PERJUANGAN HIDUP SEORANG JANDA

PERJUANGAN HIDUP SEORANG JANDA
AMARAH YANG MEMUNCAK


__ADS_3

"Kamu kenapa sih..? Kalau kurang suka aku berada di rumahmu, baiklah aku akan pulang siang ini juga.." Ucap Tio menatap wajah Susi lekat


Susi lantas tak bereaksi. Dia justru kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda karena Tio. Tio yang merasa di acukan, lantas bdrbalik dengan niat ingin kembali ke kamarnya.


Namun dia justru terkejut saat di ambang pintu, pak Rudin sedang berdiri disana tengah menyaksikan interaksi dia dan putrinya, Susi.


"Eh pak.." Tio bingung dan salah tingkah


Tio yakin pak Rudin menyaksikan semua tanpa terlewati. Dia merutuki dirinya yang tak memastikan kondisi rumah sebelumnya.


"Pak, ini bekalnya sudah siap.. Maaf sedikit telat.." Ucap Susi menghampiri sang Ayah dengan santainya.


Pak Rudin menyambut rantang bekalnya dari tangan sang anak kemudian pamit pada keduanya untuk ke sawah.


"Susi, aku mau bicara dengan kamu.." Tio akhirnya memutuskan untuk harus menyelesaikan permasalahan yang di antara mereka saat itu juga.


"Mau bicara soal apa..? Ngomong aja disini.. Kerjaan aku masih banyak.." Jawab Susi tanpa menoleh ke arah Tio


Tio membuang napasnya dengan kasar.


"Aku mau kamu jujur sama aku.."


"Soal apa..?" Potong Susi dengan cepat membuat Tio terdiam


"Soal sikap aku yang berubah..?" Lanjut Susi menatap Tio sekilas


"Susi.. Aku serius.." Ucap Tio melihat sikap Susi yang masih terlihat santai


Susi menghentikan pekerjaannya yang sedang menyusun perabotan dapur dan beralih menghadap Tio yang sedang berdiri di belakangnya.


"Yo.. Seharusnya aku yang mau kamu jujur sama aku.. Ada apa dengan kamu..?" Ucap Susi menatap Tio dengan serius.


Tio mendadak gugup. Dia tidak tahu harus bersikap apa dan bagaimana. Bahkan tatapan kini beralih ke arah lain. Membuat Susi tersenyun kecut.

__ADS_1


"Aku tau kenapa kamu selama ini begitu perhatian dan memanjakan aku.. Itu bukan karena kita saudaraan kan..?" Serang Susi


"Susi.. Kamu ngomong apa..? Apa maksud kamu..?" Tio berusaha mengelak.


Susi kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat terhenti karena Tio.


"Aku sudah tau semua.. Aku gak akan marah.. Tapi sikapku tergantung kejujuran kamu.." Ucap Susi memancing


Tio menunduk lemas. Mendadak perasaan malu, ragu dan cemas menghantuinya.


Tanpa mereka ketahui, pak Rudin sedang menguping pembicaraan mereka dari balik pintu dapur. Pak Rudin yang curiga ada sesuatu yang tengah terjadi di antara keduanya, sengaja tidak langsung berangkat ke sawah setelah menerima bekal dari sang anak.


Dan benar dugaannya. Bahwa sang anak dan ponakannya sedang ada masalah yang membuat keduanya harus debat.


Tio yang sudah terpojokan dengan pernyataan Susi, memilih diam. Dia tidak dapat menyembunyikan kecemasannya di depan Susi.


"Aku kasih kamu pilihan Tio.. Kamu mau jujur, atau aku yang mengungkapnya sendiri apa yang aku ketahui..?" Tanya Susi lagi menatap wajah Tio.


Di balik pintu, pak Rudin semakin di buat bingung dan penasaran apa yang sebenarnya terjadi di antara keduanya. Benak pak Rudin pun akhirnya menerka nerka dari gelagat sang anak dan ponakannya itu, meski belum bisa menyimpulkan.


Antara takut, ragu dan malu yang membuat bibirnya terkunci. Tatapannya terlihat sendu. Susi tahu Tio tidak akan berani jujur akan perasaannya. Namun dia tetap mau mengujinya.


Susi tersenyum miring masih dengan menatap Tio. Sedangkan yang di tatap dan di beri senyum demikian semakin membuat lidanya keluh.


"Kamu mencintaiku kan..?" Pertanyaan Susi membuat Tio tersentak dan melemas.


"Akhirnya kamu tahu juga apa yang aku rasakan.. Bagaimana ini..? Apa yang harus aku lakukakan..? Bagaimana kalau dia membenciku.." Monolog Tio tertunduk lesu.


Sementara itu, pak Rudin terkejut mendengar pertanyaan Susi. Jantungnya berdengup kencang seakan tak percaya. Namun karena hari pun semakin siang, pak Rudin terpaksa harus berangkat ke sawah.


Diapun berniat untuk menanyakan perihal apa yang dia dengar tadi ketika dirinya pulang dari sawah. Minimal dia sudah tahu apa yang harus dia tanyakan.


***

__ADS_1


"Ma.. Sabar.." Pak Rizal mencoba menenangkan sang istri.


Rayan menoleh ke arah pak Rizal.


"Maaf.. Kedatangan kami kesini bukan untuk mencari masalah.. Istri saya ingin menemui Arman.. Mungkin ada kesalahan, kekhilafan bahkan mungkin ada luka yang belum sembuh di antara keduanya, istri saya Ayana mau meminta maaf dan juga mau memaafkan Arman secara langsung.." Jelas Rayan panjang lebar.


Pak Rizal mengangguk mengerti akan maksud dari Rayan. Sedangkan bu Mida, dia semakin geram mendengarnya.


"Saya tidak akan mengizinkan dia menemui anak saya.. Semua ini karna gara gara dia.. Coba kalau dulu dia mau mendengarkan anak saya, pasti semua ini tidak akan pernah terjadi.." Ucap bu Mida menunjuk ke arah Ayana yang sedang berdiri di samping Rayan.


Rayan mencoba menahan emosinya saat Ayana memberinya isyarat lewat tatapannya.


"Sudah ma.. Di dalam Arman sedang berjuang.." Pak Rizal hanya bisa menenangkan sang istri


"Jangan mendustakan takdir atas kecelakaan yang menimpah mar Arman.. Ini semua terjadi karena takdirnya mas Arman sudah seperti ini.."


"Saya juga menjadi janda, tidak menyalahkan mas Arman yang membawa madunya di depan saya.. Saya menerimanya dengan lapang dada sebagai nasib saya.."


"Meski sebelumnya saya sudah memgingatkan dia akan perpisahan jika dia tetap memilih menikahi wanita lain.." Tutur Ayana dengan tenang.


Ucapan Ayana itu sontak membuat bu Mida semakin meradang. Dia tidak terima dengan apa yang di katakan oleh mantan menantunya itu.


Belum juga dia mau menyerang Ayana dengan kata katanya, tiba tiba mereka di kagetkan dengan pintu ICU yang terbuka dengan lebar.


Terlihat dokter Haris keluar bersama dua orang dokter lainnya. Namun belum juga bu Mida bertanya perihal kondisi Arman, dokter Haris justru menyapa Rayan terlebih dahulu.


Lagi lagi bu Mida di kejutkan dengan apa yang dia dengar di depan matanya itu.


Sontak dia menoleh ke arah wajah Rayan dengan perasaan yang semakin tak terkendali. Amarahnya memuncak setelah mendengar kata kata yang keluar dari mulut dokter Haris.


"Tak akan aku biarkan.." Tangis dan amarah bu Mida memuncak di depan Rayan dan dokter Haris


**BERSAMBUNG..

__ADS_1


TERIMA KASIH BUAT KALIAN SEMUA YANG SUDAH SETIA DISINI.. 🙏🙏💞💞😘😘**


__ADS_2