
Sudah hampir sebulan ini Susi menjadi seorang pendiam. Pembawaannya yang biasanya ceria, apa saja pasti akan jadi bahan obrolan, kini tak nampak lagi dari dirinya.
Susi yang jika menyiapkan makan malam bersama sang tante, biasanya selalu ada saja topik yang akan dia lontarkan sebagai bahan obrolan. Kali ini tidak lagi. Dia lebih banyak diam meski tangannya begitu cekatan.
Tak tahan dengan perubahan sang ponakan, bu Mila pun akhirnya berniat untuk menanyakan masalah apa yang tengah di hadapi oleh ponakan kesayangannya itu.
"Gak ada apa apa ma.. Aku baik baik aja.." Jawab Susi berusaha terlihat seperti yang di ucapkannya itu.
"Gak usah bohong nak.. Mama tahu kamu ada masalah.. Gak biasanya kamu seperti ini.. Banyak diam bahkan bicara hanya seperlunya saja.." Ucap bu Mila
"Masalah pacar..? Atau Tio bikin ulah sama kamu..?" Tanya bu Mila mendesak
Susi menghentikan sejenak kerjaannya yang sedang mengduk sop kambing yang dia buat.
"Gak keduanya.. Aku cuma berusaha bersikap kalem aja ma.. Biar lebih elegan.." Jawab Susi tersenyum menatap sang tante
Pernyataan Susi itu sungguh membuat bu Mila tak bisa menahan tawanya. Sementara Susi hanya tersenyum kecil sembari melanjutkan kembali pekerjaannya yang tertunda akibat pertanyaan sang tante.
Di tengah obrolan dan acara masak mereka, tiba tiba ada suara seorang pria mengucapkan salam di depan rumah mereka. Dari suaranya, Susi bisa menebak pasti siapa tamu tersebut.
Namun Susi tak menghiraukannya. Dia terus fokus pada cara masaknya. Lagi lagi sang tante melirik aneh ke arah Susi. Biasanya ketika ada tamu yang datang, Susi selalu berinisiatif membuka pintu rumah.
"Susi.. Tolong buka pintu dulu, lihat siapa tamu yang datang.. Barangkali itu pelanggan mama datang kemari karna hari ini toko kue gak buka.." Bu Mila sengaja menguji sikap Susi.
"Tanggung ma.. Ini sopnya mau di bumbuin dulu.." Jawab Susi cuek.
Susi ingat, Tristan pasti datang mengunjunginya seperti yang Tristan ucapankan waktu itu bahwa dia akan kembali datang berkunjung sekaligus ingin menemui bu Mila, sang tantenya itu.
Namun karena bayangan Tristan dan wanita itu, yang dia lihat di sebuah parkiran cafe waktu itu, masih terlintas jelas di benaknya yang membuatnya cemburu hingga hatinya terasa sakit.
"Kan bisa nanti bumbunya juga.. Atau sini biar mama yang lanjutin kerjaan kamu.." Ucap bu Mila sengaja.
"Mama aja ya..? Dan nanti kalau ada yang nanyain aku, mama jawab aja gak ada, bilang aja lagi di kampus gitu.." Ucap Susi memelas.
Tentu saja sikap dan ucapan Susi itu membuat sang tante curiga. Tamu yang datang, dan sikap Susi beberapa hari ini, sang tante akhirnya menaru curiga ada hubungannya.
"Gak boleh gitu. Sana lihat dulu tamunya. Sana cepatan.." Ucap sang tante mendorong paksa punggung Susi agar nurut.
Dengan wajah cemberut dan kaki di hentak hentakkan, Susi terpaksa melangkah ke ruang depan membukakan pintu untuk tamu.
__ADS_1
"Mau apa kesini..? Ada urusan apa..?" Tanya Susi jutek ketika Tristan nampak di depannya setelah pintu terbuka.
Tristan yang awalnya tersenyum, mendadak mengerutkan kening mentap manik mata Susi tak percaya. Susi yang dia kenal selama ini, yang meski marah sekalipun, tak pernah berkata kasar. Hanya bersikap diam dan acuh. Tapi hari ini dia melihat Susi yang berbeda.
"Maaf saya lagi ada kerjaan.. Kalau tidak ada urusan apa apa, saya tutup pintunya.." Ucap Susi sembari berniat menutup kembali pintu rumah untuk Tristan
"Ada tamu kok gak di suruh masuk nak..?" Susi maupun Tristan terkejut dengan kehadiran bu Mila yang tiba tiba muncul di belakang Susi.
Bu Mila menatap wajah Tristan kemudian beralih menatap Susi mencoba menelisik. Susi tahu apa arti dari tatapan sang tante.
"Mari masuk.. Susi, bikinin minuman buat temannya.." Ucap bu Mila pada keduanya lalu beranjak ke arah sofa yang berada di ruangan itu.
***
Di rumah kediaman Arman, bu Mida sampai mengamuk pada asisten rumah tangga sang anak. Sebabnya hanya karena Arman terus menolak setiap masakan yang di sajikan oleh asisten rumah tangga yang baru saja dia pekerjakan.
Sejak sang ibu sudah kewalahan bergelut dengan dapur demi anaknya itu, memilih mencari asisten khusus untuk mengurus makananan Arman.
Namun hari ini tanpa melihat dan menanyakan sebab akibat sang anak menolak untuk makan, bu Mida serta merta mengamuk. Sang asistenpun hanya bisa diam.
Bahkan dirinya sendiri bingung apa yang kurang dari masakannya sehingga sang majikan membanting piring dan tidak mau menyentuh masakannya dan pergi meninggalkan meja makan menuju ruang keluarga dengan wajah penuh amarah.
"Bahkan mama yang harus repot selama aku di rawat di rumah sakit sampai aku pulang ke rumah, aku masih bisa sabar. Apa dia pergi mencari laki laki lain..?" Ujar Arman sendu
Bu Mida bingung harus menjawab apa. Di benaknya ada begitu banyak kata yang harus di susun sedemikian rupa agar menjadi sebuah kalimat indah untuk memberi alasan agar sang anak bisa percaya.
"Apa mama tahu sesuatu yang terjadi pada Ayana dan mama menutupinya dari aku..?"
Namun belum juga kalimat itu terangkai, Arman kembali melontarkan pertanyaan yang membuat bu Mida tersentak dan gelagapan.
"Ma, aku minta tolong sama mama. Tolong temui Ayana karna aku yakin mama tahu dimana Ayana dan Yuki berada. Ajak mereka pulang ma, aku sangat merindukan mereka.." Pinta Arman memohon.
Bu Mida menatap diam wajah sang anak dengan perasaan pilu. Entah harus bagaimana dan dengan cara apa agar Ayana mau menemui anaknya itu dengan kondisi yang hanya ingat akan masa lalunya.
Sedangkan Ayana kini sudah menjadi istri orang lain bahkan sudah memiliki seorang putra. Dan anak yang Arman sebutkan, yaitu anak dari pernikahannya dengan Ayana, sudah lama telah tiada akibat penyakit lupus.
__ADS_1
"Ma..? Kenapa mama diam aja..? apa mama gak dengar ucapan aku tadi..?" Tanya Arman heran ketika sang ibu hanya diam mematung
"Eh iya.. Iya mama akan coba cari Ayana dan memintanya untuk pulang.. Kamu istrahat dulu ya..? Mama pulang dulu sebentar. Nanti mama kesini lagi sama papa.." Ucap bu Mida seraya berdiri dan keluar dari kediaman sang anak tercintanya itu.
Sementara Arman hanya diam menatap kepergian sang ibu tanpa sepata katapun.
***
"Saya kesini ada maksud lain tante selain datang untuk menemui Susi.." Ucap Tristan setelah bu Mila menanyakan maksud tujuan tamu yang belum dia ketahui siapa dan ada keperluan apa datang ke rumahnya.
Bu Mila melirik ke arah Susi dengan penuh pertanyaan. Namun yang di lirik justru menatap tajam ke arah Tristan.
Sementara Tristan yang mendapati tatapan tajam dari Susi, menciut dan bungkam.
"Maaf nak. Saya belum mengerti maksud nak.."
"Tristan tante, nama saya Tristan teman dekat Susi.." Ucap Tristan mendengar bu Mila menjeda ucapannya.
"Oh iya nak Tristan.. Coba jelaskan dulu apa maksud kedatangannya kesini, biar saya paham.." Ucap bu Mila
"Saya sebelumnya minta maaf tante kalau kedatangan saya kesini sudah mengganggu waktunya.. Saya sebelumnya juga sudah pernah kesini.." Ucap Tristan melirik ke arah Susi sebentar yang kini menatap malas wajah Tristan.
"Saya sudah sampaikan pada Susi waktu itu, bahwa saya akan datang untuk menemui tante sebagai walinya disini.. Paling gak, tante kenal siapa laki laki yang dekat dengan Susi.."
"Saya disini juga menyampaikan niat saya untuk serius menjalin hubungan dengan Susi tante.." Ucap Tristan tanpa beban.
Penuturan Tristan sontak membuat Susi terkejut. Tak hanya Susi, bu Mila pun tak kalah terkejut. Bahkan bu Mila langsung menatap ke arah sang ponakan kesayangnya itu dengan penuh pertanyaan.
"Bagaimana perasaan Tio jika dia tahu soal ini.." Batin bu Mila sedih
Sementara itu, di ruangan kamar depan, Tio yang baru saja selesai mandi dan hendak keluar kamar, menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kamarnya ketika mendengar obrolan di ruang tamu.
Hatinya mendadak perih ketika suara seorang lelaki yang mengenalkan namanya sedang menyampaikan tujuannya ke rumahnya.
**BERSAMBUNG..
__ADS_1
MOHON MAAF BUAT TEMAN TEMAN YANG SUDAH LAMA MENUNGGU KELANJUTAN CERITA NOVEL YANG SAYA ANGKAT DARI KISAH KEHIDUPAN SEORANG JANDA INI DI KARENAKAN ADA KESIBUKAN YANG TAK BISA DI TUNDA.. 🙏🙏
TERIMA KASIH JUGA BUAT TEMAN TEMAN YANG SAMPAI SAAT INI MASIH DISINI, DI NOVEL SAYA INI.. DAN SEKARANG, SAYA AKAN USAHAKAN UNTUK UP LAGI.. 🙏🙏**