PERJUANGAN HIDUP SEORANG JANDA

PERJUANGAN HIDUP SEORANG JANDA
TRAUMA


__ADS_3

Merasa tidak nyaman dengan situasi yang ada, Ayana pun langsung mengiyakan ajakan suaminya untuk pulang.


"Kamu kenapa bisa sama mereka..?" Tanya Tristan kemudian setelah Ayana dan Rayan sudah beranjak pergi dari sana.


Susi berjalan melewati Tristan. Dia lantas tidak menjawab pertanyaan yang di ajukan oleh Tristan kepadanya. Merasa di cuekin, Tristan menarik paksa tangan Susi hingga Susi hampir terjatuh akibat kakinya tidak dapat menopang keseimbangan tubuhnya.


"Apaan sih..?" Bentak Susi karena terkejut.


Tristan menatap kedua manik mata Susi dengan diam.


"Lepas.. Aku mau masuk. Mau istrahat. Kamu ngapain disini..? Sana pulang.. Ini udah malam gak enak di liat orang.." Ucap Susi mengusir Tristan dengan kesal.


Merasa tidak di hargai, Tristan menatap Susi dengan tajam. Sedangkan yang di tatap tetap cuek.


Sakit hati karena mendapat tontonan gratis dari kemesraan Rayan kepada Ayana, di tambah lagi dengan sikap Susi yang mengacuhkannya, membuat Tristan geram.


"Tan, lepasin tanganku.. Sakit.." Tristan tanpa sadar mencengkram tangan Susi dengan begitu kuatnya.


Karena tidak tahan dengan rasa kesal dan semua rasa yang telah bercampur aduk di hatinya, Tristan mendaratkan ciumanannya ke bibir merah Susi.


Karena mendapati perlakuan seperti itu secara tiba tiba, Susi sampai tidak ada kesiapan menghindar sehingga Tristan dengan leluasa bermain di bibir Susi. Dengan segerah setelah tersadar Tristan terus memperdalam ciumannya, Susi berusaha mendorong Tristan sekuat tenaga hingga Tristan pun terdorong.


"Gila kamu ya.." Pekik Susi dengan kaki di hentak hentakan dengan kesalnya.

__ADS_1


Tangannya sibuk menghapus jejak ciuman Tristan sembari menatap kesal ke arah Tristan.


Susi bergegas masuk meninggalkan Tristan di depan kontrakannya namun lagi lagi percuma. Dengan cepat Tristan menahan pintu dan menorobos masuk ke dalam kontrakan Susi tersebut dan menguncinya.


Susi yang ketakutan mundur beberapa langkah dengan tubuhnya yang gemetaran. Perlahan bayangan kdr yang dia alami dulu pun muncul lagi di ingatannya. Tristan yang tidak menyadari itu, perlahan maju dan mengunci pergerakan Susi yang sudah tidak dapat lagi bergerak karena posisinya yang sudah berada di pojok ruangan.


Dengan perlahan dan lembut, Tristan kembali mendaratkan ciumannya tepat di bibir Susi. Susi sejak tadi memejamkan mata karena ketakutan. Mendengar isakan tangis, Tristan menghentikan ciumannya. Dia baru sadar Susi ketakutan saat cengkraman Susi begitu kuat mencengkram ujung lengan bajunya. Tubuhnya gemetaran.


"Sayang.. Kamu kenapa..? " Tanya Tristan panik melihat kondisi Susi.


Dengan penuh rasa bersalah, Tristan membawa Susi ke dalam pelukannya sembari terus mengelus kepala Susi penuh sayang. Namun bukannya tenang, Susi justru semakin terisak disana.


"Maafin aku.. Maaf.." Penyesalan Tristan.


***


Rayan melirik Ayana lalu kembali fokus menyetir menatap arah jalanan.


Ayana menggeser posisi duduknya dan mencium pipi sang suami. Ayana sengaja melakukannya untuk meredam kecemburuan sang suami. Rayan tetap terlihat cuek seolah Ayana tidak melakukan apa apa kepadanya.


"Iyasudah.. Pulang rumah, aku tidur sama ibu aja ya..?" Ucap Ayana tersenyum jail.


Rayan spontan menoleh menatap wajah Ayana.

__ADS_1


"Gak ada.." Jawabnya singkat


"Kenapa..?" Tanya Ayana pura pura.


"Kenapa..? Harus ada alasankah..?" Tanya Rayan mengerutkan keningnya dengan sesekali melirik ke arah sang istri.


"Hmmm mas mas.. Mas ini kalau cemburu begitu ya? ada manis manisnya.." Rayan melebarkan matanya mendengar ucapan Ayana yang terdengar konyol di telinganya.


Melihat reaksi sang suami, Ayana justru tergelak tawa sehingga membuat Rayan cemberut.


"Sayang.. Tristan itu pernah ada hubungan apa sama kamu..?" Tanya Rayan pada akhirnya.


Ayana tersenyum. Ayana senang suaminya akhirnya mau membahas apa yang mengganjal hatinya.


"Tristan teman aku mas, semasa sekolah dulu.. Rumah kita juga tetanggaan.. Tapi kami gak ada hubungan lebih selain pertemanan.." Jawab Ayana meyakinkan suaminya.


Rayan hanya diam mendengarkan jawaban dari sang istri. Bukan tidak percaya. Rayan merasa belum menemukan jawaban yang dia inginkan dari pertanyaannya.


***


Karena dengan kelembutan Tristan yang terus berusaha menenangkannya, Susi perlahan mulai bisa mengendalikan dirinya. Tangan Tristan tak henti hentinya mengelus kepala Susi sambil terus mengucapkan kata untuk menenangkannya.


**BERSAMBUNG..

__ADS_1


TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN DAN BENTUK DUKUNGANNYA DARI TEMAN TEMAN SEMUA.. 🙏🙏💞💞💞**


__ADS_2