
"Oh iya sayang.. Aku mau nanya, dari mana kamu tau Emil itu mantan aku..?" Tanya Rayan kemudian
Ayana melerai pelukannya dari sang suami dan menatapnya dengan datar. Rayan melemas menyadari kesalahannya yang membahas Emil pada istrinya. Tangannya terangkat pelan mengelus kepala sang istri
"Maaf.." Ucapnya pelan
Ayana tak bergeming, membuat Rayan memasang muka memelas. Ayana kemudian bangun dari sajadah dan berjalan menuju lemari pakaian untuk menyimpan peralatan sholatnya disana. Rayan mengusap mukanya merutuki dirinya yang salah ucap
"Mama.." Rayan yang mendengar rengekan Yuki bergegas menghampiri, di susul oleh Ayana kemudian
"Kenapa sayang..?" Tanya Rayan lembut
"Kenapa sayang..? Ini mama.." Ujar Ayana
"Mas..?" Ayana yang khawatir melihat Yuki yang terus saja merengek, menarik narik baju Rayan seperti anak kecil
Rayan yang sudah tahu kondisi Yuki tidak dalam keadaan baik, mengelus kepala Ayana sebentar dan beralih meraih ponselnya yang berada di atas nakas samping ranjang tempatnya dan Ayana beristrahat dan langsung menghubungi seseorang
Sesaat kemudian setelah Rayan selwsai menghubungi seseorang by phone, Rayan yang masih menggunakan sarung karena sehabis sholat subuh, bergegas mengganti pakaiannya.
"Sayang, Yuki harus kita bawa ke ruang intensif sekarang.. Mika udah menuju kesini, dokter Amanda juga udah di hubungi sama Mika.." Ucap Rayan mengelus lengan Ayana
"Mas, Yuki kenapa..?" Tanya Ayana bertambah panik
"Yuki gak apa apa sayang.. " Ucap Rayan mengecup kening Ayana mencoba menenangkannya dari kepanikan
Sesaat kemudian dua orang petugas medis pun datang dengan membawa brankar. Tanpa menunggu lama, Rayan langsung menggendong Yuki dan memindahkannya ke brankar dan mendorong cepat menuju ruangan intensif.
Sesampainya diruangan tersebut, Rayan turut serta masuk kedalam. Sementara Ayana tidak di ijinkan untuk ikut masuk meski memaksa sekalipun. Karena memang seperti itulah prosedur setiap rumah sakit
Sudah hampir 15 menit berlalu, Rayan belum juga keluar dari ruangan tersebut. Ayana semakin frustasi di buatnya. Terlihat dari jauh, dokter Amanda berjalan menuju ruangan intensif dengan terburu buru. Membuat Ayana tertunduk dalam tangis
Sejam berlalu, pintu pun terbuka dan menampakkan wajah Rayan disana. Dokter Amanda dan dua dokter lainnya juga terlihat sedang keluar dari ruangan itu. Ayana yang sudah lemas menunggu kabar anaknya sejak tadi, tak mampu lagi bangkit untuk berdiri.
"Sayang..?" Sapa Rayan lembut duduk di samping Ayana
Rayan membawa tubuh sang istri masuk dalam pelukannya. Mendekapnya erat penuh kasih sayang. Tangis Ayana pun pecah dalam pelukan sang suami
__ADS_1
"Masuklah.. Untuk hari ini Yuki harus di rawat di ruangan ini dulu.. Jika kondisinya sudah kembali stabil dan membaik, Yuki kita pindahkan lagi ke kamarnya.." Ucap Rayan menjelaskan
"Yuki kenapa mas..? Aku takut.." Ucap Ayana dalam tangisnya
"Yuki mengalami gangguan jantung.. Kita doakan saja sayang semoga Yuki bisa melewatinya dan kembali membaik.. Yuki juga sudah mulai mengalami kerontokan.. Semoga gak semakin parah.." Jawab Rayan tanpa menutup nutupi apa yang terjadi pada Yuki sambil mengecup kening sang istri yang masih berada dalam dekapannya.
Tangis Ayana semakin terdengar menyayat hati. Serasa dunianya runtuh mendengar apa yang di ucapkan oleh sang suami tentang kondisi yang di alami anaknya. Malaikat kecilnya yang selama ini menemaninya berjuang hidup setelah pisah dengan mantan suami, tengah berjuang melawan penyakit yang menyerang tubuhnya.
"Sabar sayang.." Ucap Rayan mengecup lembut kepala sang istri
"Masuklah kedalam.. Aku minta sama kamu, mulai sekarang kamu harus selalu siap apapun yang akan terjadi.. Kuatkan hati kamu mulai dari sekarang.. Bisa..? Ada aku disini yang gak akan pernah meninggalkan kalian.." Tutur Rayan mengeratkan pelukannya pada tubuh sang istri mencoba memberi kekuatan.
Ayana melepas pelukan sang suami dan menghapus air matanya dengan kedua tanganya. Ayana beranjak dari tempat duduknya dengan pelan. Rayan mencoba membantunya namun di tepis olehnya.
"Aku bisa sendiri mas.." Ucapnya pelan, membuat Rayan terpaksa duduk kembali
Dengan tertatih Ayana terus melangkah maju menuju ruangan intensif dimana Yuki berada. Dengan perlahan Ayana menghampiri Yuki yang sedang terbaring lemah disana, dengan kondisi terpasang beberapa alat medis di tubuhnya.
Ayana terhenyak menyaksikan kondisi sang anak. Tangisnya semakin memuncak
Ayana tidak dapat membayangkan apa jadinya dia jika hal buruk terjadi pada malaikat kecilnya yang tidak berdosa itu. Tangisnya pun kian menjadi histeris hingga terdengar oleh Rayan yang sengaja menunggunya di depan pintu yang sedikit terbuka. Rayan bergegas masuk menghampiri istrinya
"Sayang.. Kamu gak boleh gini sayang.. Kamu harus kuat demi Yuki.. Kalau Yuki liat kamu rapuh kayak begini, dia bisa ikutan nangis.." Rayan tak kuasa melihat istrinya yang begitu rapuh
Ayana mendongakkan kepalanya menatap wajah Rayan dengan air mata yang terus berlinang. Rayan membantu istrinya berdiri dan membawanya ke dalam dekapannya. Rayan melepas pelukannya dan menghapus sisah air mata yang masih menempel di pipi sang istri
"Kuat ya..? Kita hadapi sama sama.." Ucap Rayan mengecup kening dan kedua pipi sang istri penuh kasih.
Mika yang sejak tadi berdiri di ambang pintu, hanya diam menyaksikan suami istri itu penuh haru. Dia yang juga sudah terlanjur sayang pada Yuki pun merasakan kesedihan yang dalam
***
"Mas, Yuki udah bisa di pindahkan ke kamar ini lagikan besok..? " Tanya Ayana saat mereka baru saja selesai melaksanakan sholat isya berjamaah di kamar rawat Yuki
__ADS_1
"Iya sayang.. "Jawab Rayan mengelus kepala Ayana
Ayana menatap lekat wajah sang suami. Betapa bersyukurnya dia memiliki suami seperti Rayan. Bukan hanya mencintainya tapi juga mencintai anaknya dari pernikahannya dengan mantan suaminya.
"Mas.." Ayana tersenyum mengecup singkat pipi sang suami
Rayan yang gemas mendapat perlakuan tiba tiba dari istrinya, menangkup kedua pipi Ayana dengan tangannya dan mencium bibir Ayana lembut. Ayana kaget, namun dia tidak berusaha menolak. Membuat Rayan semakin berani memperdalam ciumannya.
"Mas.." Panggil Ayana setelah Rayan melepas pagutannya
"Iya sayang.." Jawab Rayan menatap mata Ayana
"Terima kasih sudah menjadi suami dan Ayah yang baik untuk aku dan Yuki.. Aku bersyukur di pertemukan oleh Allah denganmu mas.. Dan maafkan aku yang sempat meragukanmu di awal awal kamu mendekatiku.. Aku sayang sama kamu mas.. Aku mencintaimu.." Tutur Ayana lembut menatap wajah sang suami
Rayan bahagia mendengar ucapan cinta dari Ayana yang selama ini tidak pernah dia dengar dari bibir Ayana. Kali ini Ayana yang mencium bibir Rayan dengan lembut. Rayan tersenyum bahagia mendapat perlakuan manis itu.
"Mas.. Mas gak apa apa belum mendapatkan hak mas sebagai suami meski aku tidak lagi dalam keadaan udzur..?" Tanya Ayana hati hati, takut dia salah ucap
Rayan tersenyum mengelus lengan sang istri lembut
"Sejujurnya aku udah pengen sayang.. Aku ini lelaki normal sayang.. Setiap berdekatan dengan kamu, aku selalu menahan gejolak dalam itu dengan susah payah.. Tapi karena kondisi saat ini belum memungkinkan, Ya aku harus sabar dulu.." Jawab Rayan tersenyum menatap Ayana
"Ya Allah, terima kasih sekali lagi karena Engkau telah menghadirkan lelaki di depanku ini dalam kehidupanku dan anakku.. Terima kasih ya Allah.." Gumam Ayana dalam hati menatap mata sang suami intens
Tok.. Tokk.. Tokk..
Ayana dan Rayan tersentak karena di kagetkan dengan suara pintu yang di ketuk dari luar.. Perasaan keduanya mendadak berubah menjadi was was. Takut jikalau ketukan pintu itu berasal dari panggilan soal kondisi Yuki yang saat ini masih berada di ruang intensif.
Rayan bergegas bangkit dan berjalan menghampiri pintu.
Cekkleekk..
"Emil..?" Rayan terkejut melihat Emil dari balik pintu saat ia membukanya
**BERSAMBUNG..
TERIMA KASIH YA TEMAN TEMAN YANG MASIH TERUS SETIA MENUNGGU KELANJUTAN EPISODE NOVEL INI.. 🙏🙏💞💞
__ADS_1
DAN TERIMA KASIH JUGA SUDAH MEMBERIKAN DUKUNGANNYA.. 😇🙏💞💞**