
Arman yang merasa di ancam hanya bisa menarik nafas. Dia tahu jika terjadi sesuatu pada Rika di luar sana, Ibu dan pak RT setempat yang merupakan paman dari Rika tidak akan tinggal diam. Sebab Arman dan bu Nani telah memiliki kesepakatan hitam di atas putih sebelum Arman menikahi Rika.
"Sekarang kamu silakan pulang dan cari istri kamu.. Jika sudah tidak cinta, pulangkan dia dengan selamat dan tidak kurang dari satu apapun.." Ucap bu Nani menahan emosi.
Arman menatap wajah bu Nani dengan datar. Hatinya mendumel. Hingga akhirnya dia beranjak dari tempat duduknya dengan perasaan kesal.
"Saya permisi.. Assalamualaikum.."
Arman bergegas pergi dari rumah bu Nani tanpa mau menoleh kita bu Nani memintanya berhenti sebentar karena masih ingin menyampaikan sesuatu kepadanya.
"Kenapa kamu mau menerima lelaki ini jadi suami kamu nak.. Bukan Ibu tidak merestuimu pada waktu itu, hanya saja Ibu dan pamanmu tau kamu tidak akan pernah bisa bahagia menjadi istrinya.." Gumam bu Nani menatap punggung Arman yang semakin menjauh dari pandangannya menyusuri gang depan rumahnya.
***
Malam semakin larut. Hari dimana menjadi penutup aktivitas. Meski tidak semua insan menjadikan malam untuk istrahat karena berbagai faktor kebutuhan. Terlebih bagi mereka yang kurang beruntung dari segi ekonomi.
Hampir semua insan sudah terlelap dalam buaian mimpi. Termasuk Susi yang begitu kelelahan karena seharian penuh butik begitu ramai. Sehingga dia memutuskan untuk menginap di butik bersama karyawan yang telah menjadi asisten bos mereka.
Di lantai tiga, selain terdapat ruang pribadi Ratu Medina sang bos pemilik butik tempat Susi bekerja, juga terdapat dua kamar yang memiliki interior jepang. Sebab pemilik butik tersebut adalah memiliki keturunan jepang.
Selain nyaman dengan tempat tersebut, capek juga menjadi salah satu faktor Susi mendengkur, membuat Emi sang asisten butik berpindah kamar karena merasa terganggu oleh dengkuran Susi. Padahal kamar tersebut adalah kamar pribadinya sebagai orang kepercayaan Ratu pemilik butik tersebut.
Tristan yang sejak tadi mondar mandir di depan kontrakan Susi, merasa kesal karena Susi tidak juga mengangkat panggilan telephone nya yang entah sudah keberapa kali.
Akhirnya Tristan mengetuk pintu kontrakan tetangga Susi untuk mencari info tentang keberadaan Susi. Tristan tahu Susi tidak berada di kontrakannya sebab motor matic miliknya tidak berada disana.
Dan benar saja. Tristan mendapat info bahwa Susi belum pulang kerja. Dan dari tetangga kontrakan itu juga Tristan mendapat alamat butik tempat Susi bekerja. Susi memang sempat merekomendasikan butik Ratu Medina kepada penghuni kontrakan siapa tahu menurut Susi ada kerabat mereka yang butuh gaun. Dari situlah semua penghuni kontrakan tahu alamat butik tersebut dengan mudah.
***
Di rumah sakit, Rayan merasa sedih melihat Ayana terbaring lemah dengan selang oksigen di hidungnya. Kondisi Ayana yang baru saja stabil setelah pendarahan hebat, membuat Rayan semakin tidak tega.
Rayan membaringkan sang putra ke samping Aayna dengan sangat hati hati, agar Ayana tidak terusik dari tidurnya.
Tapi rupanya Ayana terjaga.
"Mas Rayan.." Ayana merasa seperti masih berada dalam mimpinya menatap sang suami dengan lekat.
"Iya sayang, ini aku.." Jawab Rayan tersenyum.
"Mas Rayan disini..? " Tanya Ayana masih belum yakin dengan apa yang di lihatnya.
__ADS_1
"Iya sayang.. Aku langsung pulang menemui kamu disini saat Ibu mengabari aku.." Jawab Rayan masih dengan senyumnya.
Ayana melepas alat pernapasan dengan pelan.
"Sayang udah enakan..?" Tanya Rayan memastikan.
"Sudah mas.. Obatnya udah disini.." Jawab Ayana dengan gombalannya membuat Rayan refleks mengecup bibir sang istri.
"Sayang ini anak kita sejak tadi di cuekin aja.." Ujar Rayan melirik ke arah sang putra yang tidur dengan lelapnya.
"Astaghfirullah.. Sayang, maafin mama ya..? Papa ni yang gombalin mama, jadi sedikit mengacuhkanmu.." Ucap Ayana memiringkan posisi tidurnya menghadap sang putra.
"Eh terbalik dong ma.. Mama yang gombalin papa.. Iya kan nak..?" Tutur Rayan tersenyum menoel pipi sang putra dengan gemas.
Ayana tertawa mendengar celetukan Rayan. Kebahagiaan hari ini terasa lengkap Ayana rasakan. Kehadiran keduanya sungguh sangat membuat kebahagiaannya merasa sempurna. Dalam hatinya Ayana juga berharap Yuki bahagia di sisi Allah tanpa kurang apapun.
***
Dengan kecepatan penuh, Tristan melajukan mobilnya menuju alamat yang di berikan oleh tetangga Susi. Tanpa butuh waktu lama, akhirnya Tristan pun sampai di butik yang terbilang mewah itu.
Tristan menghembuskan napas kasarnya saat melihat lampu di dalam butik sudah padam. Tristan melebarkan matanya saat melihat di salah satu ruang di lantai tiga tiba tiba menyala. Akhirnya Tristan pun bergegas turun dan memencet tombol tamu yang berada di sudut tembok pintu gerbang.
Butuh waktu lama hingga akhirnya seorang satpam pun muncul dari balik pintu gerbang.
"Maaf pak.. Saya kesini cuma mau nyari kerabat saya yang kerja disini.. Namanya Susi.. Apakah dia sudah pulang atau gimana ya pak..?" Tanya Tristan ragu namun harus dia pastikan dulu dengan jelas.
Belum sempat pak satpam itu menjawab, lampu di lantai dasarpun terlihat menyala dan tak lama kemudian tampak pintu depan butik di buka dari dalam. Nampaklah seorang wanita muda yang anggun dan cantik meski hanya memakai piyama keluar dari butik menghampiri Tristan yang nampak terpesona.
"Ada apa pak..?" Tanya Emi menatap Tristan dan pak satpam secara bergantian.
"Ini non, bapak ini mau nyari karyawan yang namanya Susi non.." Ujar pak satpam.
Emi menatap wajah Tristan penuh selidik. Membuat Tristan merasa risih.
"Anda siapanya Susi..?" Kenapa Nyari Susi kesini..?" Tanya Emi ingin tahu apa tujuan Tristan.
Emi tidak ingin mengambil resiko. Sebab di jaman sekarang, kejahatan ada dimana mana tanpa mengenal tempat dan waktu. Bahkan pencurian dengan kedok berkunjung sebagai tamu pun kemungkinan bisa saja terjadi. Sehingga Emi terus mengintrogasi Tristan.
"Saya kerabatnya.. Jika dia ada di dalam, tolong sampaikan saya ingin bertemu.. Nama saya Tristan.." Jawab Tristan dengan lantang.
Emi sempat melirik ke arah jalan depan pintu gerbang. Hatinya yang ragu akhirnya lulu melihat mobil yang di gunakan Tristan. Emi akhirnya meyakini Tristan bukan seorang yang berniat jahat disana.
"Baiklah anda boleh masuk. Tapi maaf, anda hanya boleh duduk di pos satpam saja.." Ucap Emi, membuat Tristan lega.
__ADS_1
"Keren juga si Susi.. Di hampiri cowo dengan mobil mewah di malam larut begini.." Gumam Emi tersenyum geli sembari berjalan menuju kamar dimana Susi berada.
Lima belas menit berlalu, Emi terlihat berjalan menghampiri pos satpam.
"Maaf mas, Susinya tidak mau bertemu dengan anda.. Katanya anda silakan pulang saja.." Ucap Emi menatap wajah Tristan.
"Pak, saya titip uang ya..? Nanti kalau ada ojek yang datang nganterin makanan, tolong anterin ke dalam ya pak.." Ucap Emi menyerahkan uang pecahan seratus tiga lembar pada pak satpam.
"Maaf mbak.. Apa saya boleh menemui Susi..? Saya benar benar harus ketemu soalnya.. Ada sesuatu hal penting yang harus saya sampaikan sekarang.." Ucap Tristan sedikit berbohong dan memaksa membuat Emi dan pak satpam saling lirik satu sama lain.
"Saya mohon mbak.. Tolong ya..? Saya pastikan tidak akan terjadi apa apa.. Ini KTP saya kalau kalian ragu.." Tutur Tristan menyerahkan KTPnya pada satpam.
Pak satpam pun akhirnya memberi isyarat anggukan kepada Emi.
"Iya sudah.. Mari ikut saya.." Ucap Emi datar sembari melangkah masuk ke dalam butik.
"Silakan.. Susi ada di dalam, dia sedang tidur.. Maaf, pintunya jangan di tutup.. Biar bagaimana pun, kalian bukan sesama jenis.." Ucap Emi mengingatakan saat mereka sudah sampai di lantai tiga, di depan pintu kamar.
"Iya, saya mengerti.." Ucap Tristan menatap Emi
Emi lantas langsung melangkah menuju kamar sebelah. Begitu pun dengan Tristan, dia langsung membuka lebar pintu kamar tempat Susi berada.
"Ni anak.. Kalau sudah tidur, pasti kayak kebo.. Kangen juga rasanya kalau sudah lihat wajah polosnya saat tidur begini.." Gumam Tristan pelan.
Tristan melangkah masuk dengan perlahan. Tristan duduk bersujud menghadap Susi yang sedang terbaring tidur. Susi yang merasakan ada sentuhan di lengannya, dengan berat Susi membukan matanya.
"Kenapa kamu menghindariku..?" Susi terkejut melihat Tristan di depannya saat matanya terbuka dengan sempurna.
"Kamu..? Kamu ngapain disini..?" Pekik Susi dengan keterkejutannya.
Tanpa menjawab, Tristan langsung memeluk Susi dengan erat seakan meluapkan kerinduannya uang sudah beberapa bulan tidak pernah bertemu bahkan hanya sekedar berkabar.
Tanpa tahu apa maksud dari pelukan Tristan, Susi perlahan mengangkat tangannya membalas pelukan Tristan meski ragu.
"Maafkan aku.." Sebuah kata yang keluar dari mulut Tristan yang membuat Susi merasa bingung dan aneh dengan sikap Tristan tersebut.
**BERSAMBUNG..
TERIMA KASIH BUAT TEMAN TEMAN YANG SUDAH MAMPIR DISINI.. PART KALI INI SENGAJA SAYA BANYAKIN UNTUK KALIAN SEMUA.. 🙏🙏💞
TERIMA KASIH JUGA ATAS BENTUK DUKUNGANNYA.. 🙏🙏💞💞💞**
__ADS_1