
"Aku pindah dari rumah Ibu ke rumah pemberian suamiku.. Aku dan mas Rayan sudah resmi menikah seminggu yang lalu.." Ucap Ayana jujur
Tangan Arman mengepal mendengar pengakuan Ayana. Matanya memerah menahan amarah. Melihat reaksi yang di tunjukan Arman, Ayana langsung bergegas pergi dari hadapan mantan suaminya itu. Dia tidak peduli lagi semarah apa mantan suaminya itu kepadanya
"Mas, ayo pulang.." Raya yang sejak tadi menahan kesal pada suaminya tidak tahan lagi dan memilih pulang
Arman tersentak dan langsung merubah ekspresi wajahnya menatap sang istri.
"Lahh kok pulang..? kan belum ke dokter..?" Tanya Rayan mecegah
"Lain kali aja mas.. Vitaminnya juga masih ada kok.. Aku mau pulang, mau istrahat.." Ucap Raya pelan
Arman yang merasa bersalah karena sudah meninggalkan Raya karena menghampiri mantan istrinya mengelus lengan Raya
"Maaf, tadi.."
"Gak apa apa mas.." Raya memotong ucapan Arman dan berjalan melewati Arman menuju pintu keluar
Sementara di luar gedung rumah sakit, tepatnya di halaman parkir, Ayana yang sedang menunggu Rayan, bertemu kembali dengan Arman dan Raya. Ayana sebetulnya salut melihat Arman yang masih dengan pakaian kantornya mau menemani mantan madunya itu memeriksakan kandungannya ke dokter. Dia ingat dulu, Arman juga melakukan hal yang sama ketika dia mengandung anaknya Yuki
"Melihat sikap dan perlakuanmu padanya, aku tau kamu sangat mencintainya mas.. Kenapa kamu masih berusaha mengejar aku..? Tidak ada cinta yang benar benar cinta jika di hatinya lebih dari satu.. Beruntung aku lepas dari kamu, dan Allah gantikan dengan yang lebih baik, mas Rayan.." Batin Ayana
"Sayang, ayo.." Ayana tersentak saat Rayan menarik pelan tangannya
Mereka berencana dinner di cafe seberang rumah sakit. Karena selama mereka menikah, Rayan belum sempat mengajak Ayana keluar meski hanya sekedar makan malam. Berhubung Kedua orang tuanya dan mertuanya sedang berkunjung, maka itulah Rayan memanfaatkan kesempatan itu. Meski saat ini Rayan dalam keadaan kurang fit
"Oh jadi benar dugaan saya waktu itu..? Kalian rupanya punya hubungan tapi pura pura di depan saya.." Celetuk Arman tiba tiba
Rayan yang kaget mendengar ucapan Arman mendadak menghentikan langkahnya dan menatap ke arah Arman yang tak jauh darinya dan Ayana berada. Rayan menoleh menatap Ayana, kemudian melangkah maju menghampiri Arman
__ADS_1
"Ada apa dengan anda..? Bukan kah anda yang sudah menyia nyiakan wanita baik seperti Ayana.. Terus kenapa anda masih ingin tau soal hidupnya..?" Celetuk Rayan menyindir Arman
Arman terbakar amarah mendengar ucapan Rayan. Tangannya mengepal ingin menghantam Arman, namun di tahan oleh Raya. Rayan pun tidak tinggal diam
"Saya ingatkan pada anda, jangan pernah lagi anda mengusik hidup istri saya.. Anda harus ingat bahwa anda ini hanyalah mantan, mantan suami yang tidak punya rasa empati pada anak kandungnya sendiri.." Tunjuk Rayan sedikit mendorong bahu Arman meluapkan emosinya
Ayana dan Raya hanya bisa diam menyaksikan perdebatan antara dua lelaki mereka itu. Hingga Rayan menghampiri Ayana dan menarik pelan pergelangan tangannya menuju tempat tujuan mereka sejak awal. Sementara Raya hanya diam menunduk lesu di samping Arman
Di tempat lain, persisnya di kamar rawat Emil, Emil sedang duduk termenung di balik jendela kamar rawatnya menatap indahnya langit malam yang bertabur bintang bintang. Matanya menampakkan kesedihan yang begitu dalam yang dia rasakan.
Seharusnya dalam kondisi sakit seperti itu, yang sangat dia butuhkan adalah kehadiran suami dan keluarganya. Namun kenyataannya dia hanya sendirian tanpa siapapun. Dia dan suaminya bertengkar hebat hanya karena ke egoisan masing masing.
Mereka merasa belum bisa saling memahami satu sama lain, sehingga pertengkaran sering terjadi di antara keduanya. Dan di saat mereka memilih memisahkan diri untuk memberi waktu pada diri mereka masing masing, di saat itu pula Emil mulai merasakan kondisi tubuhnya melemah. Kesehatannya mulai terganggu secara terus menerus hingga akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke indonesia
Dua hari sudah berlalu. Dan hari ini, tepat di dini hari di ruangan rawat Yuki, Rayan yang terbangun terlebih dahulu dari tidurnya, menoleh ke arah samping kirinya dimana sang istri sedang tidur dengan lelapnya. Rayan merubah posisi tidurnya menghadap sang istri yang begitu terlihat cantik ketika sedang terlelap seperti itu.
Rayan mengelus wajah sang istri mencoba membangunkannya meski Ayana belum bisa menunaikan sholat subuh berjamaah. Merasa terusik, Ayana mengerjapkan matanya dengan perlahan
Ayana menangkap tangan Rayan yang mengelus pipinya dan membiarkannya disana. Ayana memejamkan kembali matanya karena kantuk masih terus menyerangnya. Rayan yang tidak tega melihat istrinya masih mengantuk, menarik pelan tangannya dari genggaman istrinya berniat membiarkan sang istri melanjutkan kembali tidurnya yang terusik oelahnya. Namun Ayana justru menahannya tanpa membuka mata.
"Sayang.. Kamu tidur lagi aja.. Aku mau sholat dulu sebentar.." Ucap Rayan menatap wajah Ayana dengan lembut
Ayana membuka kedua matanya menatap sang suami yang sedang tersenyum menatapnya. Ayana kemudian menggeser maju memeluk tubuh sang suami dengan posisi wajah menempel di dada Rayan. Rayan yang terkejut mendapati sikap manja dan manis oleh sang istri yang tidak biasa itu, tersenyum bahagia mengecup kepala Ayana.
"Biarkan begini dulu sebentar.." Pinta Ayana dengan suara serak khas baru bangun
"Iya sayang.. Adzan juga belum terdengar, masih ada waktu buat manjain istri kesayanganku ini.." Ucap Rayan tersenyum menggoda Ayana
"Jangan ngegombal mas, nanti Yuki dengar bisa nyampe ke telinga dokter Mika.." Ucap Ayana pelan masih dalam mode ngantuknya, membuat Rayan tergelak membayangkan wajah sepupunya itu jika dia tahu
Sesaat kemudian suara adzan subuh mulai berkumandang. Rayan mengecup kening Ayana kemudian bergerak turun dari ranjang untuk menunaikan kewajibannya sebagai umat muslim. Ayana pun mengikuti Rayan.
__ADS_1
"Lohh sayang, mau kemana..?" Rayan mengerutkan keningnya menatap Ayana
"Mau wudhu mas.. Imamnya sudah ada, jadi mau ikut jamaah.." Jawab Ayana santai sambil menggelar sajadah untuknya dan sang suami
Rayan hanya diam menyaksikan gerak gerik istrinya. Ayana tahu suaminya tengah memperhatikannya sejak tadi, namun dia pura pura cuek. Hingga dia berjalan menuju kamar mandi untuk wudhu. Namun ketika tepat di depan Rayan, dia mengecup pipi sang suami kemudian kembali berjalan masuk ke kamar mandi
Rayan menaikan keningnya dengan kelakuan istrinya yang entah kenapa subuh ini begitu mengejutkannya. Rayan masih betah di tempatnya berdiri hingga Ayana kembali keluar dari kamar mandi setelah selesai wudhu.
Setelah mereka selesai melaksanakan sholat subuh berjamaah, Ayana meraih tangan sang suami dan mencium punggung tangannya dengan takzim. Rayan merai kepala Ayana dan mencium puncak kepalanya yang masih berbalut mukena. Saat melihat tatapan mata Ayana yang teduh, Rayan menarik tubuh sang istri masuk ke dalam dekapannya
"Sayang.. Sejak kapan kamu selesai haid..?" Tanya Rayan dengan suara pelan
"Kemarin mas.. Semalam aku udah mulai sholat.. Kenapa..?" Ayana tersenyum dalam dekapan suaminya
"Gak kenapa napa.. Aku cuma nanya aja.." Jawab Rayan
"Bukan karena ingin minta haknya..?" Tanya Ayana mengetes Rayan
Rayan tergelak. Dia mengeratkan pelukannya karena gemas pada istrinya itu
"Bukan sayang.. Ini rumah sakit, disini juga ada Yuki.. Gak mungkin aku minta hak ku disini meski kamu bersedia.." Jawab Rayan tertawa, membuat Ayana ikutan tertawa
"Oh iya sayang.. Aku mau nanya, dari mana kamu tau Emil itu mantan aku..?" Tanya Rayan kemudian
Ayana melerai pelukannya dari sang suami dan menatapnya dengan datar. Rayan melemas menyadari kesalahannya yang membahas Emil pada istrinya. Tangannya terangkat pelan mengelus kepala sang istri
"Maaf.." Ucapnya pelan
**BERSAMBUNG..
TERIMA KASIH BUAT KALIAN YANG SUDAH MAMPIR KESINI, DAN SUDAH MEMBERIKAN DUKUNGANNYA.. 😇🙏🙏💞
SEMOGA DENGAN DUKUNGAN YANG DI BERIKAN TEMAN TEMAN SEKALIAN, BISA MENJADI SEMANGAT BARU LAGI UNTUK AUTHOR BERKARYA LEBIH BAIK LAGI.. 😇🙏💞💞**
__ADS_1
JANGAN LUPA KUNJUNGI JUGA KARYA BARU SAYA DI BAWAH INI, SEMOGA SUKA DENGAN CERITANYA.. 😇🙏🙏💞