
Rayan menghampiri Ayana dan menatapnya dengan tatapan penasaran.
"Sayang.. Tadi mama nelphone.. Katanya, Arman kecelakaan beberapa hari yang lalu.. Dan saat ini dia sedang di rawat di rumah sakit Pelita Indah.." Tutur Rayan pelan menatap wajah sang istri.
"Saat ini, dia sedang kritis.. Meski upaya yang di kerahkan tim medis sudah maksimal, tapi Arman belum juga melewati masa kritisnya.. Dan saat ini, Ibunya sedang mencoba mencari keberadaanmu.." Ujar Rayan menambahkan
Ayana kaget. Namun dia hanya bisa diam. Ayana mencoba mengendalikan perasaannya di depan sang suami.
Ingin menghargai perasaan sang suami, namun tidak pula di pungkiri hatinya cukup sedih mendengar berita tersebut. Biar bagaimanapun, mereka pernah hidup bertahun lamanya dan memiliki seorang anak dari pernikahan mereka terdahulu.
Rayan pun sebetulnya cukup mengerti. Dia paham bahwa biar bagaimanapun, Arman adalah mantan suami dari orang kini menjadi istrinya. Ayah dari Yuki, anak sambung yang dia sayangi.
Rayan berpandangan bahwa jika Yuki masih berada di antara mereka saat ini, dan mengetahui kondisi sang Ayah, Yuki pasti akan begitu terpukul.
"Sayang.. Kita tunda dulu ya acara kitanya..? Kita ke rumah sakit sekarang.." Ucap Rayan mengelus lengan Ayana.
Ayana terkejut mendengar ucapan Rayan. Dia mencari sesuatu lewat tatapan mata sang suami. Seperti mengerti, Rayan tersenyum menanggapi tatapan Ayana.
"Sayang.. Jangan banyak mikir.. Ayo, keburu malam makin larut.." Ucap Rayan lagi
"Mas benaran gak apa apa..?" Ayana ragu.
Bukan jawaban yang di berikan oleh Rayan. Tapi sebuah ciuman manis di bibir Ayana. Ayana yang masih bengong, terkejut ketika Rayan menarik pelan tangannya keluar dari rumah menuju mobil yang berada di depan rumah dan bergegas menuju rumah sakit.
Tak berselang lama, merekapun akhirnya sampai di area parkir rumah sakit. Rayan yang sudah bersiap turun, menutup kembali pintu mobilnya saat melihat Ayana yang tak berniat sama sekali untuk turun dari mobil.
"Sayang..? Ada apa..?" Tanya Rayan dengan lembut.
__ADS_1
Ayana melirik Rayan sekilas kemudian menunduk menatap tangannya yang saling menggenggam satu sama lain.
"Kamu tau mas.. Sebelum aku menikah dengan mas Arman, orang tuanya menentang hububgan kami.. Tapi mas Arman tetap berusaha meyakinkan ibunya sampai akhirnya kami menikah.. "
Ayana menatap kedua manik mata Rayan. Tatapannya penuh arti. Rayanpun diam, menunggu Ayana melepaskan semua yang mengganjal di hatinya. Seolah tahu, bahwa sang istri kini merasa tertekan.
"Tapi setelah kami menikah, hingga aku melahirkan Yuki, ibunya tetap masih tidak memandangku.. Tapi beliau juga tidak meminta anaknya untuk meninggalkanku.. Mungkin karena ada Yuki di antara kami.."
"Aku sendiri tidak tau apa aku di mata mantan ibu mertuaku itu mas.. Dan sekarang, anaknya seperti ini di saat kami sudah berpisah, aku takut ibunya mas Arman akan menyalahkanku lagi karena meninggalkan anaknya itu.." Ayana akhirnya meluapkan semua apa yang menjadi kekhawatirannya pada sang suami.
Rayan menarik tangan Ayana dan menggenggamnya erat sembari tersenyum.
"Ada aku.. Aku tidak akan mungkin membiarkan mereka menyakitimu.. Kita kesini dengan niat baik bukan..? Dan satu hal lagi, Arman mengalami kecelakaan hingga kritis seperti ini, itu bukan karena kamu yang telah meninggalkannya.. Itu semua terjadi karena sudah kehendak dari Allah.." Tutur Rayan lembut
Ayana bersyukur. Ternyata Rayan adalah suami yang bisa memahaminya. Suami yang selalu mendukungnya. Hingga terlintas di benaknya, kenapa bisa dulu dia menolak Rayan dalam hidupnya. Tanpa sadar, tersungging senyum manis di bibirnya.
"Sudah enakan..? Ayo kita turun.." Ajak Rayan mengelus pipi Ayana lembut yang kemudian di angguki olehnya.
"Ini kenapa nak..?" Tanya bu Mina, tantenya Susi saat melihat barang barang Susi yang sudah rapi dengan kopernya di sudut kamar.
Susi yang duduk di atas ranjang hanya bisa diam tak tahu harus menjawab apa.
"Susi..? ini kenapa..? Ada apa..?" Desak sang tante menunjuk sebuah koper di depannya.
Susi menatap sang tante sekejap lalu tertunduk diam. Bu Mina pun akhirnya ikut duduk di sisi ranjang.
"Kalau ada masalah, tolong kasih tau mama.. Jangan cuma diam aja.." Desak sang tante lagi
"Dia mau pergi dari sini katanya.." Bu Mina kaget saat Tio tiba tiba berdiri di ambang pintu dengan kedua tangannya di masukkan ke dalam saku celana.
__ADS_1
"Apa..? Mau pergi..? Kenapa..? Pergi kemana..?" Sang tante yang terkejut dengan laporan Tio itu sontak memborong pertanyaan dengan tidak sabara.
Tio hanya mengangkat bahunya mengisyaratkan dia pun tak tahu.
"Aku cuma merasa gak enak aja ma harus numpang tinggal disini lama lama.." Jawa Susi akhirnya dengan nada pelan.
"Kenapa gitu nak..? Kita ini bukan orang lain.. Mama ini adik dari mamamu.."
"Tapi tetap aja ma.." Ucap Susi memotong ucapan sang tante
Bu Mina menarik napasnya dan menghembuskannya dengan kasar.
"Kasih mama alasan yang tepat.." Ucap bu Mina datar
Susi bingung harus mengatakan apa. Dia sendiri bingung bagaimana caranya untuk menjelaskan pada sang tante soal alasannya karena Tio yang dia rasa sedang menjaga jarak dengannya selama dia berada di rumah mereka.
"Apa karena aku yang terkesan menghindar seperti yang kamu bilang tadi.." Tio seperti sengaja mengadukan pada sang Ibu namun dengan cara bertanya pada Susi.
Bu Mina sontak melebarkan matanya menatap Susi.
"Bukan gitu ma.." Ucap Susi melemas
"Ada apa ini sebenarnya..? Apa kalian ada masalah yang mama tidak tau..?" Bu Mina mulai terpancing emosi
"Ma.. Tadi setelah aku pulang kerja, Susi ngajak aku ngobrol di depan.. Katanya besok dia mau pergi aja dari sini.. Alasaanya karna aku yang cuek, yang jarang di rumah, dan apa lagi tadi lupa.." Susi menunduk malu
"Apa sebenarnya Susi tau aku menyukainya..? Sehingga dia mau pergi dari rumah ini.." Batin Tio
**BERSAMBUNG..
__ADS_1
TERIMA KASIH BUAT KALIAN SEMUA YANG SUDAH MAMPIR DISINI.. 🙏💞💞😘**