PERJUANGAN HIDUP SEORANG JANDA

PERJUANGAN HIDUP SEORANG JANDA
DERING PONSEL


__ADS_3

Sementara di dalam ruangan operasi, Arman yang sedang berada di meja pesakitan itu sedang mengalami penurunan detak jantung hingga akhirnya bisa kembali stabil sebelum para dokter dan petugas medis lainnya kembali melanjutkan operasi hingga selesai.


Hampir empat jam Arman berada di ruangan dingin itu. Hingga pintu itupun akhirnya terbuka dan nampak dua orang dokter keluar di susul petugas medis lainnya yang mendorong brankar dimana Arman terbaring disana.


"Pah, Arman pah.." pak Rizal Ayah Arman nampak terkejut saat lengannya di tarik oleh bu Mida


"Sabar bu.." Ucap pak Rizal menenangkan sang istri


"Dok, gimana dengan kondisi anak saya..?" Bu Mida terlihat tidak sabar.


"Pasien kami pindahkan dulu di ruang ICU.. Tapi sejauh ini, operasinya cukup berhasil.. Semoga masa kritisnya bisa segera terlewati.." Jawab sang dokter dengan lembut dan ramah.


Tangis bu Mida pecah. Sementara pak Rizal terlihat tegar dan terus menenangkan sang istri di pelukannya.


***


Entah sudah berapa kali ponsel Ayana berdering tanda panggilan masuk. Ayana yang sedang berada di kamar Pangeran, terlalu asik bermain dan bercanda gurau dengan sang anak yang semakin hari semakin menunjukan tingkah lucunya.


Wajah tampan Pangeran rupanya turun dari Rayan sang Ayah. Namun mata dan tingkah lucunya yang menggemaskan persis seperti Yuki sang kakak.


"Ma.. Mum.." Ayana yang sedang membereskan sebagian mainan sang anak tidak begitu mendengar permintaan sang anak.

__ADS_1


"Ma.. Mum mum mum.." Pekik Pangeran sambil merengek membuat Ayana terlonjak dan langsung menghampiri sang anak.


"Iya sayang.. Pangeran mau apa..?" Ayana mengelus pipi sang anak untuk menenangkannya.


"Mum mum.." Ulang Pangeran masih dengan rengekan


"Oh Pangeran mau minum ya..? Sebentar mama ambilkan dulu.." Ayan beranjak menuju meja yang berada di sudut kamar dan mengambil air untuk sang anak yang sebelumnya dia siapkan disana.


"Pangeran duduk yang manis disini ya.. Biar minumnya enak.." Rayu Ayana karena Pangeran tidak mau diam.



"Gimana..? Enakkan..?" Tanya Ayana menggoda


Sementara di ruangan keluarga, dering telephone rumahpun berdering kencang. Bi Ina sang asisten rumah berlari dari arah dapur menghampiri telephone tersebut.


Namun langkah bi Ina terhenti saat di ujung ruangan tersebut. Rupanya dia kalah cepat dengan gerakan sang ponakan yang masih berada di rumah Ayana.


"Hallo bi.. Ayana kemana ya bi..? Di hubungi dari tadi gak di angkat angkat juga.. Dia baik baik ajakan..?" Bi Ina memperhatikan raut wajah sang ponakan yang tersenyum centil saat menerima panggilan telephone dari majikannya itu.


"Maaf mas Rayan.. Ini Lusi bukan bi Ina.. Mas Rayan bisa Lusi bantu apa ni..?" Ucap Lusi dengan centilnya membuat bi Ina menggerutu gemas rasanya ingin menjewer ponakannya itu.

__ADS_1


"Tolong panggilkan bi Ina sekarang.. Saya mau bicara dengannya.." Jawab Rayan dengan kesal di seberang sana


"Gak apa apa mas Rayan.. Biar Lusi aja.." Jawab gadis yang baru saja tamat SMA itu dengan percaya diri


Dengan kesal, Rayan mematikan sambungan telephone. Lusi terlihat kesal menatap gagang telephone yang di genggamannya dan menaruhnya kembali ke tempatnya sedikit kasar.


Merasa tidak tahan dengan kelakuan Lusi, bi Ina tergesa gesa menghampiri Lusi dan menarik daun telinganya dengan keras.


Lusi memekik mendapati daun telinganya yang panas dan perih akibat tarikan keras dari sang tante.


"Sekarang ambil tas mu di meja dapur dan pergi dari sini.. Balik ke kost mbakmu.. Jangan pernah datang kesini lagi.. Bibi gak mau di pecat gara gara kelakuanmu yang tidak sopan itu Lusi.. Bibi masih banyak tanggungan hidup, nyari kerjaan itu susah, apalagi dapat majikan yang luar biasa baiknya.." Bi Ina meluapkan kekesalannya pada ponakannya itu.


Dengan wajah cemberut dan tangan terus mengelus telinga, Lusi pergi meninggalkan rumah majikan bibinya itu dengan berat hati.


"Dasar anak nakal.. Masih kecil udah banyak tingkahnya.." Gerutu bi Ina menatap punggung sang ponakan yang mulai hilang dari pandangannya.


"Ah non.. Kaget bibi non.." Bi Ina terlonjak kaget dengan tangan menekan dadanya melihat Ayana berdiri persis di hadapannya menatapnya dengan diam saat berbalik setelah menutup pintu depan.


**BERSAMBUNG..


TERIMA KASIH BUAT TEMAN TEMAN YANG MASIH SETIA DI NOVEL SAYA INI.. 🙏🙏💞💞

__ADS_1


UNTUK SETIAP BENTUK DUKUNGANNYA TEMAN TEMAN, SAYA JUGA UCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH.. 🙏🙏💞💞💞**


__ADS_2