PERJUANGAN HIDUP SEORANG JANDA

PERJUANGAN HIDUP SEORANG JANDA
SEBUAH PERJUANGAN


__ADS_3

"Oh, iya.. Terima kasih.." Ucap Rayan gagap karena tersadar dari lamunannya tentang Ayana istrinya


"Bu, Ibu sekarang dimana..?" Tanya Rayan panik bercampur khawatir saat menerima kabar dari Ibu mertuanya tentang Ayana.


"Ibu sekarang sudah di rumah sakit.. Papamu juga udah disini.. Tapi Ayana masih di dalam ruang bersalin.." Jawab bu Lela di seberang sana.


"Baik bu.. Aku akan segera pulang.. Tolong kabari terus ya bu..?" Ucap Rayan mengakhiri obrolannya dan sang mertua.


Rayan bergegas menemui kepala bagian untuk izin pulang terlebih dahulu. Rayan menceritakan kondisi Ayana untuk alasannya pulang. Dan semua yang terkait dalam misi kemanusiaan di desa terdampak bencana pun memaklumi dan mengizinkannya pulang.


"Bro, semangat ya..? Semoga istri dan calon bayinya selamat.. Hati hati di jalan.. Ingat disana ada keluarga yang menanti kedatanganmu.." Tutur Alfian teman sekelas Rayan sewaktu kuliah dulu, dan kini di pertemukan kembali di desa itu.


"Iya bro.. Makasih ya..? Aku berangkat dulu, salam buat yang lain.. Assalamualaikum.." Rayan pun bergegas keluar barak menghampiri abang ojek yang siap mengantarkannya ke terminal.


Dengan perasaan yang kalut, Rayan rasanya tidak sabar lagi ingin segera sampai ke rumah sakit dimana istrinya sedang berjuang mempertaruhkan nyawa untuk calon buah hati mereka.


Sementara di rumah sakit, bu Lela dan pak Sultan tak kalah khawatir menunggu kabar dari dokter Retno dari dalam ruang bersalin. Keduanya duduk di bangku depan ruangan itu dengan perasaan dan pikiran mereka masing masing. Mereka mendoakan semua baik baik aja dengan cara mereka masing masing.

__ADS_1


"Assalamualaikum.. Pah, Ibu.. Gimana keadaan Ayana..?" Bu Lela dan pak Daud refleks berdiri melihat Rayan tengah berdiri di depan keduannya dengan raut wajah penuh kekhawatiran.


"Waalaikumsalam.." Jawab keduanya secara bersamaan.


"Alhamdulillah anak kalian lahir dengan selamat.. Dia juga sehat meski terlahir secara prematur.. Sekarang masih di ruangan bayi.." Ucap pak Sultan menepuk nepuk bahu Rayan dengan senyum simpul.


"Ayana masih di dalam.. Dia pendarahan setelah bayinya lahir.. Mama kamu masih menanganinya, sampe sekarang belum keluar.." Sambung bu Lela dengan nada gemetar.


Rayan melepas ransel di pundaknya dan bergegas menghampiri pintu ruangan dimana Ayana sedang berjuang hidup di dalam. Meski Rayan seorang dokter, tapi bukan berarti dia menerobos masuk meski istrinya sedang kritis di dalam sana. Rayan tetap menjalankan aturan yang ada. Sebab dia bukanlah dokter yang bertugas di rumah sakit tersebut.


Kini Rayan baru sadar apa alasan sang Ibu sewaktu dulu memintanya untuk pratek di tempat yang sama dengan beliau. Inilah alasannya. Mereka bisa bekerja bersama untuk keluarga mereka kelak.


"Yan, papa mau bicara sebentar.. Tapi ke mushola aja biar kita sekalian nunggu sholat magrib disana.." Pak Sultan yang melihat Rayan sudah seperti anak ayam kehilangan induknya, dengan penuh kelembutan mengajak sang anak untuk beribadah bersama agar sang anak tenang.


"Aku mau liat bayiku dulu pah.. Siapa yang adzanin pah..?" Ucap Rayan menghampiri pak Sultan dan bu Lela.


"Papa yang adzanin.. Anak kamu seorang pangeran yang pengertian nak.. Dia lahir dengan cepat tanpa harus membuat Ibunya berlama lama menahan sakit.." Ujar pak Sultan tersenyum

__ADS_1


Rayan terharu mendengar ucapan sang Ayah.


"Anak kamu sangat mirip dengan Yuki.. Kerinduan Ayana pada Yuki pasti akan terobati dengan kehadiran anak kalian.." Bu Lela menangis terisak terkenang akan Yuki yang telah tiada.


Rayan menghampiri dan memeluk erat bu Lela. Rayan terus menenangkan Ibu mertuanya itu dengan penuh perhatian.


Di suatu tempat, Susi yang sibuk bekerja di butik milik Ratu sejak di rekomendasikan oleh Ayana, kini semakin sibuk dengan aktivitas barunya itu sejak tiga bulan terakhir.


Sejak dia bekerja di butik, pikiran dan perasaannya kepada Tristan mulai terlupakan. Kesibukan rupanya membuat Susi lupa akan kesedihan dan kekecewaan yang tumbuh dalam hatinya karena cinta.


Sedangkan Tristan, berbulan bulan disibukan dengan kerjaan di perusahaan milik keluarganya bersama sang paman dengan sebuah target akhir tahun. Sehingga tidak ada waktu buatnya bersantai seperti sebelumnya.


Di depan ruangan khusus bayi, Rayan menatap lurus dengan lamunannya.



Pikirannya melayang akan Ayana sang istri telah berjuang demi anaknya, sungguh membuat hati Rayan teriris teringat akan dulu perjuangan hidup Ayana sebagai seorang janda. Apapun dia lakukan untuk anaknya Yuki, dan betapa kejamnya laki laki yang mengatas namakan suami tapi dengan tega menyakiti hati istrinya.

__ADS_1


**BERSAMBUNG..


TERIMA KASIH BUAT TEMAN TEMAN SEMUA YANG UDAH HADIR DISINI.. 🙏🙏💞💞**


__ADS_2