PERJUANGAN HIDUP SEORANG JANDA

PERJUANGAN HIDUP SEORANG JANDA
MENGHANGAT


__ADS_3

"Tak akan aku biarkan.." Tangis dan amarah bu Mida memuncak di depan Rayan dan dokter Haris


"Tapi maaf bu.. Dokter Rayan ini adalah salah satu dokter spesialis ahli beda terbaik di kota ini.. Beliau memang masih sangat muda, tapi keahlian dan jam terbangnya sudah sangat tidak di ragukan lagi.."


"Dan kebetulan beliau ini saat ini sudah pindah tugas di rumah sakit ini.. Saya rekomendasikan beliau untuk membantu saya melakukan operasi kedua untuk pasien atas nama Arman ini.." Jelas dokter Haris


"Tidak akan saya biarkan anak saya di operasi oleh orang ini.. Anak saya bisa bisa di bunuh sama dia.." Ujar bu Mida menunjuk Rayan dengan telunjuk sebelum kembali menatap ke arah dokter Haris.


Sementara itu. Ayana yang sebelumnya tidak tahu bahwa sang suami yang ternyata sudah berpindah tugas ke rumah sakit pelita Indah, hanya diam menyimak apa yang dia dengar dari obrolan orang orang di depannya itu dengan bingung.


Sesekali Ayana menoleh menatap ke wajah sang suami yang sedang memasang masker. Karena awalnya Rayan ingin melihat kondisi Arman atas permintaan dokter Haris itu. Batinnya tak sabar ingin mengih penjelasan pada Rayan perihal yang dia dengar tersebut.



Sedangkan pak Rizal sendiri juga hanya diam tanpa ikut menimpali sang istri. Di lain sisi dia ingin yang terbaik untuk Arman anaknya. Sedangkan di sisi lain, dia juga khawatir sama seperti sang istri.


"Yasudah.. Semua terserah ibu dan bapak.. Kami sudah melakukan yang terbaik untuk pasien.. Selebihnya kami kembalikan lagi pada keputusan keluarga pasien seperti apa.." Ucap dokter Haris pasrah.


"Tapi, perlu ibu dan bapak tahu, pasien saat ini harus segera dilakukan tindakan lanjutan.. Jika terlambat, pasien tidak akan mampu bertahan.." Imbuhnya lagi sebelum akhirnya dokter Haris pamit menuju ke ruangan pribadinya.


Bu Mida menangis sesegukan mendengar ucapan dokter Haris. Lagi lagi pak Rizal hanya bisa menenangkan sang istri dalam pelukannya.


"Mas.. Aku ingin bicara sama mas.." Ucap Ayana datar.


Melihat tatapan Ayana dan nada yang datar, Rayan sudah tahu apa yang akan terjadi. Dan dia sudah menyiapkan jawaban untuk semua pertanyaan sang istri nantinya perihal keputusannya untuk menyetujui permintaan sang Ibu untuk pindah ke rumah sakit tempat sang Ibu bertugas saat ini.


***


Susi kembali menyelesaikan pekerjaannya yang sempat tertunda. Setelah itu dia berniat kembali ke kamarnya. Namun Susi tersentak saat tanganya di tarik oleh Tio.


Dengan sorot mata yang tajam, Susi menarik tangannya dengan kasar. Tio yang menyadari bahwa Susi tidak suka, langsung terpaku.


"Aku bisa jelasin semuanya Susi.." Ucap Tio pilu


__ADS_1


"Jelasin apa..? Kan aku sudah tahu dari obrolanmu sama mama malam itu.." Ucap Susi jujur


Sontak saja perasaan Tio melemah. Dia sudah merasa seperti di todong di depan kepalanya. Tinggal menunggu pelatuk di tarik.


"Aku gak menyalahkan perasaanmu.. Tapi aku minta, tolong carilah wanita lain dan segeralah menikah.. Agar kamu gak memiliki lagi perasaan yang salah itu sama aku.." Ucap Susi lalu berbalik meninggalkan Tio menuju kamarnya.


"Andai kamu tahu Sus, perasaan ini tidak akan pernah bisa terganti. Kamu tidak akan pernah tahu seperti apa rasanya jadi aku yang berkali kali membunuh perasaan kepadamu, tapi justru sakit yang ku dapati.." Batin Tio menatap punggung Susi yang berlalu dsri hadapannya.



***


Rayan terus mengikuti Ayana dari belakang. Setibanya tempat yang sedikit privasi, Ayana membalikan badannya menghadap Rayan.


Tatapan Ayana masih datar. Rayan yang baru kali ini melihat ekspresi istrinya seperti itu selama pernikahan mereka, tersenyum geli.


Bukannya takut atau merasa bersalah, Rayan justru terlihat seperti menahan tawanya. Hal itu membuat Ayana mengerutkan keningnya bingung.


"Kalau mau ketawa ya ketawa aja.. Gak usah di tahan seperti itu.." Ujar Ayana kesal


Mendengar itu, Rayan langsung mengelus lengan sang istri dengan tatapan memelas.


"Maaf sayang.. Aku tadinya mau ngasih kamu kejutan setelah disini.. Besok hari tugasku akan di mulai disini.. Tapi ternyata dokter Haris.." Rayan tak tahu harus melanjutkan kalimat apa karena bingung memilih kata kata yang tidak menyinggung perasaan sang istri


Rayan sadar istrinya kecewa. Dengan pelan tangannya terangkat dan mengelus kepalanya. Seolah mengisyaratkan bahwa dia benar benar menghargai perasaan istrinya itu.


Sedangkan Ayana sendiri memilih diam menatap wajah sang suami. Meski kesal dan kecewa, namun dia tetap mengutamakan hubungan yang sehat. Sehingga dia mencoba untuk tetap berkomunikasi dengan baik.


"Kapan mas mengajukan pindah..? Dan apa alasan mas pindah ke rumah sakit ini..?" Tanya Ayana masih dengan nada datar dengan wajah mentap ke lantai.



"Dua minggu lalu sayang.. Alasannya setelah aku ngobrol sama mama dan papa, tentang Emil yang masih menjalankan pengobatan disana. Mama menyarankan untuk pindah, agar aku bisa menghindari pertemuan dengannya. Karena selama aku masih di rumah sakit itu, dia terus menemuiku.." Ucap Rayan dengan tatapan teduhnya.


Ada rasa yang menghangat yang hadir di hati Ayana mendengar penjelasan dari Rayan. Rayan rela pindah hanya karena ingin menjaga perasaannya dari gangguan Emil.

__ADS_1


Sementara dia sendiri tahu bahwa sejak lulus dari kedokteran, Rayan memilih rumah sakit mana yang dia impikan sejak semasa kuliahnya.


Sang Ibu pun harus ihklas ketika Rayan memilih bertugas di tempat lain. Dan hari ini, Ayana benar benar terkejut dengan apa yang baru saja dia ketahui, bahwa sang suami relah meninggalkan rumah sakit impiannya demi dirinya.


"Mas.. Kenapa harus seperti ini..? Mas kenapa gak minta pendapat aku dulu sih..? Kalau aku tahu, aku gak akan izinin mas pindah.. Terlebih hanya karena wanita itu.." Ucap Ayana menatap sendu.


Rayan tersenyum.


"Gak apa apa sayang.. Aku juga risi, makannya aku memilih keluar.." Jawab Rayan sembari mengelus pucuk kepala Ayana


Belum sempat Ayana mengucapkan sesuatu lagi untuk suaminya, mereka sudah di kejutkan dengan dering ponsel Rayan yang tersimpan di dalam saku celananya.


"Hallo dok.. Iya baik saya segera kesana sekarang.." Rayan menatap ponselnya lalu menyimpannya kembali di saku celananya kemudian beralih menatap wajah sang istri.


"Ayo.." Ucap Rayan lembut sembari menarik tangan Ayana dengan pelan.


Ayana mendadak linglung. Ada banyak kata yang berkeliaran di benaknya. Dan sesampainya di depan ruangan ICU, mata dan telinganya menangkap perdebatan antara sepasang suami istri dan juga ada dokter Haris dan Diana disana.


"Kami tidak akan menanggung resiko.. Dan jika ibu tetap tidak menyetujuinya, kami akan angkat tangan soal apa yang kemungkinan terjadi pada pasien di dalam ICU.." ucap dokter Diana pada bu Mida


"Baiklah, kami akan pindahkan anak kami ke rumah sakit yang lain.." Jawab bu Mida dengan emosinya


"Ma, sabar.. Apa mama mau Arman kenapa napa..?" Cegah pak Rizal dengan emosi


"Tapi pa.."


"Maaf.. Silaka. jika itu keinginan ibu.. Tapi jika terjadi apa apa pun, kami tidak akan mau bertanggung jawab.." Potong dokter Haris terpaksa karena greget dengan sikap angkuh bu Mida


"Maaf dok.. Saya juga tidak mau melakukan operasi pada pasien atas nama Arman. Karena sedari awal orang tuanya sudah sangat menolak saya. Saya tidak ingin mengambil resiko apapun di awal tugas saya di rumah sakit ini. Permisi, saya harus ke ruangan direktur dulu, saya sudah di tunggu sama beliau.." Ujar Rayan kemudian berlalu dengan tenang


Sedangkan Ayana hanya bisa diam dan mengikuti langkah sang suami. Sementara dokter Haris dan dokter Diana hanya bisa saling tatap satu sama lain.


"Dok, saya serahkan anak saya di tangani dokter atau siapapun yang dokter rujuk. Tolong sembuhkan anak saya.." Pak Rizal putus asa


Pak Rizal tidak peduli lagi dengan tanggapan dan protes sang istri. Dia sendiri sudah pasrah dengan apa yang terjadi. Sudah cukup lelah perasaannya.

__ADS_1


__ADS_2