
"Gak apa apa.. Jangan takut lagi.. Aku gak akan melukaimu.. Tenang ya..?" Tristan mencoba menenangkan Susi yang memang bisa Tristan rasakan tubuhnya bergetar.
Dengan cepat dia memeluk tubuh Tristan dengan erat. Susi memang masih kerakutan, tapi dia mencoba menenangkan dirinya dengan memeluk erat tubuh Tristan.
"Kamu lihat dan bisa rasakan sendirikan aku gak nyakitin kamu..? Gak ada yang sakitkan..?" Ujar Tristan lembut dengan sambil terus mengelus kepala Susi penuh sayang.
Entah sejak kapan Tristan memiliki perasaan pada Susi. Kebersamaan mereka selama ini, membuat Tristan mungkin banyak mengenal karakter Susi yang ternyata bisa menarik perhatiannya. Sehingga tanpa sadar, kehadiran dan kekonyolam Susi mampu membuatnya nyaman.
Susi mendongakan kepalanya menatap wajah Tristan dengan sendu. Tristan yang di pandang seperti itu, tersenyum manis sehingga terlihat lesung pipi di sisi kanannya begitu manis.
"Kenapa kamu melakukan ini..?" Pertanyaan Susi membuat Tristan semakin menampakkan senyumnya.
"Melakukan ini maksud kamu..?" Tristan berucap sembari mengecup bibir Susi lalu tersenyum.
Susi melebarkan matanya dan terpaku.
Melihat reaksi Susi, Tristan tergelak.
"Gak apa apa sayang.. Aku melakukannya karena aku ingin.. Bukan karena aku suka.." Ucap Tristan.
Susi mengurai pelukannya lalu dengan cepat berputar membelakangi Tristan. Belum juga melangkah, Tristan dengan cepat memeluk pinggang Susi begitu intens.
"Tan lepas Tan.." Pinta Susi merasa risih.
Dengan gerakan perlahan, Tristan menutup pintu dan langsung mecium ceruk leher Susi dengan lembut. Susi merinding mendapati perlakuan seperti itu. Biar bagaimanapun, Susi adalah wanita dewasa dan sudah pernah di tahap itu sebelumnya.
__ADS_1
Tristan terus bergerak menuruti nalurinya. Tangan Susi mencoba melepas tangan Tristan yang terus memeluk pinggangnya dengan erat sebelum dirinya turut terlena. Namun percuma, terlambat. Tenaganya melemah saat Tristan membalikan tubuhnya dan dengan cepat ciumannya berpindah ke bibirnya lagi.
Setelah Susi semakin terbuai, Tristan menghentikan ulahnya itu. Melihat Susi yang masih menutup matanya, Tristan tersenyum.
"Sayang.. Buka matanya.." Ucapnya mengelus pipi Susi yang memerah.
Susi menunduk malu.
***
"Hanya dia yang papa rasa bisa papa percayakan untuk menggantikan pak Surya untuk sementara waktu.." Tutur pak Sultan yang melihat Rayan yang tidak setuju dengan pilihan orang tuanya itu.
Bagi Rayan, masih banyak pegawai disana yang bisa menghandle pekerjaan HR manejer yang di maksud oleh sang Ayah.
Sedangkan Ayana, dia hanya diam tidak ikut menanggapi. Bagi Ayana, apapun keputusan mertua dan suaminya, itu hak mereka sepenuhnya. Dirinya tidak berniat untuk ikut campur meski dia ikut di libatkan dalam pembahasan itu.
"Aku gak mau karena posisi ini, karena dia bekerja sama papa, dia dengan seenaknya datang di rumah papa maupun aku cuma dengan alasan yang gak masuk akal.. Terlebih dia pernah bilang, rasanya masih tetap sama.." Ucap Rayan menatap kedua orang tuanya.
Ayana terkejut mendengar ucapan sang suami. Ayana tak menyangka, dugaannya selama ini ternyata benar. Emil menyesal meninggalkan Rayan. Dan tujuannya masuk kedalam kehidupan keluarga suaminya itu tiada lain hanyalah agara selalu dekat dengan Rayan.
Meski Emil mengatakan kepadanya waktu itu bahwa dia tak tertarik merebut suami orang, dia akan menerima jika Rayan sendiri yang nantinya akan datang dengan sendirinya kepadanya.
Mungkin ini cara Emil menarik simpatik keluarga suaminya terutama suaminya tentunya.
***
__ADS_1
Dengan bermodalkan photo dan juga petunjuk dari beberapa info yang di dapatnya, Arman terus menelusuri jalanan gang di sebuah perkampungan. Disana dia mendapat informasi terbaru bahwa Rika istrinya pernah berada disana sebelum melahirkan anaknya.
Namun setelah dua bulan, Rika sudah tidak lagi berada di tempat itu. Namun beruntung salah satu warga memberinya sebuah alamat apartemen anaknya yang bekerja di ibu kota sebagai pegawai swasta. Karena menurut informasi, anak dari warga tersebut adalah teman dekat dari Rika.
"Terima kasih ya bu.. Saya permisi dulu.." Pamit Arman sopan
Dengan semangat Arman berjalan menuju mobilnya dan meninggalkan tempat itu dengan segera. Sepanjang jalan dia terus membayangkan seperti apa wajah sang anak yang kini pasti sudah dalam lucu lucunya.
Tanpa dia sadari, senyum indah terbit di sudut bibirnya, membayangkan pertemuannya dengan sang anak yang belum pernah dia lihat sejak lahir.
Tidak butuh waktu terlalu lama, Arman akhirnya sampai di sebuah gedung tinggi yang sederhana. Disana terdapat apartemen yang tidak terlalu mewah. Wajar saja, anak dari warga yang dia temui itu hanya karyawan biasa di sebuah perusahaan.
Dengan penuh semangat Arman memasuki gedung tersebut dan mencari kamar sesuai yang tertera di kertas pemberian warga tersebut.
"Maaf pak, Rika memang sebelumnya pernah kesini dengan anaknya, tapi hanya dua bulan saja setelah dia di jemput oleh temannya.." Arman mengerutkan keningnya mendengar penuturan wanita cantik penghuni apartemen itu
Arman berpikir keras, siapa teman Rika yang di maksud oleh wanita itu.
"Maaf, kalau boleh tau, anda ini siapa ya..?" Pertanyaan wanita itu lagi lagi membuat Arman heran.
"Apa Rika tidak pernah cerita kalau dia sudah menikah..? Dan anak yang dia bawa itu adalah anak dari pernikahannya..?" Tanya balik Arman
Dan kini giliran wanita itu yang mengerutkan keningnya heran.
"Siapa yang menjemputnya..? Wanita atah pria..? Dan kemana mereka pergi..?" Desak Arman mulai emosi.
__ADS_1
**BERSAMBUNG..
TERIMA KASIH BUAT TEMAN TEMAN SEMUA ATAS KUNJUNGANNYA KESINI.. 🙏💞💞💞**