
Dengan tergesa gesa, Tio memakai sepatu kerjanya hingga hampir tersungkur di lantai. Bu Mina yang sejak tadi sibuk menyiapkan sarapan di meja makan tak sengaja ekor matanya menangkap gelagat Tio yang berada di ruang tengah sedang tertunduk memakai sepatu kerjanya.
Bu Mina lantas penasaran apa gerangan yang membuat sang anak begitu tergesa gesa seolah sedang di kejar preman.
"Ma, aku berangkat dulu.. Assaalmualaikum.." Pamit Tio masih dengan terburu buru.
"Sarapan nak.." Bu Mina sampai meninggikan suaranya karena Tio sudah berada di ambang pintu depan.
"Nanti saja ma di kantor.." Teriak Tio berlalu
"Ada apa dengan anak itu..?" Gumam bu Mina menatap keluar rumah
Sementara itu, di perjalanan, Tio terus melirik jam tangan yang di kenakkannya. Hari ini adalah hari spesialnya sebab dia berhasil di promosikan naik jabatan di salah satu perusahaan kontraktor yang cukup besar di kotanya tempat dia bekerja.
Tio tidak ingin kesan pertama di jabatan barunya ini menjadi kesan buruk karena keterlambatannya. Bukan tanpa sebab Tio bangun cukup telat dari biasanya.
Semalam dirinya terus memikirkan Susi yang tak kunjung membalas pesannya yang menanyakan kapan dirinya pulang dari kampung. Bahkan libur kuliah tinggal sehari lagi berakhir.
Karena terus menunggu balasan pesan hingga terus kepikiran pada Susi yang dia rindukan, membuatnya susah untuk memejamkan mata walau hajya sekejap meski malam semakin larut.
Tio baru terlelap ketika waktu menunjukkan pukul tiga pagi. Membuat dirinya bangun kesiangan.
***
Menjelang siang, suasana di ruang meeting menjadi sangat meriah dengan gemuru tepuk tangan dari seluruh staf hotel.
Senyum indah pun terukir manis di bibir pak Sultan. Predikisinya selama ini benar. Kehadiran Emil pasti sangat membantunya setelah kepala bagian administrasi dan keuangan cuti.
Emil sangat profesional dalam bekerja. Setiap pekerjaan selalu di selesaikan hingga tuntas. Tidak ada kata menunda. Dan hari ini, semua karyawan sangat bahagia karena penggajian hari ini serentak tanpa bertahap seperti sebelumnya.
Bahkan ada beberapa yang mendapat bonus dari kerja keras mereka serta tambahan kembur pun di berikan tepat waktu hingga semakin meningkatkan semangat kerja para karyawan.
Semua itu juga berkat Emil yang sebelumnya meminta persetujuan dari pak Sultan sebagai pemilik hotel bintang lima itu.
"Terima kasih sebelumnya atas usaha dan kinerjanya.." Ucap pak Sultan tulus
"Sama sama pak Sultan.. Saya sudah berjanji di depan bapak akan bekerja sebaik mungkin untuk turut memajukan hotel ini.. Dan semua yang di capai hari ini, tak luput dari kepercayaan yang bapak beri pada saya.." Ujar Emil tak kalah tulus.
Pak Sultan menelisik mata dan wajah Emil dengan seksama. Nampak jelas olehnya kesungguhan disana tanpa di buat buat.
"Baiklah saya permisi dulu pak.." Pamit Emil sembari melirik jam di pergelangan tangannya.
"Iya silakan.." Jawab pak Sultan
Pak Sultan terus menatap punggung Emil yang semakin menjauh dari pandangan matanya. Dalam hati pak Sultan berharap Emil benar benar profesional. Sehingga dia tidak perlu merasa tak nyaman pada menantu satu satunya dari anak tunggalnya, Rayan.
__ADS_1
Di depan ruangan Emil, dari jauh Emil melihat ada seorang wanita paruh baya sedang berdiri bersama salah satu staf hotel.
Emil melambatkan langkah kakinya yang mulai lancar berjalan menggunakan sepatu tinggi dan memang sudah menujukan kemajuan semenjak dia berobat dengan rutin.
Namun bukan hanya itu, Emil yang merasa nyaman, tenang serta mulai ceria dengan aktivitasnya, membuat kesehatannya semakin membaik.
Namun kini, melihat seseorang yang berada tepat di depan matanya itu, membuat dirinya kembali seolah tertekan dan melemas.
Belum juga dia sempat menghindar, mata dari seorang wanita paruh baya itu tak sengaja melihat Emil di ujung ruangan.
"Emil.." Sapa wanita itu menghampiri dengan senyum lebarnya
"Maaf bu, saya sudah melarangnya masuk tapi ibu ini memaksa.." Ucap resepsionis itu dengan sopan
Emil memang jauh jauh sebelumnya sudah berpesan, jika ada yang ingin bertemu dengannya siapapun itu, maka harus dengan perserujuannya terlebih dahulu.
"Yasudah, kerja lagi sana.." Jawab Emil datar
"Baik bu.. Permisi.."
Emil menatap dengan datar wajah wanita di depannya itu. Sedangkan yang di tatap hanya tersenyum sambil sesekali melirik ke seluruh penjuru ruangan tempat mereka berada.
"Apa yang membuat mama kesini mencariku..?" Tanya Emil akhirnya
Wanita itu menoleh menatap wajah Emil tak suka dengan pertanyaannya.
"Ma.. Saya tau gimana mama.. Anak mamapun tidak suka mama ikut dengannya karena kelakuan mama yang tidak mau di nasehatin.." Ucap Emil terpancing
"Jangan kurang ajar kamu Emil.. Aku ini ibu mertua kamu.. Jangan durhaka kamu sama orang tua.." Ucap
Emil menghiruf nafas pelan untuk menetralkan perasaannya.
"Dari mana mama tau aku disini..?" Tanya Emil pelan
" Dari mana mama tau itu tidak penting.. Mama kesini ada urusan penting sama kamu.. Dimana ruangan kamu.." Tanya mertuanya dengan angkuhnya.
Emil mencoba menahan rasa kesalnya dengan berjalan melewati sang mertua tanpa mengajaknya. Mertuanyapun dengan santainya mengikuti Emil dari belakang.
"Silakan duduk.." Ucap Emil dengan sopan meski hatinya kesal
Sang mertua dengan cueknya menurutinya duduk di kursi depan menantunya itu.
"Aku masih banyak kerjaan.. Mama ada perlu apa kesini.." Tanya Emil dengan cepat
Sang mertua menatapnya dengan mendelik.
__ADS_1
"Mama butuh uang.. Mama minta pinjaman, nanti kalau Dion mengirimkan mama uang, mama akan ganti uang kamu.." Ucap wanita itu dengan santainya
Dugaan Emil ternyata benar. Bahwa ibu mertuanya menemuinya pasti ingin uang.
"Maaf ma.. Aku belum gajian.." Ujar Emil tak kalah santai
Sontak saja membuat mertuanya menegakkan badannya dari tempat duduknya yang semua duduk bersandar dengan santainya.
"Emil.. Kamu kan punya jabatan disini, tentu kamu bisa mengajukan pinjaman.." Ucap mertuanya dengan kesal
"Maaf ma.. Tapi aku gak bisa.. Aku baru sebulan kerja disini.. Mama minta saja sama Dion.. Diakan punya uang.." Ucap Emil menatap mertuanya
"Uang dari Dion mana..? Kamu kan kerja, tentu kiriman dari Dion masih ada.." Ucap sang mertua
"Maaf ma..Dion udah gak pernah lagi memberiku uang.. Itulah sebabnya aku kerja.. Kami juga akan berpisah dalam waktu dekat ini.." Jawab Emil dengan lantang
"Apa..? Kalian mau cerai..?" Kaget mertuanya tak percaya
"Kalau mereka pisah, aku gak bisa lagi dapat uang.. Karna hanya Emil yang bisa membuat Dion memberikan ku uang.. Anak brensek itu gak akan percaya kalau aku gak judi lagi.." Monolognya
"Mama harus bisa meninggalkan kebiasaan buruk mama.. Aku benar benar gak bisa lagi bantu mama untuk meminta uang pada Dion dengan berbagai kebohongan demi mendapatkan uang untuk mama.." Ujar Emil menatap mertuanya itu
"Selama ini aku banyak berbohong demi untuk mendapatkan uangnya, itu karna permintaan mama.. Dan janji mama, mama hanya akan melunasi semua hutang judi mama dan gak akan judi lagi.. Tapi apa..?"
"Sampai akhirnya aku harus bertengkar dengan Dion karena masalah keuangan.. Dia menuduhku dengan berbagai asumsinya.."
Dengan malu bercampur kesal, ibu mertuanya pun bergegas keluar dari ruangan Emil tanpa sepatah kata pun. Membuat Emil memijit keningnya akibat pusing dengan kehadiran sang ibu mertua yang terlilit hutang itu.
Jujur saja Emil masih memcintai suaminya. Namun karena kata kata kasar yang terlontar dari mulut suaminya untuknya, membuat dirinya harua pergi tanpa pamit.
Semua bermula dari keduanya yang belum terlalu memahami karakter masing masing, di tambah lagi dengan kelakuan sang ibu mertua yang terus merengek dan mendesaknya untuk membohongi sang suami demi mendapatkan uang darinya.
***
Hari ini Susi terpaksa pulang ke kota. Namun dirinya pulang dengan menggunakan jasa bus karena tidak ingin berduaan dengan Tio.
Terlebih dirinya sudah tahu dari sang adik bahwa Tio bukanlah anak kandung dari sang tante. Ayah dan ibunya pun sudah menjelaskan kebenarannya bahwa mereka memang tak sedarah.
Ketika Susi turun dari bis, Susi lantas bergegas untuk berpindah ke angkot untuk menuju ke jurusan kontrakan lamanya. Dia berniat untuk mengecek kontrakan lamanya untuk bisa dia tempati lagi jika masih kosong.
"Susi..?" Terdengar suara yang dia kenal sedang memanggil namanya dari arah belakang saat dirinya turun dari angkot
Saat berbalik, Susi terkejut dan hampir tak bisa bergerak saat tahu siapa yang sedang berada di hadapannya.
**BERSAMBUNG..
__ADS_1
TERIMA KASIH YA BUAT TEMAN TEMAN SEMUA YANG SUDAH MEMBERIKAN BENTUK DUKUNGANNYA PADA SAYA SEBAGAI AUTHOR.. 🙏💞💞💞**