PERJUANGAN HIDUP SEORANG JANDA

PERJUANGAN HIDUP SEORANG JANDA
PENJELASAN


__ADS_3

Setelah memberi Pangeran air minum, Rayan kembali membawa Pangeran menemui Ayana di kamarnya. Ketik di ujung anak tangga, Rayan baru teringat sang istri sedang dalam keadaan kurang baik moodnya.


Perlahan Rayan kembali turun bermaksud mencari ibu mertuanya untuk menitipkan Pangeran sebentar. Sebab sang pengasuh yang baru saja bekerja beberapa minggu yang lalu harus cuti karena ibunya yang sedang sakit.


"Bu.. Minta tolong titip Pangeran sebentar bu.." Ucap Rayan tersenyum seolah tidak terjadi apa apa²


"Ayana mana nak..?" Tanya bu Lela sembari mengambil alih Pangeran dari pelukan sang menantu.


"Di kamar bu.. Ada yang mau kita bahas sebentar.." Jawab Rayan menatap bu Lela


"Oh yasudah Pangeran biar sama ibu dulu.." Ucap bu Lela mengerti maksud menantunya menitip sang cucu kepadanya


Pangeran sendiri hanya menuruti kehendak sang Ayah dan Neneknya. Pangeran justru lebih suka bermain dengan bu Lela ketimbang sang Ayah.


Bukan tanpa alasan. Hal itu di karenakan sang Ayah yang jarang berada di rumah karena tuntutan pekerjaan, sehingga membuat Pangeran lebih sering menghabiskan waktunya bersama nenek dan ibunya sendiri.


Namun meski demikian, ketika Rayan berada di rumah, Rayan selalu mengutamakan keinginan Pangeran, termasuk menemaninya bermain.


Saat Rayan sudah berada di depan pintu kamar mereka, dengan perlahan tangannya membuka pintu kamar dan mendorongnya dengan sangat hati hati. Rayan bermaksud ingin tahu terlebih dahulu apa yang sedang istrinya lakukan di kamar mereka.


Namun kemudian Rayan masuk setelah sempat mengintip sebentar namun sosok yang dia cari tidak berada di dalam kamar.


"Kemana dia..?" Batinnya


Tanpa sengaja matanya menangkap sosok sang istri yang sedang berdiri di ambang pintu balkon sedang tertutup kain gorden yang sedang di terpa angin.


Rayan tersenyum kecil sembari melangkah perlahan mendekati sang istri. Dengan gerakan pelan, Rayan melingkarkan tangannya kanannya di dada sang istri sedangkan tangan kirinya berada di saku celananya.


"Astaghfirullah.." Ayana tersentak akibat terkejut


Rayan tersenyum dari balik punggung Ayana. Dengan lembut Rayan mengecup pundak Ayana.


"Ada apa sayang..? Gak biasanya kamu diamin aku kayak gini.. Apa ada kesalahan yang gak aku sadari sudah menyakiti kamu..?" Tanya Rayan lembut


Ayana diam tak menjawab. Dirinya masih berusaha berdamai dengan perasaannya sebelum dia menanyakan perihal photo yang dia dapat dari pengirim yang tidak dia kenali itu.


***


Dia kamar, Susi termenung sembari tangannya memegang daun bibirnya yang beberapa saat lalu berbenturan dengan bibir Tio.

__ADS_1


Entah kenapa, jantungnya bedetak begitu kencang saat ini. Padahal ini bukan ciuman pertama baginya.


"Huff.. Ya Allah.. Kenapa seolah ini adalah hal baru bagiku.. Kenapa jantungku berdetak begitu cepat.. Apa karena benciku yang membuatku seperti ini saat ... Ahk kesel.." Batin Susi bermonolog.


Susi mengacak rambutnya karena stres memikirkan perasaannya.


"Di panggil mama di meja makan.." Susi tersentak saat Tio muncul di ambang pintu yang lupa di tutup.


Saat mata keduanya berpapasan, Susi sontak membuang pandangannya ke arah lain. Jantungnya kembali berdetak kencang. Entah dengan Tio, tapi saat ini keduanya sama sama merasa salah tingkah.


Saat mereka sudah berkumpul di meja makan, Susi berusaha untuk tidak menatap ke arah Tio. Berbeda dengan Tio, matanya tak hanya sekali dua kali melirik ke arah Susi sambil menyantap makan malamnya.


Bu Mina yang tanpa sengaja memperhatikan sang anak dan ponakannya itu, memgerutkan keningnya.


"Ada masalah apa..? Kok tumben diam diaman gitu..?" Ucap bu Mina menatap keduanya secara bergantian.


Tio sontak menunduk menatap piring di depannya. Sedangkan Susi sontak menatap wajah sang tante dengan senyum kecutnya.


"Mama harap, apapun yang terjadi di antara kalian berdua, janganlah pernah berubah. Tetaplah seperti kalian yang dulu. Mama bisa sedih jika kalian seperti ini, terlihat seperti musuhan.." Ujar bu Mina menampakan wajah sedih di depan keduanya


"Iya ma.." Jawab keduanya berbarengan


***


Di rumah sakit pelita indah, kebahagian tengah menyelimuti bu Mida dan pak Rizal. Arman yang sempat koma bahkan kritis, setelah tim dokter kembali melakukan operasi kedua, akhirnya Arman bisa melewati masa kritisnya.


Meski tim dokter masih membatasi orang tuanya saat mengunjungi Arman di ruang ICU, tapi tidak mengurangi rasa syukur dan bahagia dari kedua orang tuanya.


Dan kabar soal kemajuan kondisi Arman pun, telah sampai pula di telinga Ayana. Rasa syukurnya pun tak lupa ia panjatkan. Biar bagaimanapun masalah yang tercipta di antara keduanya, tidak membuat Ayana dendam pada mantan suaminya itu.


Saat ini, Ayana yang masih belum mau bicara dengan suaminya, sengaja berdiam diri di kamar Pangeran sembari mengawasi Pangeran bermain dengan mobil mobilannya.


"Sayang.."


Rayan yang sejak tadi sibuk di depan laptopnya, tidak sadar bahwa sang istri sedang tidak berada di kamarnya.


"Masya Allah.." Ucapnya mengusap wajahnya dengan kasar


Rayan lupa bahwa sang istri masih dalam kondisi marah. Meski dirinya tidak tahu apa penyebab Ayana mendiaminya seperti itu.

__ADS_1


Bergegas Rayan menyimpan laptopnya dan berjalan keluar mencari keberadaan sang istri. Ruangan pertama yang ingin dia cek adalah kamar sang anak.


Dan benar saja, Ayan sedang berada disana, duduk lesehan mengawasi sang anak yang sedang bermain.


"Sayang.. Kamu disini rupanya.." Sapa Rayan menghampiri sang istri.


"Pa pa main.. Pa main.." Celetuk Pangeran saat Rayan duduk di antara Ayana dan Pangeran


"Iya sayang.. " Jawab Rayan mengelus pipi Pangeran


"Sayang.. Please.. Ada apa..? Kitakan sudah sepakat jika ada sesuatu, ya dibicarakan dengan baik.. Kalau diam seperti ini, mana bisa selesai sayang.." Ucap Rayan menatap Ayana dengan intens


Ayana menarik nafasnya dengan kasar. Sejenak matanya menatap kedua manik mata sang suami dengan tatapan yang tidak dapat di artikan oleh Rayan.


Ayana menunduk membuka layar ponselnya. Sesaat kemudian dia menyodorkan ponselnya di depan wajah Rayan. Rayan yang masih bingung, tidak memgerti apa maksud sang istri, perlahan menunduk menatap ponsel yang di berikan oleh Ayana tersebut.


"Astaghfirullahal `adziim.." Rayan melemas saat di layar ponsel sang istri terpampang jelas photonya sedang berpelukan dengan Emil, mantan kekasihnya dulu.


"Sayang.. Aku bisa jelaskan.. Ini gak seperti yang kamu pikirkan sayang.."


Ayana diam tak bergeming.


"Siang tadi aku mengurus semua sisah kontrak aku sebelum akhirnya Emil datang menghampiriku.. Aku benar benar gak tau dia dari mana.."


"Dan saat dia bertanya apa benar yang dia dengar bahwa aku pindah kerja, tanpa di duga Emil memelukku dengan mengucapkan selamat bekerja di tempat baru.."


"Aku sendiri gak sempat mencegahnya karena semua terjadi dengan spontan.."


Ayana tetap tak bereaksi apapun atas penjelasan Rayan. Membuat Rayan meraih tangan Ayana lalu menggenggamnya dengan erat.


"Sayang.. Jika kamu gak percaya pada apa yang aku jelaskan, kita bisa ke rumah sakit.. Kita cek cctv disana.. Biar kamu bisa lihat sendiri apa aku bohong atau tidak.." Ucap Rayan dengan lembut.


"Maaf mas.. Aku masih butuh waktu.. Malam ini aku nginap di kamar Pangeran.. Mas silakan keluar, aku mau sendiri dulu.." Ucap Ayana tak terluluhkan.


"Sayang.. Jangan kayak gini dong sayang.." Ucap Rayan menatap mata Ayana memohon


**BERSAMBUNG..


TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN TEMAN TEMAN SEMUA DI NOVEL SAYA INI.. 🙏🙏

__ADS_1


TERIMA KASIH JUGA ATAS SEGALAH BENTUK DUKUNGAN KALIAN SEMUA.. 🙏💞💞💞💞**


__ADS_2