karena hal itu yang membuat kamu tidak menyukaiku ketika aku menaru hati padamu? Apa karena asal usulku yang tidak jelas yang membuat kamu tidak sudi di cintai oleh ku?" Ucap Tio dengan raut wajah yang terlihat putus asa


Susi menggeleng menatap Tio. Susi tidak menyangkah kalau Tio sudah tahu akan asal usulnya yang bukanlah anak dari tantenya.

__ADS_1


"Aku yakin kamu sudah tau siapa aku." Lanjutlah lagi ketika melihat raut wajah Susi yang tidak terlihat terkejut dengan identitasnya itu.


"Bukan soal itu Tio. Aku memang sudah mengetahuinya. Tapi itu belum lama ini. Tapi jujur, bukan karena itu." Jelas Susi


Tio tersenyum menertawakan dirinya sendiri dalam hati. Merasa miris akan apa yang terjadi pada dirinya.


"Kamu tenang saja. Setelah ini kamu tidak perlu lagi menghabiskan waktumu di dalam kamar hanya untuk menghindariku." Tio menatap wajah manis Susi


"Karena mulai besok, aku akan tinggal di rumahku yang baru. Tolong temani mama terus, biar dia tidak merasa kesepian di rumah ini." Ucap Tio kemudian bergegas pergi dari hadapan Susi yang masih terpaku dengan apa yang masuk dalam pendengarannya.


Suara mesin mobil Tio perlahan menjauh dari halaman rumah bu Mila. Susi baru tersadar dari keterpakuannya. Air matanya jatuh melintasi pipi chubynya.


"Bukan itu maksudku Yo. Aku tidak bermaksud menyakiti perasaanmu. Aku yang seharusnya pergi dari sini, bukan kamu." Ucap Susi, namun sayangnya Tio sudah tidak berada di hdapannya dan tidak mendengar ucapannya.


***


Malam kian larut. Saat ini waktu sudah menunjukan pukul 09.40 menit. Dimana Arman baru saja pulang dari kantornya dan menghempaskan tubuh lelahnya di sofa ruang keluarga. Arman membaringkan tubuhnya terlentang.


Pikirannya terus menerawang jauh. Begitu keras dia mengingat akan masalalunya tentang wanita yang mengaku istri keduanya saat beberapa hari kemarin yang tak sengaja lewat melintas di depannya, saat dirinya dan Ayana sedang membahas hubungan mereka di depan ruang rawat pak Rizal, ayahnya.


"Siapa sebenarnya dia. Apa benar dia istriku. Kenapa aku tidak mengenalnya. Kenapa hatiku dan ingatanku tidak bisa menujukan apapun tentang dia selain Ayana." Batin Arman


Arman menarik napas panjang sembari berpikir keras tentang semua yang dia lalui beberapa waktu belakangan.


Sejenak terlintas bayangan sang anak yang tersenyum ceria. Nyeri yang dia rasakan tatkalah mengingat sang anak.


"Yuki, Ayah rindu nak. Kamu dimana sebenarnya? Apa benar yang di makam itu adalah kamu nak? Kenapa perasaan Ayah tidak bisa mengakui kalau itu benaran kamu." Lirih Arman dengan air mata yang keluar dari sudut matanya yang terpejam.


TAMAT


TERIMA KASIH ATAS SEGALAH BENTUK DUKUNGAN APAPUN ITU.. 🙏🙏


TERIMA KASIH JUGA ATAS LIKE DAN VOTE NYA, INSYA ALLAH SUPPORT YANG SUDAH DI BERIKAN AKAN BERNILAI IBADAH.. 😇😇💞💞**

__ADS_1


__ADS_2